Se Anting

Se Anting
Bab 12


__ADS_3

Anila menggerutu kesal, bagaimana mungkin ponselnya berada di tangan Raffa. Dengan mengerucutkan bibirnya Anila mengetuk pintu ruangan Raffa.


" Tok... Tok... " Anila mengetuk pintu sedikit kencang.


Raffa yang melihat ekspresi Anila dari CCTV depan ruangannya sontak tertawa. CCTV yang telah terhubung ke dalam laptop itu terus menampakkan betapa menggemaskan bibir mungil itu yang tidak bisa diam.


Anila yang kesal, hendak menendang pintu ruangan Raffa. Namun di diurungkannya setelah mendengar sahutan dari dalam.


" Masuk " suara maskulin Raffa membuat detak jantung Anila mulai berpacu dengan cepat.


" Hei jantung, ada apa denganmu ? Kau akan mengambil ponselmu bukan mau sidang " ucap Anila dalam hati.


Anila menghembuskan nafasnya seraya membuka pintu ruangan Raffa.


" Permisi pak " kata Anila seiring terbukanya pintu ruangan Raffa.


Raffa menatapnya datar, dengan isyarat mata menyuruh Anila duduk di sofa. Anila yang mengerti segera berjalan menuju sofa.


Raffa begitu terpesona namun juga kesal dengan pakaian yang di gunakan Anila saat ini. Bagaimana tidak, dress selutut dengan terbuka bahunya pasti banyak mata lelaki yang melihatnya. Sepertinya ia harus menutup pembuatan baju model itu.


Setelah menutup laptopnya, Raffa berdiri sembari menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Dengan santai, Raffa berjalan menuju sofa tempat Anila berada.


" Ada yang bisa saya bantu nona Anila ? " Tanya Raffa seraya mendudukkan tubuhnya di sofa single depan Anila.


" Saya dengar dari bodyguard anda, jika anda menemukan ponsel saya. Apakah betul tuan ? " Jawab Anila kikuk, sungguh penampilan Raffa membuatnya salah tingkah. Lengan kemeja yang di gulung sebatas siku, serta 2 kancing kemeja depannya yang tidak terpasang membuatnya terlihat sangat sexy.


Senyum tipis tersungging di bibir Raffa, ia tahu Anila terpesona oleh penampilannya. Memang inilah tujuannya, membuat Anila terjerat dirinya. Dengan begitu dia akan lebih mudah mendapatkan hati si kucing nakal.


" Benar nona, dan panggil saya Raffa. Bukankah sudah pernah ku katakan hal ini " jawab Raffa kemudian.


" Baiklah, panggil aku juga Anila jika begitu. Bolehkan aku meminta kembali ponselku Raf ? " pinta Anila.


" Tentu, tapi aku tidak membawanya. Aku menyuruh salah satu bodyguard untuk menaruh di apartemen. Jika kau mau, ayo ku ambilkan ke apartemen " tawar Raffa.


" Ehm.... Baiklah. Hanya sebentar bukan ? " Tanya Anilq yang di jawab anggukan oleh Raffa.


Raffa berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju mejanya untuk mengambil ponsel juga kunci mobilnya. " Mari " kata Raffa seraya berjalan ke arah pintu dan meninggalkan ruangan yang di ikuti Anila di belakangnya.


🐿️🐿️

__ADS_1


" Ahhh..... Emmmm.... Sakit.... " Fyth meringis menahan perihnya.


" Tahan sebentar, sedikit lagi " jawab Davin seraya sedikit memaksa.


" Emmmm... Ahh... Sakit Dav... Cukup, hentikan Dav... " Mohon Fyth seraya meneteskan air matanya.


" Tenanglah, hanya sebentar sakitnya " ujar Davin. Fyth menggelengkan kepala, Tangannya menjambak rambut Davin.


" Aw... Sakit Dav, cukup Dav.... Ahh.... " Tangis Fyth.


" Sebentar lagi keluar, tahan.... " Kata Davin, " Ahh... Akhirnya keluar sudah... " Lega Davin.


" Cepat perban jika sudah keluar Dav " omel Fyth seraya sesenggukan.


" Sebentar ku beri alkohol dulu biar tidak infeksi lukanya " papar Davin.


" Emang dasar itu kaca, kenapa kena kaki segala " dengus Fyth.


" Salahmu tak bisa diam, ngapain naik ke atas pohon segala " ujar Davin yang membalut luka Fyth.


Flashback on


Fyth mencebikkan bibirnya, menoleh ke kanan dan Menemukan sebuah pohon lumayan besar. Dengan bermodal nekat, dipanjatnya pohon besar itu. Setelah sampai di atas, benar saja, sinyal baru menampakkan dirinya.


