
Bali~
Lembut pasir menyapa jemari kaki tak beralas, deburan ombak bertabrakan menciptakan percikan alamiah suatu bahagia. Langit cerah tak berawan seolah mengerti dan mengikuti alur kebahagiaan yang tercipta oleh insan saling mencinta.
Memori indah membayang akan sebuah keramahan dunia, betapa baiknya tuhan yang menciptakan cinta setulus dia. Bahkan menghadirkan ia disaat-saat hati mulai sepi berduka.
Luas samudera seolah menjadi wakil puncak rasa yang membara di dada, tentang keinginan memiliki tanpa menyakiti.
Indah cakrawala senja membuat Davin hanyut sesaat, dipandang lekat matahari yang mulai menghilang perlahan untuk kembali ke peraduannya. Senyuman tersungging pada bibir Davin, tak sabar akan kedatangan pujaan hatinya.
"Sebentar lagi sayang, kau akan ku ikat menjadi milikku seutuhnya," monolog Davin sembari menatap cincin mungil bermata amber di tangannya.
Sementara Fyth, Anila dan Indri sudah di terbangkan menuju Bali dengan pesawat pribadi keluarga Pratama. Hingga sesampai di bandara Ngurah Rai, ketiganya masih dalam keadaan pingsan.
Ketiga gadis itu segera di bawa ke hotel untuk di rias secara kilat mengigat waktu mereka yang tersisa 3 jam saja. Raffa dan Tama membawa Fyth ke dalam kamar khusus yang telah tersedia para perias ternama milik Tante Feni. Setelah meletakkan Fyth di atas ranjang, Raffa dan Tama keluar dari kamar segera. Dan tugas beralih kepada para perias untuk make over Fyth.
Setelah keluar dari kamar Fyth, Raffa dan Tama berpisah menuju kamar masing-masing untuk mengganti pakaian mereka lalu menuju kamar pasangan mereka.
__ADS_1
Kamar Davin berada tepat di sebelah kamar Fyth, dirapikan pakaiannya di depan cermin. Lalu beralih menuju laci samping tempat tidurnya untuk mengambil kotak cincin dan menyimpan ke dalam saku jas.
Davin meninggalkan kamarnya menuju kamar Fyth yang berada tepat di sampingnya. Tanpa mengetuk pintu Davin membuka kamar pujaan hatinya yang sebentar lagi akan terikat bersamanya. Para perias sudah menyelesaikan semua tugas mereka dari setengah jam yang lalu.
Melihat Fyth yang masih tertidur nyaman membuat Davin menyunggingkan senyumnya. Perlahan ia mendekat lalu mendudukkan tubuhnya di samping ranjang. Dibelainya pipi mulus gadis yang membuat hari-harinya berwarna, diciumnya perlahan pada keningnya.
Tak lama Davin bangun dari duduknya dan beralih menyusupkan kedua tangannya pada leher serta kaki Fyth. Di angkatnya perlahan Fyth ke dalam gendongannya untuk di bawa ke tempat acara.
Tak hanya Davin, baik Raffa dan juga Tama pun melakukan hal demikian. Menggendong pasangan mereka masing-masing menuju tempat acara.
Semua orang tua serta para tamu undangan menunggu momen-momen dimana ketiga pasangan fenomenal itu menunjukkan batang hidungnya.
"Kau itu sudah tua, Le. Memangnya kau mau mencari yang seperti apa hah?", Murka Mommy Lea.
"Leon mom, Leon. Dan aku masih muda mom," Jengah Leon mendengar Mommy tersayangnya yang selalu memanggil namanya dengan Le serta menyebutnya tua. Macam ikan lele saja, pikir Leon.
"Terserah mommy, dan mommy memberimu waktu 1 bulan. Cari wanita keinginanmu untuk di jadikan calon istrimu, jika dalam kurun waktu itu kau tak juga membawa calon menantu mommy, heh.. lihat saja apa yang akan mommy lakukan pada namamu di kartu keluarga nanti." Mommy Lea meraih tasnya lalu pergi meninggalkan ruangan putranya itu.
__ADS_1
Begitu sang mommy keluar dari ruangan, Leon menjambak rambutnya kesal. Sungguh ocehan Mommy Lea membuat moodnya buruk seketika. Dengan mendengus kesal, Leon menghubungi asistennya agar membuatkan kopi untuknya.
"Aku bisa gila lama-lama mengahadapi mommy," keluh Leon.
Tak lama pintu ruangannya di ketuk dari luar, asisten Leon mengantarkan kopi sesuai permintaan Leon. Setelah meletakkan diatas meja Leon, sang asisten berniat kembali ke ruangannya namun di cegah Leon cepat.
"Ada yang bisa bantu kembali tuan muda?", Tanya asisten Leon, yang tak lain bernama Dipa.
"Di, menurutmu apa aku harus mencari pacar sewaan ya?", Leon berpikir untuk membujuk sang mommy dengan membawa pacar sewaan saja. Lagipula yang terpenting baginya, sang mommy berhenti untuk menjodohkannya.
Dipa yang di panggil Di oleh tuannya sontak mendengus kesal. Da, Di, Da, Di, memang namaku Diana apa?, Sungut Dipa dalam hatinya.
"Maaf tuan, bisakah tuan memanggil nama saya dengan lengkap tuan?" Protes Dipa pada Leon.
Leon mengangkat satu alisnya, lalu berkata dengan menyebalkan. "Kenapa? Bahkan itu lebih baik dibanding aku memanggil nama belakangmu bukan."
Terdiam tak dapat membantah itulah Dipa. Jika dipikir apa yang dikatakan oleh tuannya ada benarnya juga. Tak mungkin dirinya di panggil "pa". Membayangkan saja sungguh membuatnya geli seketika.
__ADS_1
"Tuan muda benar," ucap Dipa kikuk.
"Tentu saja, aku selalu benar dan itulah hukum mutlaknya bukan." Kata Leon dengan datar. Dipa hanya tersenyum canggung di hadapan tuannya.