
Ketegangan terjadi di ruang tamu antara Ayah dan Bunda Cieciez. Keras kepala Ayah Darwin yang ingin menjodohkan putri semata wayang dengan teman rekan bisnisnya membuat Bunda Isabel murka. Bukan tak mau menerima Bryan, putra rekan bisnis Ayah Darwin, namun Bunda Isabel tahu seperti apa watak dari Bryan sesungguhnya.
Lelaki buaya yang suka keluar masuk club malam, bahkan menurut hasil penyelidikan Bunda Isabel selama 2 hari ini memberikan fakta mengejutkan tentang seksualitas dari Bryan. Wajah tampan tak menjamin bagaimana baik perilakunya di luar sana, Bryan yang di gadang Ayah Darwin sebagai sosok sempurna untuk menjadi menantunya tak lebih dari seonggok sampah bagi Bunda Isabel.
Seorang biseksual apakah pantas menjadi suami dari putri satu-satunya?, Tidak! Bunda Isabel takkan membiarkan hal itu terjadi. Takkan ia mengorbankan kebahagiaan putrinya hanya demi sebuah saham yang tak seberapa itu.
"Aku katakan sekali lagi, jangan pernah berani selangkah pun kau menyeret putriku dalam ide konyol itu, Darwin." Tegas Bunda Isabel kepada Ayah Darwin, bahkan tanpa takut memanggil nama suaminya secara langsung. Sudah cukup ia mengalah demi keserakahan sang suami, kali ini takkan ia biarkan rencana dari suaminya berhasil sedikitpun.
"Kau tak bisa memerintah-ku Isabel, ingat! Aku kepala keluarga disini." Marah Ayah Darwin tak mau mengalah. Ambisi untuk mendapatkan 2% saham yang di janjikan Bryan padanya, membuat Ayah Darwin gelap mata akan kekuasaan. Bukan tanpa sebab Ayah Darwin bersikap demikian, karena perbedaan status dengan sang istri kerap membuatnya berpikir untuk melebihi apa yang dimiliki sang istri saat ini.
"Hahaha, apa kau lupa Darwin bahwa aku pemilik sah dari perusahaan dan juga mansion ini," ejek Bunda Isabel kepada Ayah Darwin. Rasa jengah akan sikap arogansi suaminya membuat Bunda Isabel tanpa sadar mengungkit perbedaan status mereka kembali. Memang Bunda Isabel terlahir dari orang berada bahkan statusnya masih saudara dengan Barack Pratama, Ayah dari Fyth.
Mendengar ucapan Bunda Isabel membuat harga diri Ayah Darwin seolah terinjak-injak kembali. Ia tahu saat menikah dahulu status mereka berbeda jauh, dirinya hanya seorang bodyguard yang dipekerjakan oleh mendiang tuan Arman, ayah Isabel. Sedangkan Isabel adalah putri tunggal tuan Arman yang telah mewarisi seluruh aset beliau.
Jika bukan karena balas budi kepada tuan Arman yang telah menolongnya saat ia luntang lantung di jalanan, mungkin permintaan tuan Arman yang menyuruhnya untuk menikahi putri manjanya sudah ia tolak saat itu juga.
Flashback on
Isabel hamil diluar nikah bersama pacarnya, tuan Arman yang mengetahui putrinya hamil segera menemui serta menyuruh pacar Isabel untuk bertanggungjawab. Namun bukan pertanggung jawaban yang di dapat tuan Arman, justru penolakan kasar dari pacar Isabel yang harus diterimanya.
__ADS_1
Marah, murka menggeluti hati tuan Arman, tercoreng sudah namanya akibat perilaku putrinya. Darwin yang tak tega melihat keadaan tuannya, mendekat seraya memberikan sebotol air mineral.
"Minum dulu tuan, saya tahu anda pasti terluka akibat putri anda, namun semua telah terjadi tuan. Semua sudah menjadi jalannya tuan," hibur Darwin kepada tuan Arman.
"Kau tahu Win, aku terlalu memanjakan Isabel hingga dia lupa diri. Aku menyesal, sungguh menyesal, harusnya ku dengarkan nasihat saudaraku Pratama untuk tidak memanjakan Isabel. Namun aku tak mendengarkannya justru mengabaikan, sekarang aku harus menanggung lumpur yang di lempar oleh putriku sendiri." Tangis tuan Arman pecah, Darwin yang melihat sungguh tak tega. Diusapnya punggung tuannya untuk memberikan kekuatan.
