Se Anting

Se Anting
Bab 35


__ADS_3

Kini ke empat anak remaja itu berada di mall, siapa lagi jika bukan Fyth, Anila, Indri dan Tama. Mengapa Tama bisa ikut? Tentu saja dengan merengek manja saat tahu Fyth akan pergi ke mall bersama kedua sahabatnya.


Fyth berjalan bersama Anila meninggalkan Tama yang berusaha mengiringi langkah Indri. Ingin sekali Indri mencubit ginjal kedua sahabatnya itu, bagaimana tidak, melihat Anila dan Fyth yang sengaja membuatnya berdua dengan Tama. Awas kalian berdua ya, batin Indri.


"Ndri, jangan cepat-cepat kenapa Jalannya." Kesal Tama yang berusaha menggenggam tangan Indri, namun ditepis Indri berulang kali.


Tak memperdulikan ocehan Tama, Indri mempercepat langkahnya dan melewati kedua sahabatnya begitu saja disusul Tama yang berusaha mengejar langkah Indri.


Sementara Anila dan Fyth cekikikan melihat drama India yang berlangsung di depan keduanya. Fyth tahu apa yang membuat Indri kesal terhadap Tama, karena Indri sudah menceritakan permasalahan yang sebenarnya. Sengaja Fyth mengajak Anila berjalan terlebih dahulu meninggalkan Indri dan Tama agar mereka bisa menyelesaikan kesalahpahaman diantaranya.


Anila tidak tahu apa yang terjadi antara Indri dan Tama, baik Indri maupun Fyth belum bercerita kepada Anila. Bukan tak ingin bercerita, namun Fyth ingin Indri sendiri yang membuka suara.


"Bontot, itu kenapa Indri sama Tama?" tanya Anila penasaran melihat tingkah keduanya.


"Lagi latihan tari India," jawab Fyth asal dengan pandangan mata melihat ke kedai ice cream.


"Tari India?", Beo Anila kebingungan.


"Udah, gak usah urusin rumah tangga orang Nil. Beli ice cream yok." Tanpa menunggu jawaban Anila, Fyth segera menarik tangannya lalu menuju kedai ice cream.


Melihat tingkah Fyth membuat Anila geleng kepala, seperti bocah saja sahabatnya satu ini. Tak urung jua ia menginginkannya.


Sedangkan Indri kesal dengan Tama yang terus saja mengikuti, bahkan berusaha untuk menggenggam tangannya. Indri tak segan-segan menepis tangan tangan yang hampir berhasil menggapai jemarinya.


Sungguh amarah masih menguasai hati Indri, mengingat tempo hari saat melihat Tama makan dengan seorang wanita di cafe. Bahkan tanpa sungkan wanita itu menyuapkan makanannya kepada Tama, dimana Tama bukan menolak justru membuka mulutnya menerima suapan wanita itu.


"Ndri, udah dong marahnya. Aku gak ngerti kamu marah kenapa, jika aku ada salah tolong kasih tahu aku. Biarkan aku memperbaikinya," bujuk Tama.

__ADS_1


Indri menghentikan langkahnya, lalu menatap Tama lekat sebelum menghembuskan nafasnya perlahan.


"Dengar Tama, pertama, aku bukan siapa-siapa untukmu. Kedua, kau bukan orang yang setia untukku. Ketiga, lupakan niatmu untuk memulai hubungan serius jika kau masih belum memantapkan hatimu padaku. Ah, dan ya... Jangan pernah lagi datang ke mansion." Indri melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Tama dengan buliran air mata menetes di pipi chubby-nya.


Diusapnya kasar wajah Tama, seraya menatap punggung Indri yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Bingung, itulah yang dirasakan perasaan Tama saat ini. Apa salahnya? Dimana letak kesalahannya?, Tama menarik rambutnya kasar lalu pergi menuju kedai ice cream tempat sepupunya berada. Hanya sepupunya yang mampu mengatasi kegelisahan dan keresahan hatinya akan sikap Indri kepadanya.


