
Usai membuat heboh satu aula, Fyth turun dengan tergesa-gesa dari atas panggung menuju toilet. Sepertinya, ia kebanyakan minum saat mencicipi makanan tadi. Tanpa berpamitan pada Davin dahulu, Fyth berjalan cepat ke arah toilet yang sudah di tunjukkan oleh salah satu witers.
Sementara Leon yang melihat Fyth meninggalkan aula merasa mendapatkan kesempatan untuk mendekatinya. Setelah melihat sekeliling dan memastikan tidak ada yang memperhatikannya, Leon segera melangkah mengikuti langkah Fyth.
Leon menyandarkan tubuhnya ke dinding depan toilet, menunggu gadis tengilnya keluar. Sedangkan didalam toilet, Fyth yang sudah menuntaskan tujuannya berdiri di depan cermin merapikan rambutnya.
"Gara-gara nyanyi dangdut jingkrak-jingkrak tadi nih, rambut gue jadi ambyar," gerutu Fyth sembari membenarkan penjepit rambutnya. "Tapi seru juga sih." Cengir Fyth pada dirinya sendiri.
Dengan bersenandung kecil Fyth keluar dari toilet dan melewati Leon begitu saja. Melihat gadis tengilnya mengabaikan dirinya, membuat rasa gemas dalam dirinya meronta. Ditariknya pergelangan tangan Fyth dengan cepat lalu menggenggamnya erat.
Mendapat tarikan secara tiba-tiba, refleks Fyth menendang perut lawannya kuat hingga cekalan tangannya terlepas. Leon mengaduh kesakitan saat mendapat tendangan dari gadis tengilnya. "Aduh," Leon memegangi perutnya.
"Rasain, main pegang-pegang. Wlekk!," Fyth hendak meninggalkan Leon yang mengaduh kesakitan, namun Leon kembali mencekal tangannya dan mengunci gerakan Fyth ke tembok.
__ADS_1
"Hay gadis tengil, kau lupa padaku rupanya." Tanya Leon dengan kesal saat tahu Fyth tak mengenali dirinya.
"Emang kita bertemu ya om?" Fyth memiringkan kepalanya dengan gaya imutnya.
Wtf, om?.
Leon yang sebal semakin mengeratkan kuncian pada kedua tangan Fyth. Sementara Fyth bukannya takut justru terlihat tenang, dalam otak cantiknya sudah memikirkan celah untuk kabur dari pria tidak waras di depannya kini.
"Lihat aku gadis tengil, apa kau telah lupa siapa aku? Lelaki tampan yang kau hina di toko pakaian saat di mall." Leon mengingatkan kembali tentang pertemuan mereka. Mendengar kenarsisan lelaki didepannya ini, membuat Fyth ingin muntah.
Senyum miring tersungging di bibir Fyth, tanpa membuang waktu di tendangnya tukang kering pada kaki Leon dengan heelsnya. Sontak Leon berjongkok memegang kakinya yang di tendang Fyth.
"Aduh, apa yang kau lakukan?" Kesal Leon.
__ADS_1
"Menendang om," ucap Fyth dengan watadosnya.
Si*l, umpat Leon merasakan sakit luar biasa pada kakinya. Tak tanggung-tanggung sekali Fyth dalam melayangkan tendangannya.
Melihat lawannya kesakitan membuat Fyth iba, dengan perlahan di dekati Leon lalu berjongkok didepannya. Dengan wajah tengilnya, Fyth berkata, "Aku ingat siapa om, jadi tak perlu mengingatkanku dengan cara seperti itu. Dan satu hal lagi, rasain tendangan maut ku itu. Dasar om mesum, Wlekk!", Ejek Fyth lalu berdiri meninggalkan Leon sendiri.
Di sudut dinding tak jauh dari toilet, Raffa, Davin, dan Tama menyaksikan aksi Fyth dengan menganga. Raffa dan Davin mencoba menelan ludahnya susah payah, berbeda dengan Tama yang sudah merasakan tendangan maut Fyth dengan heelsnya.
"Kau harus hati-hati sepertinya jika sudah menikah dengan adikku Vin," ucap Raffa dengan serius.
"Kenapa?" Heran Davin.
"Salah-salah bukan kakimu yang jadi sasaran, tapi burung kecilmu itu yang akan dipotong olehnya. Jika kau macam-macam nantinya," sela Tama seraya menakut-nakuti Davin. Mendengar ucapan Tama membuat Davin bergidik ngeri seraya menutupi masa depannya.
__ADS_1
"Benar, kau sudah lihat bagaimana sadisnya adikku bukan. Bisa-bisa habis itu-mu nanti." Imbuh Raffa dengan gaya seriusnya, semakin menambah kengerian dalam diri Davin.
"Aku takkan macam-macam padanya, dan takkan berani." ucap Davin seraya mengusap tengkuknya.