
Dengan bibir mengerucut kesal, Fyth memasuki perusahaan Leon. Jika bukan karena dia tahu Leon adalah kakaknya, mungkin Fyth tidak akan mau menginjakkan kakinya di tempat ini. Apalagi asisten kakaknya itu mengabarkan jika Leon tak sadarkan diri setelah mengamuk didalam ruangannya.
Belum lagi, Davin rela menyamar menjadi bodyguardnya untuk memantau pergerakan Leon jika sewaktu-waktu berbuat macam-macam. Fyth hanya membiarkan apa yang dilakukan oleh tunangannya itu. Padahal jika datang tanpa harus menyamar juga bukan hal yang salah. Aneh, pikir Fyth.
"Sayang, ingat jika masuk ruangannya harus mengajak aku." Fyth memutar bola matanya malas tanpa menjawab. Bukan sekali dua kali Davin mengingatkan tentang hal itu, jika di hitung sudah puluhan kali mengatakan hal yang sama.
"Sayang, kau mendengarkan tidak?" Rengek Davin.
Karena terlampau kesal, Fyth menginjak keras kaki Davin dengan sepatunya. Davin yang mendapat serangan dadakan sontak terkejut dan meringis merasakan sakit pada kakinya. "Aduh sayang, sakit." Keluh Davin.
__ADS_1
"Salah sendiri berisik," ucap Fyth seraya berjalan menuju resepsionis.
Di meja resepsionis, terdapat dua wanita dimana yang satu dengan dandanan sederhana. Sedangkan yang satu sudah seperti ondel-ondel pawai dengan lipstik merah menyala pada bibirnya.
Fyth berjalan mendekat ke arah meja resepsionis dan menanyakan dimana ruangan Leon berada. "Permisi kakak-kakak cantik," sapa Fyth ramah. "Walau lebih cantik diriku." Sambung Fyth dalam hatinya. (Pede kali kau Fyth 🙄).
"Ada yang bisa di bantu dek?" Tanya resepsionis berdandan sederhana yang bernama Lia, jika dilihat dari nametag nya. Sedangkan satunya bernama Lisa, dimana Lisa menatap Fyth dengan pandangan rendah saat mengetahui apa yang dipakai oleh Fyth. Jacket kulit dengan kaos putih serta celana Levis panjang model sobek pada pahanya.
"Kakak cantik, yang cantiknya alami no plester-plester pakai semen. Kenalkan saya Fyth, disini saya mencari ruangan pak Leon. Dilantai berapa beliau berada ya kakak?" Fyth tersenyum ramah saat menatap resepsionis bernama Lia itu.
__ADS_1
"Ngapain nyari ruangan calon suami aku, mau godain kan? Dasar cabe-cabean," sela Lisa dengan kata-kata pedasnya. Baru saja Davin akan maju dan membalas perkataan lisa, Fyth sudah mencegah terlebih dahulu.
Perlahan Fyth maju dengan santainya ke depan Lisa, begitu sampai di depan Lisa, Fyth berkata "Tante, denger ya. Cabe-cabean lebih menggoda dari pada sawi Tante, letoy kalo kerendam air." Sarkas Fyth.
"Kamu, kurang ajar ya." Tunjuk Lisa pada wajah Fyth. Sedangkan yang di tunjuk asyik membuka permen lolipop, Davin hanya melihat apa yang di lakukan tunangannya dari arah belakang.
"Udah tante marahnya? Mau Fyth kasih petuah nggak? Ahh, tak perlu di jawab pasti tante mau. Gini ya tante, Jangan terlalu naik ke atas kalau lagi ekspetasi tante, takutnya nih ya kalo tante jatuh yang nangkap bukan pangeran malah malaikat pencabut nyawa tante." Lisa merasa tertohok dengan ucapan Fyth, karena secara tidak langsung Fyth mengatakan jika dirinya harus tahu diri dalam mengharapkan sesuatu.
Amarah tak dapat lagi Lisa bendung, dengan tangan terkepal serta asap keluar dari kedua telinganya, Lisa hendak melayangkan tamparan di wajah cantik Fyth, namun urung saat mendengar teriakan seseorang yang berada tak jauh dari mereka.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Leon.