
Davin mengusap kasar wajahnya, sungguh kedatangan Helen membuyarkan semua hayalan indahnya.
Ditatapnya Helen dengan kesal, sungguh Davin ingin sekali menjitak kepala sepupunya satu ini.
" Ada apa ? " Kesal Davin.
" Ada apa ? " Beo Helen, " Aku yang harusnya bertanya, ada apa dan kenapa ada disini ? " Lanjutnya.
Helen bingung melihat tingkah Davin, berdiri sendirian ditengah malam sambil senyum-senyum tidak jelas. Apa sedang kerasukan, pikirnya.
" Mencari angin segar " seraya memandang ke arah taman dimana Fyth duduk sambil memejamkan matanya.
" Angin segar ? " Gumam Helen pelan.
Helen yang tidak percaya ucapan Davin, mengikuti arah pandang sepupunya itu.
Baru Helen sadari, jika di taman terdapat seorang gadis sedang duduk sendirian. Helen kembali menatap ke arah Davin, lalu berganti menatap ke arah gadis itu untuk kedua kalinya. Kini Helen mengerti, rupanya Davin sedang jatuh cinta pada sosok gadis itu.
Seutas senyum kecil terbit di bibir Helen, akhirnya ada juga yang mampu mencairkan hati beku sepupunya.
Helen yang kembali melihat Davin melamun segera memiliki ide jahil untuk mengerjainya.
" Siapa gadis itu ? " Bisik Helen pelan pada Davin.
" Fyth, tepatnya Aurora Fythania Pratama " jawab Davin seraya tersenyum manis.
Pratama, dalam benak Helen bertanya. Apakah putri keluarga Pratama yang dimaksud.
Helen melanjutkan aksinya kembali, " Kau menyukainya ? "
" Sangat menyukainya " kata Davin tanpa sadar.
" Kau mencintainya ? "
" Sangat mencintainya "
" Kau ingin menikahinya ? "
__ADS_1
" Tentu saja, itu impianku " Ucap Davin dengan tegas.
Davin yang tersadar sontak membalikkan diri menghadap Helen.
Tentu Helen yang melihat reaksi Davin menjadi terbahak-bahak. Sungguh konyol orang yang sedang jatuh cinta, pikirnya.
Davin menatap kesal kepada sepupunya, segera Davin melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Helen. Namun, belum sempat Davin melangkahkan jauh kakinya, Helen sudah mencegahnya terlebih dahulu.
" Kurasa kau harus menjaga bunga-mu dengan ketat bung, lihatlah banyak kumbang yang ingin bersamanya selain dirimu " ucap Helen seraya mengarahkan tatapannya menuju taman.
Davin mengikuti arah tatapan Helen, dimana calon istrinya sedang mengobrol dengan laki-laki yang pernah di lihatnya saat di kampus. Tepatnya laki- laki yang pernah makan bersama calon istrinya.
" Ku akui dia gadis cantik, jika kau benar menginginkannya maka ikat dia. Jangan sampai dia direbut orang lain bung " lanjut Helen seraya menepuk pundak Davin, lalu melangkahkan kakinya pergi.
Davin yang mendengar ucapan Helen, mengetatkan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya. Tak ada yang bisa memiliki gadisku, siapapun itu. Ucap Davin dalam hati.
Sedangkan Fyth yang menikmati semilir angin dikejutkan dengan kehadiran sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Sammy. Awalnya Fyth merasa enggan menanggapi kehadirannya, sungguh sendiri menjadi keinginan hatinya kini.
Bukan Fyth tidak tahu juga jika Sammy menaruh hati padanya, namun bersikap seolah tak tahu apa-apa mungkin itu yang terbaik. Fyth tak ingin persahabatannya rusak hanya karena sebuah rasa yang tak pernah ada pada hatinya.
" Hallo cantik, boleh ku temani ? Kenapa melamun dan sendirian disini hem ? " Tanya Sammy seraya duduk di sebelah Fyth.
Sammy yang mendapati pertanyaan kembali, langsung saja menyentil kening Fyth. " Ctak... "
" Aduh.... " Sontak Fyth mengadu seraya mengusap keningnya. " Kau kenapa suka sekali menyentil keningku sih " omel Fyth sebal.
Sammy bukan menjawab justru tertawa melihat Fyth mengomelinya. Inilah yang dirindukan Sammy saat jauh dari Fyth.
