
Mobil Mommy Nathalie memasuki mansion Pratama, dengan langkah kesal Mommy Nathalie meninggalkan Fyth sendiri didalam mobil. Melihat tingkah Mommy-nya membuat Fyth geleng kepala, harusnya disini ia yang kesal bukan Mommy-nya. Fyth menuruni mobil dengan bibir mengerucut, perlahan dirinya melangkah menuju pintu utama. Belum sempat mencapai pintu, Fyth mengerutkan keningnya melihat mobil Tama berada di garasi mansion.
"Itukan mobil si timi, ngapain diparkir disitu? Jangan bilang itu orang bakal nginap disini." Dengan langkah cepat Fyth segera masuk ke dalam mansion menuju ruang keluarga. Benar saja, disana semua orang telah berkumpul baik Daddy Barack, Mommy Nathalie, Kak Raffa, dan Tama tentunya.
Tama melambaikan tangannya ke arah Fyth dengan muka menyebalkan, seolah berkata "Aku datang bontot, bersiaplah harimu takkan tenang."
Mendapat sinyal permusuhan dari Tama membuat Fyth mendelikkan matanya sesaat, sebelum berganti dengan senyum smirk-nya. Melihat sepupunya tersenyum demikian membuat Tama begidik ngeri, perasaannya menjadi tidak tenang. "Kayaknya gue yang harinya bakal nggak tenang," monolog Tama dalam hati.
Melihat sedikit ketakutan di wajah Tama semakin membuat jiwa usil Fyth meronta, dengan langkah santai Fyth mendudukkan tubuhnya di sebelah Daddy Barack. Ditatapnya semua orang satu persatu, tak lama pandangan Fyth tertuju pada sebuah koper di depan kamar tamu.
"Koper siapa tuh, mau di lempar ke pasar loak ya?" Celetuk Fyth begitu saja. Mendengar ucapan sepupu tengilnya, sontak Tama membulatkan matanya. "Enak aja, itu koper gue main loak-loak aja." Sungut Tama.
"Kirain, lagian ngapain itu koper lue disini? Jangan bilang mau tinggal disini?" Tanya Fyth dengan senyum seringainya, karena jika benar demikian maka Fyth akan mempunyai teman untuk di bully setiap harinya.
__ADS_1
"Iya gue tinggal disini, sampai bonyok balik dari LN,"
"Biasanya mapa di LN juga, lue tinggal di apartemen sendiri." Sindir Fyth.
"Apartemen gue habis kena angin topan," jika mengingat tentang apartemennya membuat Tama kesal, gara-gara kucing peliharaan apartemen sebelah yang masuk ke tempatnya, kini apartemennya seperti kapal pecah. Harus di bersihkan karena banyak pecahan guci dan barang lainnya.
"Sayang, sudah. Tama akan tinggal disini bersama kita, sekarang mari bahas tentang pernikahan kakakmu, Raffa dan Anila yang akan di lakukan satu minggu lagi." Sela Mommy Nathalie.
"What? Karaf mau kawin? Seminggu lagi?" Ucap Fyth terkejut.
"Haduh dad, itu..... Kelamaan. Kenapa tidak tiga hari lagi saja kak?" Dialihkan tatapan mata Fyth menuju sang kakak, Raffa.
"Mau kakak juga gitu, tapi Anila menolak karena persiapan pernikahan juga akan membutuhkan waktu." Ujar Raffa.
__ADS_1
"Ahh pemikiran Anila bagus juga ternyata," kata Fyth cekikikan.
"Jadi kau mau konsep seperti apa Raf?" Tanya Mommy Nathalie akhirnya.
"Pantai mom,"
"Musim penghujan dan cuaca tak menentu," sahut Daddy Barack.
"Lalu apa kita booking hotel saja dad,mom?" mengingat ia harus mempersiapkan semua diawal.
"Lakukan yang menurutmu bagus nak, Mommy ikut saja nanti" kata Mommy Nathalie.
Lama berbincang-bincang membuat mereka tak menyadari jika waktu makan malam akan segera tiba. Semua orang bubar, Fyth segera berlari menuju kamar. Seperti biasa, Fyth memilih duduk di meja belajar, seraya menatap fotonya saat kecil bersama Tama sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
__ADS_1
Didalam kamar tamu, Tama merebahkan tubuhnya di atas ranjang seraya menatap langit-langit kamar. Pikirannya jauh menerawang kedepan mengingat masa kecilnya bersama Fyth. Larut dalam lamunan membuat Tama perlahan menutup matanya menuju alam mimpi.
Sekian menit Tama terlonjak dari tidurnya seraya berteriak, "Tidak.......