Se Anting

Se Anting
Bab 34


__ADS_3

Sementara di kediaman Pratama, Tama terus saja mengikuti kemanapun Fyth berada. Kemarahan sepupunya sungguh membuat dirinya kalang kabut, bagaimana tidak, jika misi untuk meminta bantuan tentang Indri belum terlaksana.


Menyadari Tama yang terus mengikutinya membuat Fyth risih sendiri akhirnya. Dengan berkacak pinggang dibalikkan tubuhnya menghadap Tama.


"Kau ini kenapa? Mengapa mengikuti terus? Belum cukup pukulanku tadi hah," hardik Fyth.


"Bontot jangan marah, untuk yang masalah tadi aku mengaku salah. Tapi sungguh aku butuh bantuan," mohon Tama.


Fyth hanya menyipitkan matanya melihat Tama, alih-alih menjawab justru berbalik pergi menuju lemari pendingin mengambil puding. Tama yang melihat Fyth pergi segera mengikutinya kembali.


Dengan satu piring puding berbagai rasa ditangannya, Fyth berjalan menuju ruang santai untuk menonton film. Seperti anak ayam, Tama terus menempel pada Fyth.


Merasa diabaikan oleh sepupunya, Tama mengambil satu puding dari piring Fyth dan memakannya dengan harapan semoga sepupunya mau membuka suara. Namun sayang, Fyth tetap diam. Tak kehabisan akal, diambilnya remote di atas meja lalu mengubah chanelnya. Diliriknya Fyth, tetap diam sambil memakan pudingnya.


Tama mengacak rambutnya seraya menghembuskan napasnya kasar, bagaimana caranya agar sepupunya mau berbicara. Raffa yang melihat dari kejauhan hanya menggelengkan kepalanya, ia lupa memberitahu Tama, jika adiknya sudah ngambek akan susah untuk dibujuk.


Tak menyerah Tama terus saja mengajak Fyth untuk berbicara, bahkan kini sudah duduk tepat disampingnya.


"Bontot, jangan diam aja dong. Masih marah lue sama gue. Beli permen yuk," bujuk Tama yang tetap diabaikan oleh Fyth. "Gini deh, lue mau apa aja gue turutin asal mau ngomong dan bantuin gue." Lanjutnya. Namun sayang, Fyth tetap diam tak menoleh bahkan lebih fokus memakan puding.


Raffa yang kasihan melihat Tama berjalan mendekat, lalu menepuk bahu Tama pelan. Dengan isyarat mata mengajak Tama menuju meja makan. Tama menurut lalu mengikuti langkah Raffa.


"Kak, kenapa si bontot susah sekali bujukannya?" Tama mendudukkan tubuhnya dengan kasar di kursi meja makan.


"Aku lupa memberitahumu, jika adik tengil-ku itu sekali ngambek akan susah bujukannya. Lagian salahmu, kenapa kau menganggu singa yang sedang mengumpulkan nyawa," ucap Raffa dengan meminum kopinya.


"Aku mana tahu kak, lalu aku harus bagaimana kak? Aku butuh bantuan si bontot kak," cicit Tama.


"Bantuan apa?" tanya Raffa penasaran.

__ADS_1


"Indri kak, dia tak mau mengangkat telpon-ku. Bahkan memblokir nomorku kak," jelas Tama akan permasalahannya.


Raffa menaikkan sebelah alisnya heran, pasti ada sesuatu yang terjadi. Mungkin tanpa Tama sadari, ia telah membuat kesalahan sehingga Indri bersikap demikian. Baru Raffa akan mencercanya, Daddy Barack datang lalu ikut duduk di meja makan.


Kening Daddy Barack mengkerut melihat keduanya terdiam, lalu membuka suara.


"Ada apa?", tanya Daddy Barack.


"Nothing Dad, dimana Mommy?" Raffa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Di halaman belakang, berkumpul dengan para pelayan." jawab Daddy Barack. "Tam, kapan papa dan mamamu pulang dari luar negeri?", Lanjut Daddy Barack menatap Tama.


"Belum tahu om, Pama suka sekali tinggal disana," jawab Tama apa adanya.


Mendengar jawaban Tama, Daddy Barack menganggukkan kepalanya. Tak lama pandangan ketiganya teralihkan oleh gadis yang berjalan menuju wastafel menaruh piring bekas pudingnya. Lalu beralih menuju rak lemari membawa semua camilan menuju kamarnya.


Melihat tingkah Fyth sontak ketiganya menggelengkan kepala bersamaan, lalu kembali melanjutkan obrolan mereka.


Fyth melempar semua camilannya ke atas ranjang beralih menuju walk in closet mengambil tas mininya. Dimasukkan semua camilan ke dalam tas tanpa terkecuali.


"Hehehe, lusa udah camping. Si ikan nila sama gethuk lindri udah siap-siap belum ya? Telepon dulu deh." Fyth meraih ponselnya di atas meja rias lalu melakukan panggilan video dengan kedua sahabatnya.


Lama tak terjawab membuat Fyth menggerutu sendiri karena kesal, di ulangnya panggilan kembali hingga panggilan ke empat baru tersambung.


"Halo sayang," sapa Anila dan Indri bersamaan. Bukan menjawab justru Fyth mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa itu bibir, minta ku tarik ya?", Sontak ucapan Anila membuat Indri tertawa membuat Fyth semakin kesal.


"Kalian keterlaluan, lihat! sudah ratusan panggilan ku lakukan tak kunjung jua kalian jawab." ucap Fyth mendramatisir keadaan.

__ADS_1


"Hey, ratusan apa? Baru juga 3 kali panggilan tak terjawab." Dengus Indri.


"Lebay!" Pekik Anila membuat Fyth terbahak.


"Hahaha, aduh perutku kram, hahaha." Fyth semakin terbahak-bahak.


"Dasar pyth.ak." ucap kesal Anila dan Indri bak paduan suara.


"Apa? Ikan nila dan gethuk lindri," ejek Fyth kembali.


"Pyth.ak." teriak Anila dan Indri bersamaan semakin membuat Fyth terbahak-bahak hingga guling-guling di atas ranjangnya.


"Ku matikan nih teleponnya," kesal Indri.


"Iya, kita matikan aja yuk Ndri." Imbuh Anila.


"Eh eh, enak aja main matikan. Gimana persiapan kalian buat camping lusa?", tanya Fyth.


"Aku belum," kata Indri.


"Aku juga," sahut Anila.


"Aku aja dong yang sudah, payah kalian." ejek Fyth.


"Ck! Memang apa yang kau bawa?" Tanya Anila sebal.


"Satu tas...", Ucap Fyth dengan nada serius membuat Anila dan Indri penasaran.


"Tas apa?," Indri tak sabar mendengar lanjutan ucapan Fyth.

__ADS_1


"Tas camilan dong." Mendengar jawaban nyeleneh Fyth membuat Anila dan Indri menepuk keningnya bersamaan. Lalu berkata bersama, "Pyth.ak bontot ngeselin!".


Bukan marah justru Fyth kembali tertawa, Anila dan Indri menggelengkan kepalanya melihat tingkah absurd sahabatnya satu itu.


__ADS_2