Se Anting

Se Anting
Bab 54


__ADS_3

Leon mengumpat kesal saat tahu dirinya telah dikerjai oleh gadis tengilnya itu. Di pukulnya kemudi mobil dengan geram, dalam benaknya bertanya-tanya, bagaimana mungkin dia bisa di permainkan dengan mudahnya.


"Awas kau tengil," gumam Leon.


Dengan mimik wajah tak bersahabat, Leon mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menuju perusahaan. Dirinya ingat jika hari ini ada janji temu dengan tuan Pratama.


30 menit berlalu, Leon yang sudah sampai di perusahaan segera menuju ruangannya. Dipa, sang asisten bahkan sudah menunggunya di depan lift khusus petinggi.


"Tuan," sapa Dipa seraya membungkukkan badannya, kemudian menekan tombol lift menuju lantai atas.


"Sudah hadir?" tanya Leon dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Sudah tuan, beliau menunggu di ruangan anda."


"Ruanganku?" Kening Leon berkerut.


"Benar tuan, begitu tiba tuan Pratama meminta untuk di bawa menuju ruangan anda, tuan."


"Baiklah." Dalam hati Leon tak menaruh curiga mengapa tuan Pratama lebih memilih menunggu dalam ruangannya.

__ADS_1


Di dalam ruangan Leon, tuan Pratama menatap setiap sudut tempat itu. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja. Tuan Pratama berjalan menuju sisi meja dan melihat foto itu.


Sudut mata tuan Pratama mengembun seketika saat melihat potret saudara tirinya tercetak jelas dalam bingkai foto. Di usapnya perlahan potret Joe, seraya berkata, "Apa kabar saudaraku?",


🍁🍁


Begitu sampai kampus, Fyth masih tak kuasa menahan tawanya mengingat ekspresi kesal di wajah Leon. Bahkan Tama yang melihat si tengil terus tertawa hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Sudah sampai yang mulia, silahkan segera keluar dari kereta kencana karena saya ada urusan MENDADAK." tekan Tama.


"Heleh, urusan apa yang penting dalam dirimu jika bukan jadi buaya darat. Sampai kapan kau akan begini Timi?" Dengan menyandarkan tubuhnya ke kursi penumpang, Fyth menatap Tama dengan serius.


"Kau pikir urusanku hanya itu," dengus Tama.


"Aku tak se-playboy itu, lagian salah mereka kenapa baper padaku." Acuh Tama.


"Dan salahmu menjanjikan mereka yang indah-indah dengan rayuan maut mu." Sungut Fyth tak terima jika kaum wanita disalahkan.


"CK!," Decak Tama sebal.

__ADS_1


"Dengar Timi, aku doain bakal bucin kau nanti pada satu wanita. Lihat saja!" Setelah berkata demikian, Fyth turun dari mobil Tama dan berjalan masuk ke dalam kampusnya.


Tama menatap Fyth sendu, "Dan gue udah bucin sama lue, bontot. Mereka hanya pelampiasan gue buat bisa lupain lue." Tama melajukan mobilnya meninggalkan kampus setelah bayangan Fyth hilang dari pandangannya.


Sesampainya didepan kelas, Fyth menoleh ke arah kanan dan kiri bergantian. Dengan perlahan Fyth mundur kebelakang berniat lari menuju kantin. Belum sempat Fyth membalikkan tubuhnya, dari arah belakang ada yang menarik kerah bajunya.


"Mau kemana hm," suara bariton Davin terdengar mengalun lembut di telinga, Fyth berusaha menelan ludahnya susah payah. Perlahan Fyth membalikkan tubuhnya seraya meringis melihat Davin, sang tunangan yang sudah molotot ke arahnya.


"Hehehe, sayang. Aku cuma mau ke toilet, ya bener ke toilet sayang. Sudah kebelet ini," ucap Fyth dengan memasang tampang imutnya.


Davin bukanlah orang bodoh, ia tahu bahwa Fyth, si gadis tengil dihadapannya yang tak lain tunangannya ini berniat bolos dari mata kuliahnya. Tanpa menghiraukan ucapan Fyth, segera Davin menggeret masuk ke dalam kelas. Sementara Fyth pasrah saja seraya mengerucutkan bibirnya, karena rencana bolosnya telah ketahuan.


Anila dan Indri menahan tawa melihat si bontot di seret masuk Davin ke dalam kelas. Keduanya yakin jika si bontot berniat bolos dari mata kuliah hari ini. Anila berbisik kepada Indri, "Kira-kira hukumannya apa kali ini?"


"Entah, mungkin jelasin mata kuliah lagi." Indri terkekeh.


"Kayaknya enggak deh,"


"Menurutmu apa?"

__ADS_1


"Disuruh mimpin kuis, noh lihat!" Benar saja Davin menuliskan kata kuis di papan, dimana Fyth bertugas memberikan soal kuisnya. Indri menatap kedepan kemudian beralih menatap Anila, begitupun sebaliknya hingga keduanya tak kuat menahan tawa.


Dongkol? Iya, dengan kesal Fyth menuliskan soal kuis pertama, karena Davin melarang membacakan soal kuis. Bahkan Davin mengabaikan Fyth yang terus menggerutu sebal karena ulahnya.


__ADS_2