Se Anting

Se Anting
Bab 85


__ADS_3

"SAH...


Gemuruh tepuk tangan dan sorakan kini memenuhi seluruh ballroom setelah Tama mengucapkan ijab kabul dengan lantang. Para tamu undangan ikut merasakan kebahagiaan mempelai walau harus ada insiden dramatis terjadi. Namun hal itu tak mempengaruhi jalannya acara pernikahan hari ini.


Vania yang tak kuasa menahan air matanya, kini ia telah berganti status menjadi seorang istri sekaligus menjadi seorang ibu dari benih laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya. Walau demikian Vania tetap bersyukur, dan bahagia dalam hatinya jika kelak anaknya lahir dengan keluarga yang utuh.


Begitupun dengan Tama yang ikut merasakan kebahagiaan dalam hatinya, entah mengapa dirinya saat bahagia saat berhasil mengikat wanita yang membawa benihnya ini dalam ikatan suci sebuah pernikahan. Tama menatap Vania penuh senyuman, lalu mengulurkan tangannya untuk di cium oleh istrinya itu. Kemudian mengecup kening Vania dengan penuh perasaan.


"Selamat datang istriku, Nyonya muda Sinaga." Bisik Tama membuat Vania malu dengan pipi merona. Melihat istrinya malu-malu tak khayal membuat Tama menjadi gemas sendiri, ingin menerkamnya saat ini juga.


Kedua mempelai segera menandatangani buku nikah masing-masing lalu mendengarkan petuah dari penghulu sebagai pasangan suami-istri dengan seksama.


Sedangkan di salah satu meja, Fyth menatap malu-malu pada pasangan pengantin itu. Dalam benak membayangkan jika saja yang berada disana Davin dan dirinya, ah pasti sangat menyenangkan. Baru mengkhayal saja, Fyth sudah senyum-senyum sendiri hingga membuat Anila dan Indri saling pandang mengira si tengil sedang kesurupan.


"Ada apa dengannya?" Bisik Anila pelan.


"Mana ku tahu? Kesurupan kali," jawab Indri seraya berbisik juga.


"Jangan-jangan mengkhayal lagi,"


"Khayal mesum," ucap Indri seraya cekikikan yang di angguki oleh Anila.


"Siapa yang khayal mesum?" Sahut Fyth cepat membuat Anila dan Indri gelagapan lalu menyengir lebar dengan menunjuk ke arahnya.


"Enak aja, duo markonah bilang gue khayal mesum. Gue lagi khayal indah tahu, bayangin kalo yang ijab kabul si dolphin ma gue. Hahaha," ucap Fyth seraya tertawa terbahak-bahak.


"Sengklek," ucap Anila dan Indri kompak. "Lagian ngapain bayangin gituan, mending langsung minta halalkan." Lanjut Indri sambil memotong cake nya.


"Bener tuh," bela Anila.

__ADS_1


"Kayak kagak tahu Daddy aja, gue udah minta kompensasi buat ajukan jadwal merid. Eh, malah katanya tunggu 2 minggu lagi " ucap Fyth sebal.


"Bentar lagi dong, masak tinggal gue doang yang belom di lamar sama si Lee." Kini giliran Indri yang ikutan sebal.


"Kasih kode lah, biar peka itu." Ucap Anila.


"Maklum lah kakak ipar, ikan lele nggak punya antena terus punyanya cuma kumis. Makanya nggak bisa peka," ucap Fyth tergelak.


"Bener juga itu," Anila ikut tertawa terbahak-bahak, Sementara Indri mencebikkan bibirnya kesal.


"Btw, nasib dua orang tadi gimana ya nanti?" Tanya Indri penasaran.


"Paling jadi kambing guling," acuh Fyth.


"Emang tadi di giring kemana mereka bontot?" Tanya Anila yang tak mau ketinggalan.


"Emm, kayaknya di giling ke wahana milik Papa Bima deh."


"Iya wahana main gebug-gebugan," ucap Fyth cekikikan membuat rasa penasaran Anila dan Indri semakin menjadi.


"Jelasin!" ucap kedua kompak penuh penekanan.


