
Bruk!
Tanpa sengaja tubuh Fyth menabrak seorang wanita yang sedang melintas didepannya karena terlalu fokus menatap ponsel. Fyth yang mengutak-atik ponselnya sambil berjalan tak memperhatikan sekitarnya. Bahkan ada segerombolan bebek menyebrang pun ia tak tahu.
Mendengar wanita itu kesakitan sambil memegang perutnya membuat Fyth panik, tanpa kata segera memapah lalu membawanya masuk ke dalam mobil untuk membawa wanita itu menuju klinik terdekat. Wanita itu terus merintih dengan keringat dingin bermunculan di keningnya.
"Omg, are you okey? Sebentar lagi kita sampai, bertahanlah." Ucap Fyth begitu panik saat menatap wanita itu mulai kehilangan kesadaran.
Begitu sampai di sebuah klinik, Fyth segera memanggil petugas untuk menolong wanita yang dibawanya. Wanita itu segera di arahkan menuju ruangan dokter untuk di beri penanganan. Fyth menunggu didepan ruangan seraya mondar-mandir begitu gelisah.
"Ck! Niat nyari alamat kok malah jadi gini sih," gerutu Fyth.
Hampir setengah jam, dokter yang menangani wanita itu baru keluar. Fyth segera mendekat, "Bagaimana keadaannya dok?"
"Pasien tidak apa-apa, untung anda membawanya tepat waktu kemari. Jika tidak, mungkin ia akan keguguran dan kalau boleh saya tahu, anda siapanya beliau?" Tanya dokter Rika, begitulah yang tertulis di name tag-nya.
"Saya...
Ucapan Fyth terhenti saat seorang suster keluar memanggil dokter Rika untuk masuk kembali. Ada apa?, Tanya Fyth dalam hati.
__ADS_1
Hanya beberapa menit saja lalu dokter Rika kembali keluar, Fyth mendekat kembali dan bertanya apakah bisa menemui wanita itu. "Maaf dokter, bisakah saya bertemu dengannya?"
"Bisa, silahkan masuk. Dan maaf saya tinggal sebentar karena ada keperluan," ucap dokter Rika ramah.
"Baik, terima kasih dokter." Dokter Rika mengangguk lalu segera pergi. Fyth masuk kedalam ruangan, didalam ia disambut oleh senyum manis wanita itu.
"Terima kasih sudah menolong ku dan anakku," ucap wanita itu seraya mengusap perutnya.
"Sama-sama, gue juga minta maaf nggak sengaja nabrak lue tadi." Ucap Fyth sembari menatap wanita itu dengan seksama. "Btw, gue Fyth. Siapa nama lue?" Fyth mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh wanita itu.
"Aku Vania," Ucap wanita bernama Vania yang tak lain adalah orang yang sedang di cari oleh Fyth saat ini.
"Aku mau ke pasar membeli bahan untuk membuat kue." Jawab Vania dengan senyumnya.
"Owh, ngomong-ngomong gue lagi nyari seseorang sih. Namanya Vania Larasya, kenal nggak?"
"Aku Vania Larasya."
Deg.
__ADS_1
Mata Fyth membulat sempurna saat mengetahui orang yang dicarinya kini ada didepannya. Sungguh Tuhan maha adil, tanpa harus ia bersusah payah mencari kini orangnya sudah ada disini. Tuhan memang maha adil, gumam Fyth.
"Kita harus bicara," ucap Fyth kemudian.
*
*
*
Suara Isak tangis Vania memenuhi ruang tamu, begitu hancur dan sakit hatinya ketika mengetahui kenyataan tentang sahabatnya yang tega menorehkan dan menusuk luka. Cynthia, sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri bahkan orang yang telah menguatkan dirinya justru mengaku menjadi dirinya untuk menikahi laki-laki yang sudah merenggut kesuciannya hingga kini menjadi janin dalam rahimnya.
"Apa salahku? Mengapa Cynthia tega melakukan itu?" Tangis pilu Vania.
Di sudut sofa, Fyth hanya menatap ke arah Vania dengan diam, ia sudah menceritakan segalanya tentang apa yang kini menimpa sepupunya dan apa yang telah di lakukan Cynthia kepada keluarganya dengan mengaku menjadi wanita yang sudah dihamili Tama.
Sebelumnya, salah satu anak buah kak Raffa datang ke mansion untuk menyampaikan informasi bahwa telah menemukan orang yang dicarinya. Namun, terlebih dahulu Fyth mencegah untuk mengetahuinya terlebih dulu. Begitu mendapatkan apa yang di inginkannya, Fyth segera pergi menemukan wanita yang bernama Vania.
"Apa yang harus ku lakukan?" Lirih Vania di tengah tangisnya.
__ADS_1
Dengan tatapan iba, Fyth mengulurkan tangannya seraya berkata, "Ikutlah bersamaku untuk membuka kebenaran."