
Fyth yang berhasil melepaskan diri dari Davin, segera mendorong dengan kasar tubuh Davin hingga terpundur ke belakang. Fyth mengusap kasar bibirnya, Davin yang melihat pun sontak membulatkan matanya. Dalam hatinya bertanya, apa ciumanku kurang memabukkan atau mulut ini kurang wangi.
Setelah itu dengan langkah cepat Fyth maju ke arah Davin dan melayangkan tamparan untuknya.
" Saya berfikir anda orang terhormat, ternyata saya salah. Dasar dosen mesum, beraninya anda mengambil ciuman pertama saya. Lihat saja, saya pastikan ini terakhir kalinya untuk kita bertemu " seraya menginjak dengan kuat kaki Davin menggunakan sepatu kulitnya.
Sontak Davin merintih kesakitan pada kakinya, Fyth keluar dari ruangan Davin dengan menutup pintunya keras sekali. Davin yang melihat itu hanya tersenyum tipis, " Apa dia bilang tadi, ciuman pertamanya. " Davin sontak memegang bibirnya dan berkata " Aku yang pertama, maka hanya boleh aku selamanya. Kau milikku gadis tengil, akan ku pastikan itu " ujar Davin sembari tersenyum smirk.
Fyth berjalan menuju parkiran dengan terus menggerutu, mulut mungilnya itu tak berhenti mengumpat kelakuan Davin, dosen menyebalkannya itu. Bahkan selain menyebalkan sekarang menjadi mesum.
Fyth yang kesal pun segera pergi ke warung mie ayam mbok Piam depan kampusnya. Memang sudah menjadi kebiasaan Fyth, jika kesal maka makanlah yang ia jadikan pelampiasan.
" Mbok Pipim " panggil Fyth kepada mbok piam.
" Mbok Piam nduk, ora Pipim " jawab mbok piam.
" Gak mau ah, masak panggilnya mbok Piam... Kurang gaul mbok. Mending mbok Pipim aja deh " kekeh Fyth. Mbok Piam yang mendengarnya pun hanya menggelengkan kepalanya. Sudah bukan hal baru lagi jika gadis ini kerap kali mengganti nama panggilannya. Jika kemarin dia menyebut Pia, maka besoknya Pam, dan hari ini bahkan sudah berganti menjadi Pipim.
Fyth yang melihat mbok piam geleng kepala seraya terkekeh. " Siapapun nama mbok, mbok tetap mboknya Fyth. Karena mbok mengingatkan Fyth pada Alm. Nenek Fyth. Bukan berarti pengganti karena nenek Fyth yang Alm. selalu ada di hati Fyth selalu " tutur Fyth.
" Uluh-uluh, siap neng cantik sayangnya mbok.... Duduk dulu ye " kata mbok Piam.
Fyth segera duduk dikursi sebelah jendela, lalu mengambil hpnya dan segera menghubungi sang kakak untuk datang menjemputnya.
Raffa yang mendapat telfon dari sang adik pun mengerutkan keningnya. Raffa segera menggeser tombol hijau pada handphone-nya.
" Hallo.. ada apa bontot ? " Tanya Raffa.
" Kak jemput aku sekarang, depan kampus " jawab Fyth.
" Baiklah, kebetulan kakak habis meeting di restoran. Kakak meluncur kesana " kata Raffa pada Fyth. Sontak hal itu membuat Fyth heran, biasanya kakaknya selalu menyuruh asisten Dimas untuk menjemputnya. Kenapa sekarang kakaknya menyetujui begitu saja, ini tidak benar.
__ADS_1
" Wait wait,, ini beneran kak Raffa kan ? " Tanya Fyth.
" Maksudnya, tentu saja aku kakakmu Raffa " jawab Raffa yang kebingungan.
" Kalo iya, tumben sekali setuju untuk menjemput. Biasanya juga nyuruh si Imas jemput " sewot Fyth pada Raffa.
Raffa menghela nafasnya, " Dimas bontot, Dimas namanya " gemas Raffa pada adiknya satu ini.
