
Plakk!!
Tubuh Tama terhuyung ke samping dengan rasa panas di pipinya. Semua orang menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang terjadi didepannya barusan. Sang penampar menatap nyalang ke arah Tama penuh air mata, sementara seorang lelaki paruh baya berusaha menenangkan.
"Tenanglah Ma, jika kau bersikap begini itu akan mempengaruhi kesehatan mu. Lagipula disini anak kita adalah korban. Papa yakin ia tak bersalah," ujar lelaki paruh baya itu, lalu berjalan menuju Tama dan membantunya berdiri.
"Papa," ucap Tama lirih menahan perih di pipinya dan juga sakit melihat Mamanya meneteskan air mata. Sungguh hati Tama seolah tersayat melihat wanita yang sudah membesarkannya kini menangis tersedu-sedu dihadapannya. Entah apa yang membuat papa dan mamanya kembali dari luar negeri, bahkan mamanya yang datang alih-alih memeluknya malah menamparnya.
"Tenanglah nak, kita akan mencari jalan solusinya." Kata Papa Bima menepuk pundak Tama perlahan. Bukannya mengiyakan justru Tama bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Papa nya, solusi apa yang dimaksud.
"Maksud Papa apa? Solusi apa? Tama tidak mengerti Pa." Ucap Tama kebingungan, lalu menatap semua orang meminta penjelasan namun semua diam membisu.
Melihat semua terdiam dan canggung, Fyth berusaha mencairkan suasana dihampirinya Mama Rania lalu memeluknya. "Mama, kenapa tidak bilang jika akan pulang. Putrimu yang cantik ini pasti akan datang menjemput ke bandara." Kata Fyth dengan manjanya memeluk lengan Mama Rania. "Ayo ikut denganku, Ma." Ajak Fyth lalu menuntun Mama Rania duduk disebelah Mommy Nathalie kemudian ia kembali duduk di tepi ranjang. Kini Mama Rania dirangkul bahunya oleh Mommy Nathalie dari samping untuk menguatkan.
__ADS_1
"Kalian semua duduk." Titah Daddy Barack. "Bim, kemarilah dan kau Tama, om akan menjelaskan,"
Tanpa menunggu lagi, Bima segara menuju kakaknya berada di ikuti Tama dari belakang. Dalam hati Bima sejujurnya kecewa, mengapa Tama tidak pernah menceritakan masalah ini sebelumnya. Niat hati bersama sang istri ingin memberi kejutan, justru malah mendapat berita mengejutkan.
"Baik, semua diam tanpa ada yang bicara ataupun menyela. Kita akan mendengar cerita dari versi Tama, ingat tanpa protes atau apapun. Cukup dengarkan dan cerna." Ucap Daddy Barack dengan tegas dan berwibawa tak lupa ekspresi datarnya, lalu mengalihkan pandangannya menuju Tama.
"Tama, jadi begini....
Daddy Barack menceritakan semuanya, dari awal datangnya seorang gadis yang berteriak di lobby hotel bahkan mengaku hamil. Lalu menunjukkan surat pemeriksaan dokter tentang kehamilan gadis itu.
Cukup lama Tama menundukkan kepalanya, Tama berdiri lalu mendekati Mama Rania. Segera Tama lipat kedua kakinya duduk bersimpuh dihadapan Mama Rania dengan mata berkaca-kaca. Sedangkan Mama Rania hanya menangis, enggan matanya menatap Tama yang kini bersimpuh didepannya. Hati Mama Rania sakit melihat air mata putranya menetes, namun kekecewaan menguasainya saat ini.
Perlahan Tama mengulurkan tangannya menghapus air mata Mama Rania, kemudian merebahkan kepalanya dipangkuan Mama Rania. "Ma...." Panggil Tama lirih.
__ADS_1
"Mama harus percaya sama Tama, apa pernah Tama berbohong sama Mama. Selama ini Mama mengajarkan kepada Tama untuk menghormati seorang wanita. Selama ini Mama yang mengajarkan arti kehadiran seorang wanita. Tama akui, saat itu yang Tama lakukan adalah salah, namun Tama dijebak Ma... " Lirih Tama seraya menitikkan air mata dari sudut matanya.
Kemudian Tama menceritakan segala hal yang terjadi, bagaimana awal mula tragedi itu menimpa dirinya. Semua tercengang mendengar penuturan Tama yang mengatakan jika tuan Handoko adalah dalangnya. Karena selama ini, mereka tahu jika tuan Handoko adalah partner bisnis yang baik walau kadang suka seenaknya. Mendengar segala cerita Tama membuat semua tak menyangka jika tuan Handoko orang yang licik.
Usai bercerita, Tama menenggelamkan wajahnya kepangkuan Mama Rania seraya menangis bergetar. Dirinya cukup kecewa pada diri sendiri, karena telah menyakiti hati orang yang sudah menolongnya bahkan orang yang sudah menjadi kedua orang tuanya.
"Selama satu bulan Tama mencarinya Ma, tapi Tama tidak menemukannya. Sungguh Tama akan bertanggungjawab, karena bagaimanapun itu darah daging Tama . Ma...." Tama tak lagi meneruskan perkataannya, karena sang Mama memeluknya erat secara tiba-tiba.
"Mama percaya padamu nak, maafkan Mama yang belum bisa menjagamu dengan baik. Maaf, apakah ini sakit nak? Maafkan Mama," ucap Mama Rania seraya menangis tergugu dengan membelai pipi Tama yang merah bekas tamparannya.
Tama menggelengkan kepalanya, "Tidak Ma, rasa sakit ini tak sebanding dengan rasa sakit yang Mama alami karena perbuatan Tama, Ma."
Seluruh orang terharu melihat adegan mengharukan didepan mereka. Tak khayal semua meneteskan air mata, kecuali Cynthia, gadis yang mengaku hamil anak dari Tama.
__ADS_1
Secara diam-diam, Fyth memperhatikan setiap gerakan dan bahasa tubuh gadis itu. Bahkan sekilas Fyth melihat jika gadis itu tersenyum menyeringai. Dalam hati Fyth merasakan jika semua salah dan tak sesuai. Namun apa?
Ck!, Gue harus selidikin nih. Gumamnya.