Se Anting

Se Anting
Bab 48


__ADS_3

Kini Tama dan Fyth berdiri menatap hamparan lautan luas tanpa suara, keheningan menyelimuti keduanya. Bahkan berkali-kali Fyth membuang kasar nafasnya, hal tersebut tak luput dari lirikan Tama yang berdiri disampingnya.


Baik Tama maupun Fyth, tak ada yang memulai pembicaraan. Hanya suara deru ombak dari kejauhan yang mengisi kekosongan.


Lama saling terdiam membuat Fyth membalikkan tubuhnya ke arah Tama. Di pandangnya sosok lelaki tegap di depannya kini. Fyth mencoba menelisik apa yang sedang di pikirkan Tama saat ini. Hingga Tama merasa risih, lalu mengangkat tangannya dan mengusapkan ke wajah Fyth.


"Kedip bontot," goda Tama.


"CK!, Tangan lue bau Timi." Kesal Fyth. Namun Tama hanya terkekeh.


Fyth menarik tangan Tama untuk mengikutinya, tanpa kata pemuda berparas tampan itu membiarkan apapun yang di lakukan gadis berstatus sepupunya tersebut.


Hati Tama menghangat saat tangannya di genggam oleh gadis yang dicintainya. Mungkin untuk sesaat saja, ia ingin waktu berhenti berjalan dan biarkan dirinya menikmati kebahagiaan ini.


Di tepi pantai Fyth menghentikan langkahnya lalu melepas tangan Tama. Dengan sedikit berlarian di tepi pantai, Fyth berkata kepada Tama dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


"Timi, lue inget nggak? Dulu waktu kita kecil, buat pertama kalinya kita pergi ke pantai bersama nenek dan kakek. Saat itu, lue pernah bilang ke gue, kalo lue bakalan jagain gue. Lue masih ingatkan?" Tanya Fyth dengan menatap Tama dari jarak 2 meter.


Tama menganggukkan kepalanya, "Iya gue inget bahkan selalu inget."


Mendengar jawaban Tama, segera Fyth berjalan perlahan menuju tempat Tama berdiri. Sementara di balik pohon, Davin serta Raffa, Anila dan Indri mengintip dari jauh. Sejak pemantauan dari awal, Davin terus menggerutu melihat gadisnya dekat-dekat dengan Tama yang ternyata sepupu angkat saja.


"Menyebalkan, apa harus sedekat itu. Jauh dikit kenapa, awas ntar ya." Gerutu Davin yang mendapat gelengan kepala dari ketiganya.


Setelah sampai didepan Tama, dengan menarik nafasnya, Fyth berbicara kepada Tama dengan lembut.


"Gue ada emang buat jaga lue bontot," lembut Tama seraya mengusap kepala Fyth.


"Lue bohong, gue nggak mau lue terluka lebih dalam lagi." Imbuh Fyth.


"Gimana kalo gue ternyata jatuh cinta sama lue?" Tanya Tama intens.

__ADS_1


Bukan menjawab justru Fyth tertawa terbahak-bahak. "Lue tahu kenapa gue nggak pernah mau memandang lebih hubungan antara kita. Karena gue sadar, yang lue rasain dalam hati itu cuma rasa kagum terhadap gue." Ucap Fyth seraya menunjuk ke arah dada Tama.


"Sejak kapan lue tahu?"


"Gue bukan orang bodoh yang gak tahu kalo ada orang yang suka sama gue. Lagian perhatian yang lue kasih ke gue, itu udah cukup buat isyarat." Fyth kembali menghadap deburan ombak yang saling menggelung begitupun dengan Tama.


"Lue tahu, sejak kecil kita selalu bareng. Inget nggak? Waktu pertama kali gue menginjak mansion Om Barack, dari semua orang yang ngajak gue ngomong, cuma lue yang bisa membuat gue bicara untuk pertama kalinya."


Fyth menganggukkan kepalanya mendengar cerita Tama, karena apa yang di katakan olehnya benar adanya.


"Sejak saat itu kita dekat, bahkan kita satu sekolah walau beda tingkat. Ingat saat lue di bully genk nya Rieka, saat itu gue marah bahkan gue gak terima kalo ada yang nyakitin lue. Ketika itu gue sadar kalo hati gue memiliki perasaan lain sama lue. Hingga lulus SMA, gue bahkan jadi cowok pengecut karena gak berani ungkapin perasaan gue. Akhirnya gue memilih buat ikutin jejak kak Raffa ke luar negeri buat hilangin rasa ini. Tapi gue sadar, bener apa kata lue. Mungkin gue hanya kagum dengan sikap keceriaan lue." Tama menatap Fyth seraya tersenyum begitupun dengan Fyth.


"Gue yakin, lue pasti bakalan dapetin orang yang lebih dari segalanya buat lue sayangin kelak." Fyth menepuk bahu Tama pelan.


Baru saja Tama merentangkan tangannya untuk memeluk Fyth, Davin sudah berdiri dibelakangnya seraya memukul kepalanya.

__ADS_1


"Nggak ada peluk-pelukan, sana cari cewek lain." Davin segera menarik Fyth dalam pelukannya, sedangkan Tama mendengus kesal melihat posesifnya Davin.


__ADS_2