Se Anting

Se Anting
Bab 81


__ADS_3

Seorang pria keluar dari sebuah kamar seraya mixsuh-mixsuh tak jelas, bahkan dengan kasar melepas jas yang dipakainya lalu membuangnya ke dalam tong sampah. Pria itu tak lain adalah Leon, yang pergi meninggalkan seorang wanita yang tengah tertidur lelap setelah diberi obat tidur.


Kalian harus membayar ku dengan mahal setelah ini, gumamnya.


Pagi menjelang semua keluarga Pratama dan keluarga Nugraha memutuskan untuk kembali ke mansion masing-masing. Kecuali para genk Kiwil-kiwil yang masih anteng berada di dalam kamar Raffa guna membahas rencana mereka tanpa Tama. Bukan tanpa sebab tak mengikut sertakan Tama, karena menurut Raffa dan Fyth akan lebih baik jika Tama mengikuti alur agar Cynthia tidak curiga.


"Jadi?" Tanya Raffa yang memulai pembicaraan, Anila yang duduk disebelah Raffa sontak mengernyitkan keningnya. Apanya yang jadi?, Pikir Anila.


"Misi pertama dah kelar, gue udah sadap itu ponselnya." Jawab Leon dengan meletakkan tangannya di bahu Indri. Walau harus mengorbankan waktu dan jas mahal gue, gerutunya dalam hati.


"Wah mantap kak Le," ucap Fyth seraya cekikikan, apalagi melihat wajah kesal kakaknya itu.


"Lalu misi keduanya apa?" Tanya Indri dengan menyandarkan kepalanya di dada Leon.


"Tentu saja mencari pengantin wanita aslinya, aku yakin jika keduanya memiliki hubungan." Kata Raffa. "Aku sudah mengerahkan anak buahku, tinggal menunggu hasilnya nanti." Lanjutnya.


"Tapi sayang, aku tidak mengerti disini adalah bagaimana Cynthia tahu tentang kejadian malam itu?" Bingung Anila.

__ADS_1


"Aku tidak tahu pasti bagaimana ia tahu lalu apa motifnya, namun menurut feeling ku mengatakan jika masih ada dalang di balik ini semua."


"Kau benar kak, aku juga merasakan hal yang sama. Sejak awal aku sudah curiga padanya," imbuh Fyth. "Lalu Ndri, gimana dengan tugas yang gue kasih ke lue?"


"Aman, gue udah suap pembantu disana buat diajak kerjasama. Kebetulan itu pembantu juga udah nggak tahan sama sikap itu orang. Tapi dari segi yang gue lihat kalo denger cerita itu pembantu, tuh orang kayaknya aneh banget deh." Jawab Indri.


"Dari tampang aja udah aneh dan memuakkan," celetuk Raffa sekenanya. Karena dari dulu seluruh keluarga Pratama hanya tahu baiknya orang itu saja, kecuali ia dan Daddy-nya yang tahu sifat asli liciknya.


"Kau benar kak, tapi disini yang jadi pertanyaanku adalah dendam apa sebenarnya yang dimiliki Handoko pada keluarga kalian? Lalu apa hubungan antara dia dan Cynthia?" Ujar Indri yang cukup penasaran dengan semuanya.


"Kak, aku merasa masih ada yang aneh disini?" Ucap Fyth penuh kebingungan.


"Kita akan tahu semua tepat di hari pernikahan Tama nanti," Raffa tersenyum menyeringai lalu menatap Leon. "Pantau ponselnya, jangan sampai kecolongan."


Lalu beralih menatap ke arah Indri, "Terus pantau pergerakan Handoko, sekecil apapun informasinya bisa saja itu berguna." Indri mengangguk mengerti. Raffa melirik jam di dinding yang menunjukkan hampir pukul sepuluh, lalu mengajak semuanya pulang dari hotel. Tanpa bantahan semua membubarkan diri untuk kembali ke mansion masing-masing.


*

__ADS_1


*


*


Di sebuah kota A, tepatnya rumah kontrakan kecil terlihat Vania sedang menyiram tanaman. Wajahnya yang teduh, sifatnya yang lembut membuat semua tetangga Vania sangat menyukainya. Bahkan ada beberapa tetangga yang mengetahui cerita bagaimana Vania bisa hamil, tak membuat mereka mengucilkan Vania. Justru mereka memeluk erat Vania dengan menyemangati hari-harinya.


Tentu hal tersebut membuat Vania tak kuasa menahan tangisnya, karena ia mengira jik semua tahu kisahnya maka dirinya akan di benci bahkan di usir. Namun semua tebakannya salah, malah semua orang turut prihatin dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.


"Nak, sehat-sehat didalam perut bunda ya. Bunda sayang kamu nak," ucap Vania dengan mengusap lembut perutnya. "Bagaimana kabar Cynthia? Ia tak pernah lagi menghubungi diriku sejak tahu aku hamil." Sendunya.


"Apa dia juga pergi meninggalkanku sendiri, dan menjauhiku ketika tahu aku hamil?" Tak terasa air mata Vania menetes membasahi pipi. "Apakah laki-laki itu juga mencari ku?" lanjutnya.


Apa yang kau pikirkan Vania, tak mungkin laki-laki itu mencari mu. Tahu rupa wajahmu saja tidak, gumamnya dalam hati seraya menatap langit yang cerah.


Tak ingin larut dalam kegundahan hatinya, Vania memutuskan untuk masuk kedalam kontrakannya lalu menuju dapur. Vania mengeluarkan semua bahan-bahan untuk membuat kue bolu, hari ini Vania mendapat pesanan 5 box kue bolu pandan.


Dengan penuh semangat, Vania mengerjakan semuanya sembari bersenandung kecil. Sesekali Vania mengusap perutnya sebagai tanda penyemangatnya, "Alhamdulillah rejeki nggak kemana ya nak," lirihnya.

__ADS_1


__ADS_2