
Setelah perdebatan alot antara semua para orang tua, akhirnya semua memutuskan untuk membahas masalah Tama dengan Cynthia begitu pesta resepsi pernikahan Raffa dan Anila selesai. Awalnya Cynthia menolak agar cepat terputus kan kapan Tama akan menikahnya, namun ucapan pedas Fyth membuatnya bungkam seketika.
"Kenapa? lue sudah nggak buat jadi nyonya Sinaga. Lagian didalam perut lue kan ada benih si Timi, ngapain takut Timi nggak tanggungjawab? Kalau emang itu hasil cocok tanam si Timi, lue pasti bakal tenang aja karena dah tahu siapa bapak itu anak. Kecuali sih itu bukan perbuatan Timi tapi orang lain makanya lue ngebet buat dinikahi." Sarkas Fyth.
Begitulah ucapan Fyth ketika melihat Cynthia terus memaksa untuk segera dinikahkan dengan Tama. Sungguh Fyth merasa jengah, sama hal dengan yang lainnya.
Menyebalkan, gumam Fyth.
*
*
*
Hari ini semua tengah sibuk mempersiapkan diri mereka masing-masing untuk acara resepsi Raffa dan Anila yang akan di langsungkan pada siang hingga malam hari. Saat ini Anila tengah di rias oleh Tante Feni, seluruh anggota keluarga akan memakai dress dengan warna navy tanpa terkecuali.
Tampak Tante Feni sangat serius saat merias Anila, bahkan ia rela turun tangan langsung demi Raffa yang sudah di anggapnya seperti putranya sendiri. Anila mematut dirinya didepan cermin, sungguh ia sangat takjub melihat parasnya sendiri. "Apa benar ini aku?" Gumamnya yang terdengar oleh Tante Feni.
"Tentu saja, jika bukan dirimu memang siapa lagi? Bontot mana mungkin," ucap Tante Feni.
"Apanya yang tidak mungkin?" Sahut Fyth di depan pintu.
"Astaga, kau ini mau membuatku terkena serangan jantung. Ketuk pintu dulu jika mau masuk," sungut Tante Feni.
"Hehehe, maaf lupa Tan," kata Fyth seraya menutup kembali pintu kamar Anila kemudian mengetuknya.
Tok... Tok...
__ADS_1
Melihat kelakuan si tengil sontak Tante Feni memijat keningnya. Ngidam apa dulu Nathalie hingga memiliki putri yang sangat menyebalkan.
"Dia adik iparku jika Tante lupa," ucap Anila cekikikan.
"Sayangnya iya," dengus Tante Feni lalu menyuruh Fyth masuk. "Sudah, masuklah."
Dengan senyum lebar, Fyth masuk ke dalam menuju Tante Feni. Di tangannya sudah ada Tote bag berisi dress-nya. "Tante, make up in dong." Pinta Fyth.
Bukan mengiyakan, Tante Feni justru menatap Fyth curiga. Pasalnya, ia masih ingat bagaimana cerewetnya si tengil jika ia rias. "Kau tidak demam?" Kata Tante Feni dengan menempelkan satu telapak tangannya di kening Fyth.
Fyth mencebikkan bibirnya mendengar ucapan Tante Feni, "Aku kan nggak bisa dandan Tan," Fyth cemberut mengingat ia tak pandai merias diri.
"Lagipula buat apa kau dirias, tanpa riasan kau sudah cantik." Ucap Tante Feni membuat hati Fyth berbunga-bunga bahkan malu-malu kempis. "Walau kelihatan seperti mayat alias pucat." Lanjut Tante Feni.
Gugur sudah bunga bermekaran di dalam hati Fyth mendengar penuturan Tante Feni di akhir. Sungguh menyebalkan sahabat Mommy-nya itu, bikin naik darah saja.
"Halo, ada apa Ndri?" Tanya Fyth di ujung telepon.
"Kau dimana? Aku ke kamarmu tapi kosong." Jawab Indri.
"Hehehe, aku lupa memberitahu mu tadi. Aku ada di kamar kakak ipar, mau minta di rias Tante Feni yang CANTIK DAN BAIK HATI." Cibir Fyth kepada Tante Feni seraya menekan kata cantik dan baik hati. Tentu saja Tante Feni yang mendengar menjadi gemas sekali dengan tengil satu ini. Sedangkan Anila terkekeh melihat kedua orang didepannya kini.
"Ya sudah aku kesana." Indri segera mematikan sambungan teleponnya, lalu menuju kamar Anila.
Di dalam kamar Anila, terlihat Tante Feni menggerutu sebal terhadap si tengil. Andai ia memiliki sihir untuk membuat orang diam, sudah ia pakai untuk membungkam si tengil dari tadi. "Kau ini, membuat wajahku berkerut saja jika mengahadapi mu." Kesal Tante Feni.
"Tante saja yang tidak sabaran," ejeknya lalu mengalihkan pandangannya menatap Anila untuk meminta pembelaan." Kakak ipar, apakah aku menyebalkan?" Tanya Fyth tak lupa dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat. Ingin sekali Anila terbahak namun ditahannya, berbeda dengan Tante Feni yang memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Kau sangat imut, mana mungkin menyebalkan adik ipar." jawab Anila membuat Tante Feni membulatkan matanya.
"Kalian berdua ini sama saja rupanya, mimpi apa aku semalam." ujar Tante Feni.
"Ketiban duren mungkin Tan," sahut Indri yang baru masuk ke dalam kamar.
"Kau juga, baru datang malah ikutan mengejekku. Kompak sekali kalian bertiga rupanya,"
"Kami kan best friends Tante." ucap ketiganya bersamaan lalu tertawa terbahak-bahak, Tante Feni hanya menggelengkan kepalanya saja tanpa berniat menimpali kembali. Bisa-bisa darahnya naik seketika nanti, cukup saat ini kepalanya nyut-nyutan saja. Setelah membereskan peralatannya, Tante Feni pamit terlebih dahulu menuju kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
"Ndri, menurutmu apa benar jika gadis itu yang dibuat hamil Tama?" tanya Anila.
"Aku juga cukup penasaran, tapi aku tidak yakin." jawab Indri seraya membalas pesan Leon yang sedang menanyakan keberadaannya.
"Dia bukan gadis itu," sahut Fyth yang baru saja keluar kamar mandi usai mengganti pakaiannya dengan dress.
"Bagaimana kau tahu bontot?" Anila cukup penasaran dengan apa yang terjadi.
"Yang jelas bukan, sulit menjelaskannya. Namun yang pasti untuk saat ini adalah mencari tahu kebenaran tentang si centil itu. Aku sudah meminta kak Raffa untuk mencari tahu asal usul gadis itu, aku cukup mencurigainya." papar Fyth.
"Aku juga merasa aneh, tiba-tiba dia datang dan meminta pertanggungjawaban." ujar Indri.
"Sebenarnya tidak ada yang aneh jika dia menuntut tanggung jawab, karena posisi dia lagi hamil. Disini yang jadi kewaspadaan adalah motifnya, aku rasa tak semudah itu hal ini terjadi." jelas Fyth menyampaikan pendapatnya. "Dalam satu minggu, aku pastikan akan menemukan kebenaran atas semua ini." lanjut Fyth.
"Kau yakin?" tanya Indri ragu.
"Lihat saja nanti, btw aku juga membutuhkan bantuan kalian. Aku mau kalian....
__ADS_1
Hayoo mau ngapain....??? 🤔