
"Saudara Raffandra Aura Pratama, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Anila Floresyia Nugraha binti Abbas Nugraha dengan mas kawin uang sebesar 1 milyar rupiah beserta seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap Papa Abbas dengan tegas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Anila Floresyia Nugraha binti Abbas Nugraha dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Jawab Raffa lantang dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi, Sah?" Ujar penghulu.
"SAH," jawab lantang semua orang terutama Davin dan Tama.
"Alhamdulillah, silahkan pengantin wanita untuk keluar." Kata penghulu kemudian.
"Soul out weh," celoteh Tama.
"Kagak jadi bujang lapuk dah," timpal Davin.
"Kita di duluin ngadon ini mah," sahut Leon.
Sontak Davin dan Tama saling pandang kemudian tergelak bersama, sedangkan Raffa mengumpat kesal dalam hatinya mendengar celotehan sahabat juga sepupunya.
Kericuhan para tamu undangan terhenti saat mempelai wanita memasuki ruangan, terlihat Anila begitu cantik dengan balutan kebaya putih di tubuhnya. Tak kalah penampilan anggun juga terlihat dari pengiring mempelai, siapa lagi jika bukan Fyth dan Indri. Bahkan Davin, Tama, Leon juga sang mempelai pria di buat terpaku oleh ketiganya.
Setelah mengantar Anila duduk di samping Raffa, dari kursi tamu Tama berdiri lalu mendekat seraya menyerahkan kotak cincin pernikahan Raffa dan Anila.
Baik Fyth dan Indri sudah duduk di tempat masing-masing, jika Fyth duduk di samping Davin maka Indri duduk di samping Leon. Awalnya Fyth hendak protes, namun melihat sikap keduanya membuat ia mengerti satu hal. Ada rahasia lain yang belum di ceritakan sahabatnya itu.
__ADS_1
Selain itu, Fyth tak sengaja menatap ekspresi Tama yang seperti menahan amarah. Apa cemburu?, Dalam benaknya bertanya.
Seperti mendapat jackpot, ide gila muncul dalam otak cantiknya. Untuk membuktikan perasaan Tama kepada sahabatnya itu, Fyth telah memikirkan sebuah cara.
"Hehehe, rasakan kau Timi." Gumam Fyth pelan tak lupa dengan senyum smirk nya.
Kini pembawa acara mempersilahkan kepada kedua mempelai untuk sungkem kepada kedua orang tua. Dimulai dari keluarga mempelai wanita.
"Papa," Anila memeluk sang papa dengan penuh Isak tangis, Papa Abbas pun tak kalah erat dalam memeluk putri semata wayangnya yang kini telah resmi menyandang status sebagai seorang istri.
"Nak, ingat pesan papa. Apapun keadaan rumah tangga kalian nanti, tetap selesaikan dengan kepala dingin. Jangan pernah berkata kasar bahkan membantah perintah suamimu, berbaktilah kepada suamimu nak. Jika pada akhirnya kau tak sanggup bertahan, datanglah ke pelukan papa. Karena tangan renta ini akan senantiasa menerima dan memelukmu dengan hangat nak, ingat kata papa. Teruslah berbahagia nak." Anila tak kuasa menjawab ucapan papanya selain anggukan kepala, Papa Abbas mengurai pelukannya lalu mencium kening putrinya dengan sayang seraya meneteskan air matanya.
Kini papa Abbas beralih menatap Raffa, sembari berkata "Nak, kini tanggung jawab putriku telah berpindah ke tanganmu. Papa berharap jangan pernah sekalipun kau sakiti hatinya apalagi berkata dan berbuat kasar, karena kami sebagai orang tuanya tidak pernah melakukan hal demikian. Tegur lah perlahan bila putriku melakukan kesalahan, dan jagalah putriku sebagai mana kau menjaga dirimu nak." Ucap Papa Abbas dengan menepuk bahu Raffa pelan.
"Terimakasih nak," Raffa hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Giliran Mama Alysa, keduanya tak kuasa menahan tangis. Anila sesenggukan memeluk sang mama, seorang wanita kuat yang telah melahirkannya bahkan yang telah membesarkannya dengan penuh perjuangan. "Mama,"
"Sayang, harapan mama semoga kamu selalu bahagia. Kamu sudah bukan wanita lajang lagi seperti kemarin, sudah saatnya kamu menjaga batasan dan menciptakan batasan untuk diri kamu sendiri terhadap orang asing. Mama berharap kalian segera memberikan papa dan mama cucu ya," goda Mama Alysa. Tatapan Mama Alysa beralih kepada laki-laki yang notabennya suami dari putrinya.
"Nak, Mama titip Anila. Tolong jaga ia untuk Mama."
"Pasti ma, itu janjiku." Kata Raffa dengan tegas dan sedikit lantang.
__ADS_1
Haru biru tak hanya terjadi pada papa Abbas dan Mama Alysa, sungkeman pada Daddy Barack dan Mommy Nathalie pun tak kalah dimana haru biru berakhir kekocakan akan ucapan Daddy Barack.
"Son, kini statusmu sudah menjadi seorang suami. Tanggung jawab serta beban pikulan akan bertambah karena kau sudah memiliki seorang istri yang akan mendampingi setiap langkahmu. Jangan sekalipun kau menyakiti hati istrimu, itu sama saja kau menyakiti hati mommy-mu dan juga adikmu. Jaga istrimu sebagai mana kau menjaga martabat dan juga harga diri keluargamu, lindungi dia dan sayangi segenap jiwamu." Kini pandangan Daddy Barack beralih kepada Anila.
"Nak, selamat datang di dalam keluarga Pratama. Tak banyak yang akan Daddy sampaikan, namun satu hal yang harus kau ingat. Jika Raffa macam-macam maka cabut saja jatah produksi malamnya, Daddy mendukungmu."
Mendengar ucapan Daddy Barack sontak membuat Raffa melotot tidak percaya, enak saja mau mencabut ijin landasannya. Sementara yang lain justru tertawa terbahak-bahak, menertawakan reaksi Raffa yang tidak terima dengan usulan Daddy Barack.
"Belum juga MP udah turun surat peringatan razia," ejek Tama dengan lantang kepada kakak sepupunya itu.
"Mana lintasan bakal di blokade lagi," timpal Davin.
"Cuma bisa gigit jari, pusing kejang-kejang karena gagal semprot itu." Imbuh Leon.
"Ambyar!" Ucap kompak ketiganya membuat tawa semua orang pecah bahkan para tamu undangan tak dapat menahan tawanya.
Fyth dan Indri tak kuasa menahan air matanya mendengar ucapan absurd ketiganya. Sedangkan Anila tertunduk malu, justru Raffa mendelik tajam menatap para biang rusuh dari pernikahannya seraya mengumpat kesal dalam hatinya.
Acara sungkeman pun berlanjut, Mommy Nathalie segera memeluk keduanya begitu Anila dan Raffa berada di depannya dengan tubuh bergetar menumpahkan tangis.
"Selamat sayang-sayangnya Mommy, kini kalian telah resmi. Nikmati kehidupan kalian dan berbahagialah nak. Mommy menanti kehadiran cucu lucu dari kalian." Mommy Nathalie melepas pelukannya, Raffa segera menghapus air mata dari pipi sang Mommy.
"Don't cry Mom," Raffa menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Mommy Nathalie tersenyum, lalu meraih tangan Anila dan Raffa dan menyatukannya. "Doa Mommy menyertai kalian,nak."
__ADS_1