
Kini semua telah berkumpul di meja makan, Fyth menatap hasil omelette nya dengan datar. Bentuk omelette tak karuan bahkan hangus terlihat hitam. Fyth mencebikkan bibirnya kesal, dipotongnya sedikit lalu menarik Raffa mendekat.
"Karaf, coba terlebih dahulu." Fyth menyuapkan sepotong omelette hangus ke dalam mulut Raffa tanpa menghiraukan penolakan Raffa. Sontak Raffa memuntahkan makanan yang ada di mulutnya, rasanya sangat-sangat asin sekali.
"Sekarang giliran kalian berdua," Fyth memotong dua bagian kecil.
Tidak, mendengar ucapan Fyth yang akan menyuapi mereka sontak Tama dan Davin menolak dengan keras. "No sayang, jangan lakukan itu." Mohon Davin dengan memasang wajah sedihnya.
"Bontot please, jangan lakuin itu. Gue lihat aja udah pengen muntah." Tama bicara secara blak-blakan mengabaikan tatapan tajam dari lainnya.
"No, kalian juga harus rasakan. Bukankah ini hasil masakan kalian? Ah, dimana Daddy?" Fyth menatap sekeliling namun tak menemukan keberadaan Daddy-nya.
"Dad sedang meeting dengan investor LN sayang," jawab Mommy Nathalie seraya mengelus rambut putri kesayangannya itu.
"Oh," Fyth mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. "Ayo, kalian berdua mendekat!" Lanjutnya.
__ADS_1
"Tidak!" Teriak Davin bersamaan dengan Tama.
*
*
Malam begitu dingin, Indri menatap gelapnya langit. Terdengar beberapa kali hembusan nafas kasar keluar dari mulutnya. Pikirannya menerawang jauh membayangkan pertemuan tak terduga dengan masa lalunya.
Masih teringat jelas dalam benaknya saat perpisahan mereka dahulu, dimana ia harus merelakan sang kekasih pergi mengejar impiannya ke luar negeri. Bahkan tanpa disadarinya, itulah awal kerenggangan hubungan diantara mereka.
"Leon..." Ucap Indri lirih.
Pertemuannya siang itu membuat Indri kembali mengenang masa lalu. Rindu dan benci bercampur menjadi satu, namun tak dapat Indri pungkiri jika hatinya tetap tersemat nama itu sampai saat ini.
"Kenapa kamu kembali disaat seperti ini, Le? Andai kau tahu, sampai detik ini aku masih mencintaimu." Indri kembali menatap langit malam tanpa bintang.
__ADS_1
"Aku berusaha melupakanmu, Le. Namun entah mengapa aku tak bisa, aku menjalin hubungan dengan yang lain berharap rasa ini mati. Tapi apa? Nyata bayanganmu tak jua pergi. Bahkan aku dan Tama sama-sama saling menyakiti akan sebuah rasa yang kami tak pernah saling miliki." Helaan nafas kembali terdengar.
Kedinginan mulai menyapa tubuh Indri, tak ingin berlama-lama terkena angin malam, ia memutuskan masuk kedalam kamar untuk tidur. Baru saja Indri akan menaiki ranjangnya, suara dering ponsel terdengar nyaring di atas nakas. Dengan perasaan kesal Indri meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelepon malam-malam seperti ini. Mata Indri membulat saat mengetahui siapa biang kerok yang mengganggunya. Digeser tombol hijau segera seraya menggerutu kesal, "Hall...oo" ketus Indri.
"Buset, galak amat. Pms ya?" tanya Fyth dengan tertawa, karena ia tahu jika Indri saat ini sedang kesal. Bagaimana tidak, ia menelepon pukul setengah dua belas malam.
"Udah malam bontot, ngapain telpon jam segini sih?"
"Cuma mau ingetin aja kok, besok kita ikut Anila buat ke butik. Anila fitting baju sama karaf, lalu kita fitting baju buat bridesmaid."
"What? jadi bridesmaid? Kita?" ucap Indri terkejut.
"Iyalah, kalo bukan kita siapa lagi. Udah tidur sana, besok di jemput."
"Lah, lue nyuruh tidur, emang lue gak tidur juga?"
__ADS_1
"Laper, lagi bikin mie instan. Duh, mie gue kematangan lagi. Udah ya dadah." tanpa menunggu jawaban Indri, sambungan telepon sudah Fyth matikan terlebih dahulu. Indri yang melihat sambungan telepon telah berakhir sontak mengumpat kesal.
"Dasar bontot menyebalkan." teriak Indri sebal.