*


*


*


Kini Tama dan Vania digiring menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuk berganti baju resepsi. Jika Tama terlihat tampan dengan setelan tuxedo hitamnya, maka Vania nampak cantik dengan gaun navy model bahu terbuka. Tama yang hendak menyusul sang istri sontak terpana melihat tampilan bidadari dihadapannya saat ini. Tanpa berkelip, Tama memperhatikan dengan intens penampilan istrinya yang mampu membuat jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


Merasa diperhatikan seseorang, Vania memutar tubuhnya kebelakang hingga tatapannya bertabrakan dengan tatapan mata Tama, suaminya. Vania merona nampak malu-malu saat mengetahui jika suaminya lah yang sedang menatapnya dengan intens. Apa ada yang salah dengan penampilannya saat ini?, Pikir Vania.


Perlahan Tama mendekat setelah berhasil menguasai dirinya, dengan lembut Tama menyisip anak rambut Vania kebelakang. Lalu mendekatkan wajahnya, seraya berbisik "Kau sangat cantik sweety," kemudian mengecup telinga Vania.


Tak khayal hal itu membuat Vania merinding bukan kepalang, hembusan nafas Tama pada telinganya membawa sensasi aneh dalam tubuhnya. Belum sempat menjawab ucapan Tama, tangannya sudah di gandeng Tama untuk kembali menuju ballroom. Melihat hal itu, Vania terdiam dan mengikuti apapun yang dilakukan Tama.


Dimeja Fyth, Davin asyik bermanja-manja padanya tanpa peduli tatapan semua para tamu yang menatap geli dengan tingkahnya. Jika orang lain merasa risih, justru Fyth ikut mengimbangi kemanjaan calon suaminya itu. Mulai dari suap-menyuap cake serta minum dalam gelas yang sama pula. Hal itu sontak membuat Raffa, Leon, Anila dan Indri melototkan matanya tak percaya menatap dua makhluk bucin dihadapan mereka saat ini.


"Tidakkah kalian malu? Lihat semua orang memperhatikan sikap kalian." Tegur Raffa yang sesungguhnya dalam hati juga menginginkan hal sama yaitu bermesraan dengan istrinya. Namun Raffa dapat mengendalikan diri, takut naga bonar marah jika ia melakukan hal demi kian. Siapa lagi jika bukan Daddy tercinta suami dari Mommy Nathalie.


"Benar, kalian sangat menggelikan." imbuh Leon.


"Bilang saja jika kalian iri, padahal kalian juga bisa melakukannya." ucap Davin santai sambil menerima suapan cake dari Fyth.


"Kak Raf, dan ikan lele kalo nggak kuat lihatnya mending tutup mata deh, takut ntar belekan karena iri nggak bisa kayak gini." ledek Fyth sambil mencium pipi Davin mesra. Melihat hal tersebut, Raffa segera menoyor kepala Fyth gemas. Sungguh adiknya satu ini membuat darahnya naik saja. Bisa-bisa tua sebelum waktunya jika terus begini, ucap Raffa dalam hati.


"Kak Raffa!" ucap Fyth sebal saat kepalanya ditoyor oleh sang kakak.


"Kira-kira dong bontot, kan kakak iparmu ini juga mau." ucap Anila sedikit menggoda adik iparnya itu.


"Noh, minta sama suami kak ipar dong. Tak perlu malu-malu lah," ucap Fyth dengan nada menyebalkan.


"Kita yang malu!" ucap kompak Raffa dan Anila bersamaan, membuat yang lainnya tergelak.


Di sebuah ruangan gelap dan pengap, terlihat seorang laki-laki terikat kencang di kedua tangan dan kakinya di atas kursi. Matanya menyalang dalam kegelapan menyiratkan kebencian dan juga penyesalan secara bersamaan.


"Breng*ek kau Bima!" umpatnya.


Sementara di samping ruangan tersebut, Cynthia mengepalkan tangannya penuh dendam. Namun tak ada yang dapat ia lakukan saat ini, semua kebohongannya telah terbongkar. Rencananya gagal, masa depannya pun hancur seketika. Malah kini harus menanggung malu karena mengandung benih dari ayah tirinya sendiri tanpa ikatan apapun. Penyesalan tiada guna, hanya tersisa kebencian saat mengingat wanita paling di bencinya mendapatkan segalanya.

__ADS_1


"Aku benci kau Vania! aku benci kalian semua, kalian pantas MATI!" teriaknya bak orang kurang waras.


__ADS_2