
Keesokan harinya, dengan penuh semangat Leon menuruni anak tangga menuju meja makan. Senyuman tak luput dari bibirnya bahkan bersenandung kecil. Tentu saja hal itu membuat Mommy Lea penasaran, apa yang telah membuat putra batunya ini bahagia.
Leon mendudukkan tubuhnya di kursi setelah mencium pipi dan mengucapkan selamat pagi kepada Mommy Lea.
"Ada apa denganmu, Le? Sepertinya senang sekali, apa tuasmu sudah siap menulusuri goa?" Sindir Mommy Lea, sementara yang di sindir hanya memutar bola matanya malas.
"Come on Mom, jangan buat mood baik Leon hancur hari ini. Leon ada pertemuan penting," ucap Leon. "Sekaligus misi menaklukkan calon mertua". Lanjutnya dalam hati.
"Heh, pertemuan penting apa? Dengan tuan Pratama maksudmu?" ejek Mommy Lea. Tentu hal itu membuat Leon terkejut, darimana sang Mommy mengetahuinya.
"Mom...
__ADS_1
"Kau pikir Mommy tidak tahu apa yang menjadi rencanamu itu?, Dasar kau itu, umur tua tapi masih dudul. Batalkan rencanamu bertemu tuan Pratama." Potong Mommy Lea seraya menatap Leon dengan tajam.
"Why Mom? weren't you the one who asked the son in law as soon as possible? so let me bring the best son in law for you mom." Leon mengerutkan keningnya, mengapa Mommy-nya menolak.
Dengan menghela nafas panjang Mommy Lea berpindah duduk di sebelah Leon, lalu menepuk bahu Leon pelan. "Karena gadis incaranmu sudah bertunangan, nak." Ujar Mommy Lea.
Duar...
Seolah disambar petir dipagi hari, pernyataan sang Mommy cukup mengejutkan dirinya. Sudah bertunangan, bagaimana mungkin. Leon menggelengkan kepalanya tak percaya.
"that's the truth son," Mommy Lea mengusap punggung Leon perlahan. "Dan mereka semua masih di Bali untuk merayakan pertunangan putrinya." Lanjut Mommy Lea.
__ADS_1
Merasa tak percaya dengan yang dikatakan Mommy Lea, diambilnya ponsel di saku celana lalu menghubungi Dipa untuk menjemputnya. Mommy Lea menghela nafas kasar melihat putranya memasang wajah tak bersahabat seketika. Bahkan tanpa berpamitan serta sarapan, Leon pergi meninggalkan meja makan begitu saja membuat Mommy Lea lagi-lagi menghembuskan nafasnya.
"Kasihan kau nak. Ah, sarapanku." ucap Mommy Lea dengan melanjutkan makannya kembali.
Didalam mobil suasana sangat mencekam, berulang kali Dipa mengusap keringat pada keningnya. Untuk bersuara saja Dipa tak memiliki keberanian. Hingga tak berselang lama mereka telah sampai di perusahaan.
Langkah tegap, pandangan tajam, serta muka datar Leon saat berjalan membuat kaum hawa menjerit dalam hatinya karena terkagum akan sosok boss besar mereka. Tak banyak bisik-bisik yang mengatakan bahwa Leon adalah sosok idaman setiap wanita.
Namun Leon tak pernah mengindahkan ataupun melirik bahkan tertarik kepada mereka. Langkah lebarnya membawa ia menuju lift khusus miliknya. Leon tak sabar untuk mencecar asistennya ini segera, beraninya melewatkan informasi terpenting tentang gadis tengilnya. Baru Leon akan menekan tombol samping lift, terlihat seorang wanita sengaja menabrakkan diri kepadanya.
Dipa semakin mengusap keringat dingin pada keningnya, melihat karyawan magang itu berusaha mendekati tuannya. Kau cari mati nona, batin Dipa menjerit.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, hah?" Murka Leon dengan menatap tajam wanita yg menabraknya. Melihat sang wanita sengaja berpura-pura kesakitan bahkan berusaha menampakkan buah persiknya membuat Leon bergidik ngeri, lalu berkata "Menjijikkan." Tanpa menatap wanita itu kembali Leon melangkahkan kakinya masuk kedalam lift seraya membuka jasnya lalu melemparnya ke arah Dipa.
"Buang dan lempar wanita itu pergi dari perusahaan." Ucap Leon dingin dan datar.