
Sorakan meriah memenuhi ballroom hotel Pratama, kemeriahan pesta pernikahan Raffa dan Anila membawa kejutan serta kebahagiaan tersendiri bagi seluruh keluarga besar. Tak khayal hiburan pun datang dari aksi nyeleneh Fyth dan Tama, bagaimana tidak, sejak datang keduanya ribut tiada henti. Keduanya berebut untuk menyanyi diatas panggung sebagai pembuka di mulainya acara.
"Enak aja, gue yang nyanyi Timi. Nggak mau tahu pokoknya," ucap Fyth seraya berkacak pinggang.
"Nggak bisa dong, gue yang lebih tua. Ngalah!" Sungut Tama.
"Ngaku juga, karena udah tua harusnya lue duduk tenang di pojok."
"Harusnya yang muda ngalah,"
"Ogah, nggak ada hubungannya sama tua muda. Udah tahu tua bukannya duduk manis nunggu jodoh lewat,"
"Wah minta gue piting ini anak," Tama menjepit kepala Fyth di ketiaknya. Sontak aksi keduanya mengundang tawa bagi semua yang melihatnya.
"Aaa... Timi, lepasin. Rambut gue berantakan ini," Fyth mencubit pinggang Tama dengan brutal.
"Aduh, aduh, aduh... Sakit bontot!" Tama mendelik tajam menatap Fyth.
Tanpa menghiraukan tatapan tajam Tama, dengan kesal Fyth melangkah menuju lift menuju tempat Anila, calon kakak iparnya. Di dalam lift Fyth memperhatikan tampilannya dalam pantulan kaca, ia baru menyadari jika tampilannya cukup sexy.
Bahu terbuka dengan model belahan bawah yang hampir sepaha, belum lagi rambutnya yang disanggul membuat bergidik ngeri melihat penampilannya saat ini.
"Buset, sexy banget gue. Pantas dari tadi banyak yang lihatin gue. Ck! Nggak bisa, gue harus ganti baju. Nggak nyaman juga ini baju, berat!" Gerutu Fyth.
Dengan menghentakkan kakinya kesal Fyth masuk ke dalam kamar Anila, lalu meminta gaun baru pada Tante Feni. Mau tak mau Tante Feni memberikan gaun baru kepada putri tengil sahabatnya itu. Bahkan Tante Feni menggerutu kesal karena Fyth meminta di hapus make up nya dan di ganti dengan lebih tipis lagi, padahal itu sudah make up paling tipis.
__ADS_1
"Kau ini, aku jadi ragu dengan gender mu. Di make up cerewet sekali. Lihat Anila, dia saja menurut tidak seperti kau. Dia calon pengantin saja menurut." Omel Tante Feni.
"Itukan kakak ipar Tan, dia kan mau kawin jadi wajar tampilan harus cetar dong. Lagian aku masih muda dan anak-anak. Tak pantas memakai make up tebal, nanti mirip ondel-ondel." Ucap Fyth tak terima.
Ctak...
Disentil kening Fyth dengan gemas oleh Tante Feni, sungguh tak habis pikir dengan jalan pikir gadis satu ini. "Kau ini bukan lagi anak-anak bontot, lihat dada dan pantatmu. Bahkan sudah mengembang!" Kesal Tante Feni, sungguh menghadapi Fyth menguji mentalnya.
"Tante ngintip ya?"
Tak ingin naik darah, Tante Feni segera menyelesaikan tugas make up nya. Bahkan ia juga tak menanggapi ucapan Fyth yang bisa-bisa membuatnya kesal setengah mati.
Sementara Anila yang selesai memakai kebayanya segera mendekat ke arah Fyth dan Tante Feni berada. Walau sedikit kesusahan dengan jarik yang di pakainya, namun Anila bisa mengatasi saat berjalan. Dari jauh Anila bisa menebak jika keduanya sedang terlibat nostalgia, dilihat dari raut wajah Tante Feni yang kesal mengahadapi Fyth.
Jika dipikir-pikir, Anila juga heran bagaimana ia nanti menghadapi sifat tengil calon adik iparnya yang ternyata sahabatnya pula. Akankah ia masih waras nanti? Mengingat hal itu membuatnya terkekeh sendiri. Anila mendekat ke arah keduanya, seraya mengangkat bagian bawah jarik-nya agar tak terinjak.
"Ini, tengil satu bikin tante migrain saja." Sungut Tante Feni.
"Mana ada, Tante aja hobby marah-marah. Ntar cepat keriput loh Tan," ledek Fyth.
"Lihat kan, menyebalkan memang ini gadis satu."
Melihat keributan keduanya membuat anila tak kuasa menahan tawanya. Sungguh lucu menurutnya, yang tua tak mau mengalah dan yang muda tak mau disalahkan. Tak lama Anila menghentikan tawanya seraya celingukan mencari keberadaan Indri.
"Indri mana bontot?" Tanya Anila yang tak melihat Indri sedari tadi.
__ADS_1
"Katanya udah di jalan, tunggu aja. Lue nggak gugup emang Nil? Eh, kakak ipar deh." Jawab Fyth seraya menggoda Anila.
Mendengar Fyth memanggilnya kakak ipar membuat ia tersenyum malu, jika ditanya gugup apa tidak? Tentu ia gugup sekali. Namun ia menyembunyikan dengan baik kegugupannya.
"Sedikit," singkat Anila.
"Cih!, Sedikit gimana? Itu tangan gemetar." Ledek Fyth.
"Ck! Kayaknya bener Tante Feni, kau ini menyebalkan."
"Benarkan!, Gadis ini memang mengesalkan." Imbuh Tante Feni.
"Hahaha," Fyth tertawa lepas melihat wajah kesal Anila dan juga Tante Feni. Sungguh ia sangat suka menggoda keduanya.
Sementara didalam kamar Raffa, sudah ada Davin dan juga Tama. Davin sedikit terlambat, karena harus mengarahkan keamanan terlebih dahulu agar acara dapat berjalan dengan lancar nanti.
Terlihat Raffa sedang meremas tangannya sambil mengusap keringat dingin di keningnya. Gugup? Tentu saja, untuk pertama kalinya ia akan mengucapkan ikrar suci seumur hidupnya. Ia takut nanti akan salah ucap saat ijab. Davin yang melihat kegugupan sahabatnya sontak mendekat lalu menepuk punggung Raffa perlahan.
"Tenang bro, kau hanya perlu fokus. Ingat nama calon istrimu," kata Davin berusaha menenangkan.
"Betul kata Davin kak, kau harus tenang dan cukup ingat nama calon istrimu. Bukan nama si nancy, kemoceng perempatan Ancol." Sontak keduanya tertawa mendengar ucapan Tama.
"Huft, gue pasti bisa. Thanks kalian selalu ada buat menyemangati gue." Raffa berucap tulus seraya merangkul bahu Davin dan Tama.
"Oke, yuk turun kak. Sebentar lagi acara akan dimulai," ajak Tama.
__ADS_1
"Ayo," Raffa merapikan penampilannya sesaat sebelum turun menuju tempat acara pernikahannya.