Seusai menelfon Timi, Fyth melihat ke bawah. Betapa mengerikan ketinggian pohon ini, mau turun pun takut terjatuh.


" Masa bisa naik nggak bisa turun sih " gerutunya, " Jika nangkring di atas pohon begini kenapa gue ngerasa jadi kembaran peliharaan si Alysha ya " monolog Fyth dalam hati.


Fyth menunggu kedatangan sepupunya seraya berfoto ria, Hingga.....


" Ulat... Aaaa......" Teriak Fyth.


Sementara Davin yang hampir memasuki mobilnya terhenti saat mendengar teriakan gadis tengilnya itu. Davin segera berlari menuju sumber suara.


Betapa terkejutnya Davin mendapati Fyth terduduk di tanah seraya menahan sakit pada kakinya.


" Astaga, ada apa denganmu ? Ku cari-cari malah duduk disini " Ucap Davin seraya menggendong Fyth ala bridal style. Lalu membawa Fyth menuju apartemen miliknya.


Flashback off

__ADS_1


Fyth mengerucutkan bibirnya, Davin yang melihat itu sontak mencium sekilas bibir Fyth. " Jangan cemberut, kau mau kucium hem " ucap Davin. Sontak Fyth membulatkan matanya seraya memukuli Davin.


" Laki-laki brengsek, kurang ajar, ngeselin, nyebelin, suka banget cium bibir orang seenaknya. Kau jatuh cinta pada orang lain tapi tetap saja bersikap begini padaku. Menciumku sesukamu, rasakan ini " dongkol Fyth seraya memukuli Davin.


Davin bukannya marah justru gemas sekali dengan tingkah Fyth. Ditariknya tengkuk Fyth serta dibenamkan bibirnya di bibir Fyth.


Fyth membulatkan matanya, ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi menggebu. Fyth yang terbuai mulai membalas ciuman Davin.


Davin melepaskan tautan bibirnya saat merasa Fyth mulai kehabisan nafasnya. Davin menempelkan kening keduanya, seraya berkata " Apakah ciumanku ini belum menunjukkan isi hatiku padamu sebenarnya hem ? Apa aku harus berteriak agar semua orang tahu bahwa Davindra Raksa Aditama jatuh cinta pada seorang gadis tengil yang bernama Aurora Fythania ? " Kata Davin tetap dengan posisi kedua kening masih menempel.


" Ka... Kau... Ja... Jatuh cinta padaku ? " Tanya Fyth yang di jawab anggukan oleh Davin. " Bagaimana bisa ? " Lanjutnya.


" Tiada yang tidak mungkin bukan " Jawab Davin seraya tersenyum manis, lalu membisikan kata cinta di telinga Fyth.


" I love you gadis tengil " ucap Davin mesra.


🐿️🐿️


Di dalam mobil tidak ada yang membuka suara, baik Anila dan Raffa sibuk dengan pemikiran masing-masing. Jika Anila berusaha menetralkan detak jantungnya, berbeda dengan Raffa yang telah menyiapkan kejutan untuk sang calon mertua nanti.


Mobil Raffa memasuki lobby apartemen. Raffa segera keluar dari mobil begitupun Anila. Dilemparnya kunci mobil pada petugas savety, dan menggandeng tangan Anila menuju apartemennya.


Raffa memasukkan pin begitu sampai didepan apartemen. " Ceklek.. " Raffa membuka pintu dan mempersilahkan Anila masuk kedalam. Awalnya Anila ragu, namun ditepisnya segala pikiran negatif.


" Dimana ponselku Raf ? " Tanya Anila yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


" Ku ambilkan sebentar, minumlah " ucap Raffa yang keluar dari dapur seraya menyodorkan segelas air putih pada Anila.


" Tak perlu repot Raf " kata Anila.


" Hanya segelas air putih saja , tak masalah. Aku ke kamar dulu mengambil ponselmu " Raffa beranjak dari duduknya menuju kamarnya. Raffa mengeluarkan ponsel Anila dalam sakunya. Ya, sedari tadi Raffa membawa ponsel Anila. Raffa sengaja mengatakan jika ponselnya ada di apartemen.


Raffa sudah merencanakan segalanya untuk membuat Anila menjadi miliknya seutuhnya tanpa harus menodai dan melukainya.


Di ruang tamu Anila yang menunggu cukup lama merasa kehausan. Di ambilnya segelas air putih lalu diminum hingga tinggal setengah. Anila tak curiga sama sekali, karena dipikirnya itu hanya air putih. Lama-lama pandangannya menjadi buram, Anila menyandarkan tubuhnya di sofa dan tertidur.


🐿️🐿️


Apa rencana Raffa sebenarnya ?? Penasaran ?? Tetap pantengin guys 😉😉

__ADS_1


__ADS_2