Duduk di samping kaca menjadi pilihan Fyth dan Anila, bahkan tanpa sungkan Fyth menambah satu porsi jumbo Ice cream kembali. Anila hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fyth, Dasar maniak ice cream, batin Anila.


Tak lama Anila memecahkan keheningan di sekitar keduanya, "Hei bontot, lue makan segitu banyak siapa yang akan membayarnya?", Heran Anila.


"Tentu saja cakapar yang bayarin," ucap Fyth dengan cekikikan.


"Siapa cakapar, pacar kakak lue?" Anila penasaran dibuatnya.


"Jelek banget, lagian kok gue yang bayarin sih?'


"Lue kan kakak",


"Astaga." Anila memijat keningnya kesal mendengar celotehan Fyth.


Anila yang malas menanggapi ocehan calon adik iparnya lebih memilih menghabiskan ice cream-nya. Merasa dicuekin oleh cakaparnya, timbul ide jahil dalam otak cantik Fyth. Hehehe awas kau cakapar, senyum smirk Fyth.


Segera Fyth habiskan ice cream pesanannya, lalu mengajak Anila untuk belanja. Sebelum itu Fyth menghubungi Indri untuk menanyakan posisinya.


"Hei gethuk lindri, posisi?", tanya Fyth to the point begitu sambungan terhubung.

__ADS_1


Sementara Indri yang mendengar Fyth memanggilnya gethuk lindri hanya mendengus sebal. Jika saja bukan sahabatnya, mungkin sudah Indri damprat ini anak.


"Woy, masih bernyawa kan? Diem bae," kesal Fyth.


"Masih nyonya," ucap Indri dengan memutar bola matanya malas. "Gue sedang perjalanan pulang..," belum sempat Indri menyelesaikan ucapannya, Fyth sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Apa? Kenapa pulang? Si Timi nyakitin lue? Dia kurang ajar sama lue? Emang lue nggak jadi beli....," celoteh Fyth tanpa jeda.


"Astaga, hei bontot! Kenapa tidak ikut lomba nge-rep aja sih," dengus Indri.


"Hehehe, makanya jawab. Kalo ngomong jangan putus-putus, langsung aja. Lagian gue dengerin kok, gak bakalan gue cuekin. Beneran," kata Fyth sembari berjalan keluar dari kedai ice cream bersama Anila.


Dari kejauhan Tama yang melihat sepupunya keluar dari kedai segera mempercepat langkah kakinya karena tak ingin ditinggalkan lagi. Cukup Indri yang meninggalkannya sendiri tadi.


"Lagian gue balik di telepon mami suruh antar ke salon bontot." Indri membayar taksinya lalu masuk ke dalam mansion.


"Oh, gue kira gara-gara si Timi makanya lue balik," tanpa di sadari Fyth dan Anila, orang yang di bicarakannya sudah berkacak pinggang di belakang mereka.


Mendengar ocehan Fyth tentang dirinya membuat Tama sebal, dirampasnya ponsel Fyth lalu mematikan sambungan teleponnya.


Terkejut, itulah yang dirasakan Fyth saat ada yang menarik ponselnya dari belakang. Hampir saja Fyth memberikan bogeman, saat tahu sepupunya yang mengambil ponselnya membuat Fyth mendengus kesal.


Anila yang hampir berteriak copet sontak mengurungkan niatnya begitu tahu siapa pelakunya. Dengan kesal, Anila menendang kaki Tama menggunakan sepatunya.


Mendapat tendangan secara tiba-tiba sontak Tama meringis sembari mengusap kakinya. "Kok gue di tendang si Nil," kesal Tama.


"Rasain, siapa suruh bikin gue jantungan." Anila menarik tangan Fyth yang menjulurkan lidahnya ke arah Tama menuju toko pakaian tanpa menghiraukan Tama yang memanggil mereka.

__ADS_1


__ADS_2