Se Anting

Se Anting
Bab 39


__ADS_3

Dipa uring-uringan sendiri melihat tingkah bosnya yang menyebalkan. Bagaimana tidak, dirinya harus bisa menemukan gadis tengil yang berani memanggil sang bos dengan sebutan "om". Dalam 24 jam ia harus bisa memberikan informasi tentang gadis itu.


Flashback on


"Aku tak mau tahu Di, temukan dia untukku. Dalam 24 jam berikan semua informasinya padaku tanpa terkecuali." Perintah Leon tak terbantahkan.


Sementara Dipa hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Gadis mana yang dimaksud tuan Leon, monolog Dipa dalam hati.


"Em, tuan. Gadis mana ya tuan? Karena saat itu bukankah tuan bertemu dengan 3 gadis waktu di mall," tanya Dipa dengan hati-hati.


"Bukan dua ondel-ondel yang berikan mommy ku. Tapi gadis di toko pakaian yang menabrak diriku, Didi." Kesal Leon pada asistennya ini.


"Baik tuan akan segera saya laksanakan. saya permisi." Dipa ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan tuannya, melihat tatapan horor tuannya membuat merinding sekujur tubuhnya.


Flashback off


Setelah mengecek cctv mall tempat terakhir yang dikunjungi tuannya, Dipa segera menghubungi anak buahnya untuk melaksanakan tugas segera. Entah apa yang dipikirkan tuannya, sehingga menyuruh mencari tahu identitas gadis itu.

__ADS_1


Dengan mendudukkan kasar tubuhnya di sofa, Dipa memijat keningnya. Bukan pusing karena permintaan tuannya, justru Dipa pusing jika bonusnya harus hangus karena gagal dalam misi.


"Tidak, bonusku sudah menanti. Aku harus semangat!", Tekad Dipa penuh energi. "Tapi kemana aku mencarinya?", Batin Dipa menangis.


Suasana dipinggir pantai sangat sejuk, acara sudah dimulai dari setengah jam yang lalu. Bahkan tak tanggung-tanggung, keluarga Pratama menundang artis papan atas untuk ikut serta memeriahkannya. Seperti saat ini, Syahrini berduet mesra dengan sang suami, siapa lagi jika bukan Reino Barack.


Sedangkan kedua pasangan tercinta yang telah usai melakukan pertukaran cincin, duduk manis di tempat yang sudah disediakan. Masih dengan mengerucutkan bibirnya, Fyth mengacuhkan Davin yang berada di sampingnya. Davin yang melihat tingkah tunangannya sontak terkekeh lalu menggenggam erat jemari Fyth.


Perlahan Davin mendekatkan wajahnya ke telinga Fyth dan berbisik lembut. "Kondisikan bibir manismu sayang, jika tak ingin aku menciumnya saat ini juga." Davin meniup telinga Fyth membuat bulu kuduk meremang seketika.


Mendengar bisikan Davin sontak pipi Fyth merona, untuk menutupi kegugupannya Fyth mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Melihat pujaannya salah tingkah, Davin tersenyum senang. Inilah yang dia suka, menggoda Fyth dan membuat wajahnya bersemu merah.


"Jadi berita camping itu hanya sandiwara Raf?" tanya Anila begitu Raffa menyelesaikan ceritanya.


"Iya, dan sebenarnya camping itu masih 2 bulan lagi." Jelas Raffa.


"Wah wah, aku kasian sama bontot," tutur Anila.

__ADS_1


"Kenapa?" Raffa mengerutkan keningnya heran.


"Semalam dia vc dan udah siapin satu tas camilan. Kasian sekali ternyata hanya sandiwara." Kekeh Anila.


"Kau benar." Timpal Raffa kemudian. "Kasian tas camilannya, nggak termakan." Sontak ucapan Raffa membuat keduanya tertawa bersama.


Di lain meja, tepatnya Indri dan Tama bersitegang membuat suasana mencekam disekitarnya. Bahkan keduanya mengabaikan witers yang mengantar minuman ke meja mereka. Sorot mata tajam keduanya tak lepas sedikitpun.


"Jadi, apa kesalahanku Ndri?", Tanya Tama pada akhirnya.


"Kau belum tahu juga Tam?, Kau sebenarnya tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?." Sengit Indri.


Tama menghela nafasnya kesal, Indri tak jua menunjukkan kesalahannya. "Stop, katakan saja apa salahku Ndri?" Ucap Tama yang mulai jengah dengan sikap kekanakan Indri.


"Okey, kau mau tahu bukan. Dengarkan aku baik-baik, pantaskah seorang laki-laki yang sudah berani datang ke rumah orang tua wanita makan dengan gadis lain? Bahkan dengan beraninya saling suap-suapan di tempat umum? Dan beraninya seorang laki-laki yang sudah mengambil ciuman pertama seorang wanita, berpegangan tangan erat dengan wanita lain? Jawab aku Tama." Tutur Indri penuh penekanan.


Mendengar semua penjelasan Indri membuat Tama terkejut dan gugup seketika, dalam benaknya bertanya, bagaimana Indri bisa tahu.

__ADS_1


Melihat kegugupan Tama, senyum tipis tersungging pada bibir Indri. Sementara Tama mencoba menelan ludahnya susah payah saat tatapan matanya bertabrakan dengan kedua mata Indri.


"Aku.....


__ADS_2