Sammy tahu, tak mungkin sahabatnya ini memiliki rasa yang sama. Bahkan Sammy menyadari jika rasa cinta yang di milikinya hanya sepihak saja. Namun hal itu tak membuat Sammy patah akan harapan untuk bisa bersama dan melindungi Fyth di sisinya.
" Fyth, kau tak masuk ke dalam ? Acara dansa akan segera di mulai " kata Sammy seraya mengelus kening Fyth perlahan.
Fyth sesaat tertegun ketika Sammy mengusap keningnya, namun tak lama segera Fyth tepis tangan Sammy. Fyth tak ingin Sammy berharap lebih akan dirinya, Fyth juga tak ingin jika Sammy kecewa dan terluka nanti.
" Nanti saja, aku masih ingin di sini " jawab Fyth seraya menyandarkan tubuhnya pada kursi taman.
" Baiklah, biarkan aku menemani. No debat " ucap Sammy cepat sebelum Fyth melayangkan protesnya.
__ADS_1
Fyth yang mendengar ucapan Sammy hanya mengangkat bahunya acuh.
Sementara di dalam ballroom, suasana pesta semakin meriah. Banyak putra dan putri para kolega bisnis keluarga Pratama yang ikut naik ke atas panggung untuk menunjukkan bakat seni mereka. Mulai dari menyanyi, puisi bahkan menari.
Namun suasana berbeda terjadi di salah satu meja tamu. Tepatnya terjadi ketegangan antara Raffa dan Anila.
Anila tak habis pikir, rupanya ini semua rencana Raffa. Bahkan sahabatnya ikut andil dalam rencana ini.
" Jadi ? Apa maksud anda tuan Raffa yang terhormat ? Bukankah disini banyak gadis cantik ? Lalu mengapa anda justru memilih saya yang jelas kita tidak sedekat itu bukan " ucap anila penuh penekanan.
" Harus bagaimana lagi, saat kau bertemu denganku dan mencuri seluruh perhatianku... " Jeda Raffa, " Haruskah aku melepaskan begitu saja " lanjutnya.
" Kau tahu Anila, awalnya aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa gadis yang ku incar adalah sahabat adikku. Namun ku fikir kembali bukankah ini hal yang baik, aku tak perlu secara rumit untuk menjeratmu bukan. Bahkan Daddy ku juga sudah turun tangan terlebih dahulu menemui calon mertuaku itu " ujar Raffa.
" Papaku tahu hal ini ? " Anika cukup terkejut saat kedua orangtuanya sudah mengetahui hal ini.
" Tentu saja, bahkan tuan Abbas, ah... maksudku papa Abbas. Beliau sudah menerima perihal lamaran yang disampaikan oleh daddy-ku "
Sungguh ucapan Raffa membuat anila sangat terkejut, papanya sudah mengetahui bahkan menerima lamaran Raffa sebelumnya. Lalu mengapa baik papa maupun mamanya tidak ada yang memberitahunya.
Raffa yang melihat Anila terdiam menyunggingkan senyum tipisnya. Hal apapun akan Raffa lakukan untuk mengikat kucingnya ini.
Lain Raffa lain pula Tama, justru saat ini Tama sedang di buat kewalahan akan celotehan maut Indri. Bagaimana tidak, rupanya Indri jauh lebih hebat dalam menimpali gombalannya.
Tama mengira Indri tidak akan menimpali gombalannya. Sungguh hancur sudah harga wajah tampan dan kepiawaiannya sebagai raja gombal.
" Ndri, dansa yuk " ucap Tama seraya mengalihkan pandangannya ke sekeliling dan melihat semua berdansa.
" Gak bisa dansa " jawab Indri seraya menyuap cake ke dalam mulutnya.
" Aku ajarin ntar " bujuk Tama.
" Ajarin mencintaimu apa memilikimu " kata Indri seraya mengerlingkan satu matanya.
Tama yang gemas mendengar ucapan Indri akhirnya mencubit satu pipi Indri. Sungguh hatinya merasa kesal dan berbunga-bunga disaat bersamaan dalam menghadapi sikap Indri.
" Plak... " Indri memukul tangan Tama dengan kesal. Indri tidak suka jika ada yang mencubit pipinya.
__ADS_1
" Aduh, sakit ndri " ucap Tama seraya mengelus tangannya.
" Siapa suruh main cubit pipi orang " ketus Indri seraya berdiri meninggalkan Tama menuju tempat minuman. Tama yang ditinggalkan Indri sendiri sontak berdiri mengikuti langkah Indri.