
Hari berganti hari, tibalah saat yang ditunggu tiga sekawan. Apalagi jika bukan acara camping di kampus mereka, tanpa di sadari ketiganya jika acara tersebut hanyalah fiktif belaka.
Davin dan keluarga lainnya sudah berada di bali sejak sehari yang lalu. Semua persiapan acara pertunangan antara dia dan Fyth sudah 90% berjalan, sisanya tinggal menunggu kedatangan sang pujaan.
Disisi lain, Tama dan Raffa sudah bersiap di posisi masing-masing untuk menjalankan rencana mereka. Jika Tama menyamar sebagai supir taksi yang akan membawa mereka ke jalan sepi, maka Raffa bertugas untuk menyergap nanti.
Mobil taksi yang dikendarai Tama sudah berada di mansion Pratama sejak pagi, tentu saja dengan menyabotase ponsel Fyth bahwa itulah taksi pesanannya. Lain Tama, lain pula dengan Raffa yang sudah bersiap pada posisi masing-masing beserta anak buahnya.
Tak lama pintu utama terbuka, Fyth keluar bersama seorang maid yang membawa kopernya. Tama yang sudah memakai topi dan juga masker segera turun untuk membuka bagasi mobilnya. Tak ada rasa curiga sedikitpun dalam benak Fyth, justru ia lebih memilih masuk ke dalam taksi lalu mengirim pesan kepada kedua sahabatnya untuk menunggu di depan mansion.
Melihat reaksi sepupunya yang tidak curiga, membuat Tama bernafas lega. Tanpa menunggu lama, Tama segera melajukan kendaraannya meninggalkan mansion Pratama lalu menjemput kedua sahabat sepupunya.
Semua sudah berada di mobil, dalam perjalanan sesekali Tama melirik ketiganya dari kaca tengah. Melihat Fyth dan yang lain asyik bermain ponsel dari kaca tengah, lalu mengirim kode kepada Raffa dan rekan lainnya untuk bersiap pada posisi masing-masing.
__ADS_1
"Nil, gak lupa bawa jaket?" tanya Indri mulai memecah keheningan setelah menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Aman, ada di koper kok," jawab Anila dengan mata mengarah pada ponselnya.
"Lue Fyth?" Alih Indri kepada Fyth.
"Gak tahu, orang yang nyiapin mbok Mirna," ungkap Fyth. Mendengar jawaban Fyth membuat Anila dan indri menggelengkan kepalanya bersama.
Tama hanya menyimak obrolan ketiganya, lalu perlahan mengarahkan laju mobilnya ke arah jalan sepi yang sudah di rencanakan. Indri yang mulai heran melihat jalan yang di lalui tak seperti biasanya sontak bertanya kepada sang supir taksi.
"Pak sepertinya anda salah jalan, ini bukan arah ke kampus kan?", tanya Fyth dengan memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu mengambil sarung tangan dan memakainya.
"Maaf non, tadi waktu berangkat saya melihat ada kecelakaan besar di jalan biasanya non. Takutnya non buru-buru jadi saya mengambil inisiatif jalan lain non." Ungkap Tama gugup dengan menyamarkan suaranya.
__ADS_1
Mendapati alasan yang cukup masuk akal membuat ketiganya mengangguk setuju, sedangkan Tama mengelus dadanya lega saat ketiganya tidak curiga lagi.
Setelah mendekati lokasi rencana, Tama segera mengirimkan sinyal kepada yang lainnya. Di masing-masing tempat yang telah mendapatkan sinyal segera bersiap pada posisi mereka.
Tama membuat mobilnya seolah-olah mogok, lalu memarkirkan ke sebelah jalan. "Haduh maaf ya non, saya akan periksa dulu mobilnya kenapa tiba-tiba mati non." Ucap Tama seraya keluar dari dalam mobil taksi.
Melihat gelagat aneh supir taksinya, Fyth mengerutkan kening curiga. Fyth ikut turun bersama sang supir taksi untuk melihat mesin pada mobil taksi tersebut.
"Biar saya bantu pak," tawar Fyth pada sang supir, namun di tolak.
"Tidak perlu non, saya gak mau nanti non ikutan kotor kalo bantuin saya non," tolak halus sang supir taksi yang tak lain adalah Tama.
Meninggalkan kedua sahabatnya turun membuat aksi mereka berjalan lebih mudah. Setelah berhasil membius Anila dan Indri lalu mengamankannya, kini giliran Fyth. Tama yang melihat kode dari anak buah Raffa segera menganggukkan kepalanya. Dimasukkan satu tangannya kedalam saku celana mengambil saputangan yang telah di beri obat bius.
__ADS_1
Perlahan Tama mendekat ke arah Fyth yang sedang mengotak-atik mesin mobil, di arahkan segera saputangan untuk membius Fyth sembari berkata maaf.
"Sorry bontot," Fyth yang mendengar sekilas jika sang supir berkata bontot membuat tanda tanya besar dalam dirinya hingga perlahan kesadarannya mulai menghilang lalu pingsan.