" Nggak bisa bilang Dimas, bisanya Imas " cuek Fyth. Raffa yang gemas ingin segera mengakhiri sambungan telfonnya.
" Sudah kakak jemput sekarang, jangan bawel " seraya mematikan telfonnya.
Fyth yang melihat panggilan dimatikan sang kakak pun menggerutu kesal. Entah mengapa hari ini sangat mengesalkan.
🐿️🐿️
Waktu terus berjalan, sudah seminggu Fyth menghidarkan diri dari manusia bernama Davin. Setiap ada jadwal kelas dosen menyebalkannya itu, Fyth selalu mencari alasan kepada Nila dan Indri untuk tidak menghadiri kelasnya. Seperti saat ini, Fyth lebih memilih makan mie ayam dibandingkan masuk ke kelasnya.
" Apa sih Nil, nggak ada " sambil meniup mie ayamnya.
" Udah seminggu lue gak hadir kelas pak Davin dudul " sahut Indri.
" Biarin napa, orang tugas jalan terus kan " mengangkat kedua bahunya acuh.
" Tapi absensi lue kosong, emang mau ngulang mata pelajaran ntar " bujuk Anila
" Entah " jawab Fyth singkat.
Anila dan Indri hanya menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya satu ini yang tidak ada takut-takutnya pada dosennya. Tak lama Anila dan Indri pamit menuju kelas, tak lupa Fyth juga menitipkan tugasnya kepada mereka berdua.
Sementara Davin dibuat tak karuan, sejak ciuman itu gadis tengilnya tidak pernah menghadiri kelasnya lagi. Ada rasa takut di hatinya jika ucapan gadis tengilnya tempo hari nyata adanya. Davin yang tidak bisa konsentrasi, memilih keluar kelasnya menuju ruangan sepupunya, Helen.
__ADS_1
Tanpa mengetuk pintu, Davin segera masuk ke ruangan Helen. " El... " Panggil Davin.
Helen yang sedang mengetik terpaksa harus menghentikan tulisannya dan menatap ke sepupunya itu. " Ada apa Dav ? " Tanya Helen to the point.
" Gantiin gue kelas hari ini ya " pinta Davin.
Helen yang mendengarnya pun sontak membulatkan matanya. " Memangnya kau mau kemana ? " Jawab Helen.
" Ada urusan di luar, lalu aku harus ke kantor sekarang juga " ujar Davin.
" Baiklah, aku gantikan nanti "
" Kau memang sepupuku yang baik, thanks El " kata Davin, " Baik aku pergi sekarang " lanjutnya sembari berjalan keluar ruangan Helen.
Helen kembali fokus ke pekerjaannya sebelum menuju kelas tempat Davin mengajar tadi. Karena terlalu fokus, Helen tak menyadari jika ada seorang laki-laki yang masuk ke dalam ruangannya.
" Ehem.... " Dehem sang lelaki itu. Sontak Helen mengalihkan pandangannya ke depan, betapa terkejutnya melihat siapa yang masuk ke dalam ruangannya.
" Abang Ary..... " Seketika Helen berdiri dan memeluk kekasihnya itu.
" Rindu tidak ? " Tanya bang Ary sembari membalas pelukan Helen.
" Rindu sekali " ucap Helen manja. Helen bahagia kekasihnya sudah kembali dari dinasnya di luar negeri.
" Abang juga, ayo kita makan di luar bersama " Ajak bang Ary kepada Helen.
" Tidak bisa... Masih ada kelas satu lagi " rengek Helen manja.
" Baiklah, ku tunggu sampai kelas mengajarnya selesai kalau begitu " ujar bang Ary.
" Baiklah, ku segera selesaikan dulu semua " Helen tersenyum manis sembari merapikan catatannya.
__ADS_1
Didalam kelas ricuh sekali, karena sang dosen yang tiba-tiba keluar kelas dan belun kembali lagi. Anila dan Indri yang sudah bosan, memilih keluar kelas menuju kantin untuk makan. Setelah itu pulang ke rumah masing-masing.