Untuk sesaat keheningan melanda, hanya suara Isak tangis yang terdengar. Darwin masih setia duduk di samping tuannya, bahkan dirinya tak beranjak sedikitpun. Tak lama tuan Arman menghentikan Isak tangisnya lalu mengarahkan pandangannya kepada Darwin.
"Win, maukah kamu menolongku?", tanya tuan Arman.
"Jika saya bisa melakukannya maka saya akan lakukan tuan," jawab Darwin dengan tenang.
"Tuan, saya hanya seorang rendahan, mana mungkin saya berani menikahi putri anda. Saya hanya seorang bodyguard yang bekerja pada anda tuan." Ucap Darwin.
"Aku tak memandang status Win, asal kau bisa membahagiakan putriku itu sudah cukup untukku. Aku sudah tua Win, bahkan mungkin umurku tak panjang lagi," papar tuan Arman seraya menatap langit, menerawang jauh bagaimana kedepannya nanti.
"Bagaimana dengan putri tuan, nona Isabel? Nona tidak akan menerima hal ini tuan," kata Darwin mencoba menolak secara halus permintaan tuannya. Darwin sadar siapa dirinya, tak mungkin menarik bulan untuk menyinari gelapnya sementara untuk menjangkaunya saja ia tak mampu.
"Itu akan menjadi urusanku Win, persiapkan saja dirimu. Ayo kita pulang," ajak tuan Arman seraya menepuk pundak Darwin.
__ADS_1
"Tapi tuan," ucapan Darwin tak di gubris oleh tuan Arman. Didalam pikiran tuan Arman saat ini hanyalah putrinya, Isabel. Mau tak mau, suka tak suka, Isabel harus menikah dengan Darwin.
Entah apa yang dibicarakan oleh tuan Arman, hingga Isabel mau menikah dengan dirinya. Sore itu juga acara pernikahan sederhana di selenggarakan secara dadakan, hingga statusnya dan Isabel kini berubah menjadi sepasang suami istri.
Flashback off
"Wah wah, untuk sesaat aku lupa akan siapa diriku Isabel. Aku lupa jika aku hanya menumpang disini, aku lupa jika aku hanya sebuah alat untuk menjaga nama baik keluarga ini." Ungkap Ayah Darwin sendu.
Menyadari telah salah berucap, Isabel mendekat ke arah Darwin dan memeluknya erat. Sungguh Isabel merasa bersalah kepada suaminya, karena mengungkit perbedaan sosial mereka secara tidak langsung. Namun Isabel hanya ingin suaminya sadar, jika perjodohan antara Cieciez dan Bryan bukanlah hal baik.
"Maafkan aku, untuk sesaat aku kehilangan kendaliku." Sesal Bunda Isabel.
"Baiklah, aku tidak akan menikahkan Cieciez dengan Bryan. Aku akan menghubungi Bryan untuk membatalkannya." Ayah Darwin mengambil ponselnya lalu menekan nomor Bryan. Setelah cukup lama berbicara, akhirnya sambungan telpon pun berakhir.
Tanpa mereka sadari Cieciez mendengarkan semua pertengkaran mereka di balik tembok. Air mata meluncur begitu saja membasahi kedua pipinya. Seolah tercekat, tak ada satupun suara yang keluar dari mulutnya. Bahkan niat untuk mengatakan pada kedua orangtuanya tentang kunjungan Sammy beserta keluarga, terpaksa harus ditelannya kembali.
Dengan menahan Isak tangis, Cieciez kembali menuju kamarnya. Seolah tak kuat menopang tubuhnya, begitu pintu tertutup luruh sudah tubuhnya di atas lantai yang dingin. Pecah sudah tangisnya, dipeluk erat kedua lututnya.
"Tuhan, mengapa semua harus begini? Mengapa ayah dan bunda harus bertengkar?" tangis Cieciez sesenggukan. "Sam, aku membutuhkanmu." lirih Cieciez.
__ADS_1
Sedangkan Sammy didalam kamarnya entah mengapa merasa gelisah, pikirannya tertuju pada Cieciez. Sayang, apa kau baik-baik saja, monolog Sammy dalam hati.