
Di sudut ruangan
Brak!
"What? Ikan lele itu mantan lue, Ndri?" Ucap Fyth dengan muka terkejutnya, begitupun Anila yang terdiam seraya melongo.
"Iya, dia mantan gue pas SMA guys." Kata Indri sembari menundukkan kepalanya.
"OMG, gue kira lue jumblu dari lahir Ndri," sahut Anila tidak percaya.
"Asyem lue Nil, gini-gini gue punya mantan tahu." Sungut Indri tak terima.
"Ck! Lagian kita gak pernah tahu kalo tuh ikan lele dekat sama lue, tapi pas SMA kita kok gak pernah tahu di sekolah ada itu orang sih." Heran Fyth.
Anila mencubit pipi Fyth dengan gemas, "Itu artinya dia beda sekolah sama kita bontot."
"Bukan beda sekolah, saat itu dia udah kuliah baru semester awal. Lagian saat itu juga kita ketemu nggak sengaja, kalian ingat waktu kita nyari bahan buat mapel praktik biologi?" Indri mencoba mengingatkan keduanya tentang awal pertemuan dengan Leon dulu.
"Kagak, gue gak suka plasblak-plasblak kenyataan yang udah lewat." Jawab Fyth seraya mengambil cup cake kue di depannya lalu memakannya.
Indri mendengus sembari memutar bola matanya malas, setiap kali di ajak bicara serius selalu saja sahabatnya satu itu membuatnya kesal setengah mati. "Masak lue gak inget sih?, Kan waktu itu lue yang ngomelin dia gara-gara salah ambil kantong belanjaan bontot." Fyth hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kayaknya gue inget deh," kata Anila.
__ADS_1
"Bagus, memori lue masih jalan ternyata." Ucap Fyth yang mendapat toyoran di kepala dari Anila.
"Weh, main toyor aja. Mentang-mentang udah jadi kakak ipar." Sebal Fyth.
"Salah sendiri, udah biarin si bontot, pusing jelasin ke dia ntar. Terusin Ndri ceritanya," Anila penasaran dengan kelanjutannya. Sementara Fyth mengangkat kedua bahunya acuh.
"Jadi, habis di semprot si bontot waktu itu, aku ikutin si Leon karena waktu itu ku lihat jalannya linglung kan. Saat itu badannya dia demam, lalu pas jalan limbung tuh dia di trotoar kanan jalan. Ya udah gue tolongin, gue bawa ke klinik terdekat dan sejak saat itu kita jadi deket." Jelas Indri dengan malu-malu.
"Cih!, Pantesan ya, kita cari kemana-mana nggak ketemu. Nyatanya lagi jadi wonder woman ayank." Fyth menyahut dengan kepala menunduk fokus kepada makanannya.
"Ho'oh, mana kita yang bayar semua lagi. Walau dengan patungan lagi," ucapan Anila mengundang tawa Fyth yang duduk berada di depannya.
"Hahaha, sumpah kalo inget pas waktu itu, ngakak gue nya. Nasib anak sekolahan, mana kartu gue disita kak Raf sama Bonyok gara-gara gue kabur lagi." Fyth tertawa cukup keras hingga mengundang perhatian banyak tamu.
"Wah jangan lupa PJ nya boss," sela Fyth dengan memainkan kedua alisnya naik turun.
"Makan muluk," dari arah belakang ada yang mengusap wajahnya, dengan kesal Fyth menolehkan kepalanya kebelakang seraya mengumpat.
*
*
*
__ADS_1
Tama kembali menuju ballroom setelah mendapat teror telfon dari Raffa, dengan kasar Tama menekan tombol lift. "Ck! Kakak sepupu kagak ada akhlak, main ancam muluk. Kayaknya gue harus balik ke LN aja, biar tenang hidup gue." Ucap Tama kesal.
Ting!
Setelah pintu lift terbuka Tama segera keluar menuju tempat acara. Dari pintu utama Tama melirik kanan kiri mencari keberadaan kakak sepupu beserta teman-temannya. Namun nihil, ia tak menemukan juga, justru pandangannya tertuju pada sepupunya yang tak lain Fyth. Ia begitu takjub melihat Fyth yang tidak berhenti makan kue di atas meja, bahkan ada berbagai jenis kue di hadapannya.
"Gila si bontot, kagak meleduk itu perutnya." Tama menuju ke tempat Fyth seraya menggelengkan kepalanya.
Tama dengan jahil mengusap wajah Fyth seraya mencibir gemas, "Makan muluk". Ia bisa pastikan sepupunya satu itu akan mengumpat perbuatannya.
"Sat, siapa woy!" Umpat Fyth kesal seraya menoleh kebelakang, "Timi," teriaknya sebal. Sedangkan Tama hanya tertawa melihat wajah bete Fyth.
"Ngapain lue disini? Ini area cewek," Fyth menatap Tama sinis lantaran masih kesal diusap wajahnya, selain itu membuat cake yang hampir di makannya terjatuh.
"Nyariin kak Raffa," jawab Tama seraya melirik ke arah Indri dari ujung matanya, sementara yang di lirik memilih bermain ponselnya.
"Kamu nyari mas Raffa, dia ada di meja sana." Tunjuk Anila ke arah meja tak jauh dari mejanya. Tama mengikuti arahan Anila dan menemukan kakak sepupu yang di carinya sedang berbincang dengan Davin serta Leon.
"Tuh orangnya, dah sana pergi. Kita mau gosip lagi," usir Fyth kepada Tama.
"Iya, iya, dasar sepupu durjana." Sebal Tama.
"Wlekk!," Fyth hanya menjulurkan lidahnya mengejek.
__ADS_1