Se Anting

Se Anting
43


__ADS_3

Mencekam, inilah suasana dalam ruangan Leon saat ini. Berulang kali Dipa menelan ludahnya secara kasar saat menatap sorot mata tajam tuannya. Leon belum membuka suara hanya menyorot tajam pria di depannya kini.


Lama dalam keheningan, Leon berdehem untuk membuka suara, dengan suara beratnya memanggil nama asistennya.


"Dipa," tekan Leon tajam. Sedangkan Dipa berusaha menutupi kegugupannya dengan meremas ujung jas di tubuhnya.


"Say... Saya tuan," jawab Dipa terbata-bata.


"Kau tahu kesalahanmu?" Tanya Leon yang di jawab gelengan kepala oleh Dipa.


Brak...


Dilemparnya map berisi informasi Fyth ke atas meja dengan kasar. "Bagaimana informasi penting tentang pertunangan gadis tengil-ku itu tidak kau ketahui, hah?" Murka Leon.


"Mak... Maksud tuan, nona Fyth sudah bertunangan tuan?" bingung Dipa.


Mendengar pertanyaan Dipa membuat Leon mendengus seraya memijat pelipisnya. Bodoh, ucap Leon dalam hatinya.


"Tidak, aku takkan menyerah. Mereka hanya bertunangan bukan? Akan ku buat Fyth menjadi milikku dan aku pastikan itu." Monolog Leon pada diri sendiri. Ditatapnya kembali Dipa dengan tajam serta muka datarnya.


"Cari tahu informasi Fyth yang berada di Bali, harus akurat dan aku tak menerima kesalahan apapun. Jika tidak gajimu melayang." Seru Leon mutlak.


Sungguh ancaman tuannya mampu membuat hatinya menangis. Tanpa bantahan Dipa menganggukkan kepalanya serta berlalu dari ruangan tuannya.

__ADS_1


Dengan langkah gontai Dipa memasuki ruangannya. Lagi-lagi Dipa memijat pelipisnya kasar, sungguh permintaan tuannya membuat pusing kepalanya.


*


*


Bali....


Kesejukan udara di pagi hari membuat hati siapa saja tenang dan tentram. Bahkan embun pagi seolah menambah kenikmatan semilir angin yang menggerakkan dedaunan dengan bebas.


Namun sayang, keindahan itu hanya dapat dirasakan insan yang sedang berbahagia, bukan insan yang merana dan patah hatinya.


Terdengar hembusan nafas berulang kali dari sosok lelaki yang berdiri di balkon kamarnya. Ditatapnya hamparan luas lautan, lagi-lagi membuat ia menghembuskan kasar nafasnya. Sosok itu tak lain tak bukan adalah Tama.


Yup, Tama bukanlah anak kandung tuan Bima dan nyonya Rania. Saat itu Tama di temukan tergeletak di pinggir jalan oleh tuan Bima dan nyonya Rania saat berusia 8 tahun, dengan kondisi mengenaskan penuh luka di sekujur tubuhnya.


Tak kuasa melihat kesakitan yang di alami Tama kecil, tuan Bima dan nyonya Rania memutuskan untuk membawanya menuju rumah sakit. Sudah berbulan-bulan informasi Tama kecil disebarkan, berharap orang tua kandung Tama datang untuk menjemputnya. Namun sayang, tak ada satu kabar pun yang di terima tentang kedua orang tua tama.


Karena tak tega melihat Tama kecil sebatang kara, akhirnya tuan Bima dan nyonya Rania memutuskan untuk mengadopsi Tama. Nyonya Rania sendiri tidak memiliki keturunan karena kista yang dideritanya dulu.


Tama kecil yang saat itu pendiam, tak mau berbicara kepada siapapun. Bahkan saat di mansion Pratama, ia lebih memilih duduk di kursi taman seorang diri. Hingga Fyth kecil yang berusia 5 tahun datang mengajaknya berbincang walau masih dengan bahasa cadelnya.


Awalnya Tama diam tak merespon ucapan Fyth, namun melihat Fyth tiba-tiba terdiam Tama menolehkan kepalanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat gadis cilik cerewet itu menangis.

__ADS_1


"Kaka jahat, Kaka abaikan pyth." Tangis Fyth.


"Maaf," Tama menundukkan kepalanya.


"Kaka mau temenan sama pyth kan?" Tanya Fyth yang di jawab anggukan kepala oleh Tama.


Melihat anggukan kepala dari Tama, sontak Fyth tertawa girang seketika. Hal itu membuat Tama melongo, karena telah dikerjai.


Sejak saat itu hubungan keduanya dekat hingga mereka dewasa. Tanpa disadari Tama, kedekatan mereka membuat tumbuh perasaan lain pada hatinya, dimana perasaan ingin memiliki seutuhnya. Namun Tama sadar, perasaannya hanya sepihak mengingat Fyth tak pernah peka akan perhatiannya.


Larut dalam lamunannya membuat Tama tak menyadari jika Raffa sudah berdiri disampingnya. Awalnya Raffa akan mengajak Tama untuk ngopi di cafe seberang hotel. Namun saat memasuki kamar Tama dan melihat sang empu terdiam menatap hamparan laut, Raffa mengurungkan niatnya lalu memilih berdiri di sampingnya.


Melihat Tama tetap pada lamunannya, membuat Raffa menepuk pundaknya pelan seraya berbicara, "Kau masih memikirkannya?",


Mendapat tepukan di bahunya membuat Tama terkejut sesaat, hingga tahu siapa pelakunya membuat Tama menghembuskan nafasnya. Tama menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Raffa, selama ini hanya Raffa lah yang tahu perasaannya kepada Fyth.


"Susah sekali menghilangkan rasa ini Raff," ujar Tama.


"Kau hanya perlu melepasnya dan membuka hatimu untuk cinta yang lainnya." Ucap Raffa dengan tenang.


"Bagaimana aku bisa Raff, selama ini hanya dia yang dekat denganku bahkan saat kami kecil selalu bersama hingga kami dewasa. Bagaimana caraku untuk melepas rasa ini dari hatiku?" Tama menatap kosong kedepan.


Hening, Raffa belum menimpali kembali pertanyaan Tama. Raffa tahu betul seperti apa perasaan Tama kepada adiknya, namun ia tak bisa berbuat apa-apa mengingat adiknya telah mencintai sahabatnya bahkan telah bertunangan juga.

__ADS_1


"Percayalah padaku, kau akan mencintai orang lain saat kau menemukan orang yang tepat di hatimu. Dan satu lagi, mungkin kau bisa memulai dari awal bersama Indri. Kurasa kalian cocok," setelah berkata demikian, Raffa meninggalkan kamar Tama menuju kamar sang adik. Karena Raffa tahu, jika adik bontotnya belum bangun dari tidurnya.


__ADS_2