Se Anting

Se Anting
Bab 11


__ADS_3

Di parkiran kampus Tama sudah menunggu Indri keluar dari kampusnya. Kedatangan Tama lantas menjadi kehebohan tersendiri bagi para gadis yang melihatnya. Bagaimana tidak, penampilan Tama sangat maskulin sekali.


Tama tak menghiraukan teriakan para gadis yang memanggil ataupun menggodanya, dalam penglihatan Tama hanya Indri lah paling menggoda baginya. Indri yang tercantik, terbaik, dan terhebat untuk Tama.


Tak berselang lama, Indri pun keluar. Tama yang melihatnya sontak berjalan mendekat ke arah Indri seraya melihat kanan dan kiri. Bukan takut ketahuan, namun mencari keberadaan seseorang.


Indri mengernyitkan keningnya melihat Tama berada di kampusnya. " Apa mencari bontot ya ? " Tanya Indri dalam hati.


Tama yang hampir sampai di depan Indri, langsung saja melambaikan tangannya kepada Indri seraya menyugar rambutnya ke belakang. Sontak semua mahasiswi perempuan yang melihat berteriak histeris. Indri yang mengetahui itu memutar bola matanya malas.


" Ada apa ? " Tanya Indri ketus saat Tama berdiri di depannya.


Tama tersenyum manis, lalu berkata " Menjemput calon istriku pulang ".


Indri yang mendengar ucapan Tama, sontak pipinya memerah. Namun, dengan gaya tenangnya dia berkata " Baik, silahkan mencari calon istri anda " Indri beranjak dari tempatnya menuju parkiran.


Tama membulatkan matanya mendengar ucapan Indri. " Gadis ini... " Gumam Tama pelan.


Tama berlari menuju Indri dan mencekal pergelangan tangannya. " Pulang sama aku, tak ada bantahan, tak ada penolakan " menarik tangan Indri menuju mobilnya.


Indri terbengong melihat sikap Tama. Sementara semua mahasiswi yang melihat sontak berteriak, Indri yang malu pun segera mempercepat langkah kakinya menuju mobil Tama.


Selama perjalanan Indri tak berhenti memarahi Tama. Sedangkan Tama yang mendengar celotehan Indri hanya tersenyum, baginya amarah Indri ibarat sebuah lagu yang sangat merdu untuk di dengar. Dasar si Timi bucin akut memang...


" Paham nggak kamu ? " Omel Indri.


" Paham sayangku " jawab Tama seraya mengerlingkan matanya.


" Paham ucapan aku apa paham hati aku " goda Indri.


" Paham semua yang ada pada dirimu " timpal Tama. Sontak keduanya tertawa bersama.

__ADS_1


" Kau asyik juga ya " ucap Indri di sela-sela tawanya.


" Dan kau cukup lucu dan menyenangkan juga, aku suka " kata Tama seraya mengerlingkan matanya. Tama sama seperti Fyth, typical orang yg ceria.


" Katakan padaku, kenapa Fyth bisa memanggilmu Timi ? " tanya Indri pada Tama. Sungguh Indri dibuat sangat penasaran, mengapa sahabatnya itu memanggil Timi pada Tama.


" Entahlah, ceritanya lumayan panjang " jawab Tama seraya terkekeh.


" Ceritakan padaku kalau begitu " desak Indri pada Tama.


" Baiklah.... jadi begini...


🐿️🐿️


Sementara Fyth yang sudah berdiri dari pangkuan Davin, segera mencari alasan untuk pergi. Fyth tidak mau terlalu lama berada di samping Davin yang mengakibatkan jantungnya berpacu tak karuan. " Astaga jantungku... " Kata Fyth dalam hati.


Fyth melihat sekitar dan melihat sebuah plastik melayang di atas danau. Sebuah ide seketika muncul di otak cantiknya. Fyth menoleh ke arah Davin yang masih salah tingkah.


" Ehm... Pak... "


" Baik, pak.. eh.. Davin maksudku, boleh aku minta sesuatu ? " Tanya Fyth seraya memasang wajah menggemaskan.


Davin yang melihatnya sungguh gemas sekali, sontak Davin mencubit kedua pipinya. Fyth membulatkan matanya saat pipinya di cubit gemas Davin, hingga tangannya reflek memukul punggung tangan Davin agar melepaskan cubitannya.


" Plak... " Kesal Fyth.


" Aw... Kok dipukul sih Fyth " ringis Davin yang mendapat pukulan, namun diabaikan oleh Fyth.


" Ada layangan ! " Tunjuk Fyth ke belakang Davin.


Davin yang penasaran sontak membalikkan badannya. Fyth yang melihat itu, segera mengambil langkah seribu untuk kabur. Baru Davin akan berbalik, matanya menangkap sosok seorang gadis sedang berlari keluar taman. Sialnya, dia mengenal gadis itu. Fyth.

__ADS_1


Davin yang kesal segera mengejar Fyth. Ia berlari keluar taman secepat kilat. Namun sayang, jejak Fyth sudah tak terlihat lagi. " Sial ! " Umpat Davin dalam hati.


Fyth yang bersembunyi di balik pohon pun menjulurkan lidahnya ke arah Davin. " Wlek, enak aja mau ngejar gue, bodyguard aja gue kibulin " kata Fyth seraya mencari ponselnya di dalam tas.


Setelah mendapatkan ponselnya, Fyth segera menghubungi kakaknya agar menjemputnya. Berulang kali Fyth menghubungi kakaknya namun tak jua terjawab.


" Banting aja kak itu ponsel, banting. Di telpon nggak di jawab, nggak tahu lagi urgent ya " gerutu Fyth sembari mencari kontak Tama. Fyth segera menekan nomor Tama begitu ditemukannya.


🐿️🐿️


Di dalam restauran, Tama baru saja selesai makan bersama Indri. Tiba-tiba ponselnya berbunyi keras sekali di atas meja.


Tama melihat siapa yang menghubunginya, keningnya mengernyit ketika tahu sepupunya yang menghubungi. Tama segera menggeser tombol hijau pada ponselnya.


" Halo... " Ucap Tama.


" Timi, akhirnya lue mau angkat telfon gue. Nggak kayak kak Raffa, ditelpon nggak di angkat-angkat. Banting aja itu ponsel " omel Fyth. Tama yang mendengar Fyth memanggilnya Timi sontak mendengus kesal.


" Ada apa tobar ? " Kata Tama.


" Jemput gue, gue gak tahu ini dimana. SL udah gue kirim. Cepetan jemput kalo nggak gue bakal minta kak Raffa buat cabut saham di tempat lue ntar " ancam Fyth seraya mematikan ponselnya.


Tama yang mendengar ancaman dari sepupunya itu sontak membulatkan matanya, " Bisa bahaya kalo tuh saham di cabut, gulung tikar iya gue ntar. Ck ! Dasar nggak kakak nggak adik sama saja. Suka sekali main ancaman " gerutu Tama dalam hati.


Tama semakin membulatkan matanya ketika membuka SL dari Fyth. " What the hell ? " Ucap Tama seraya memukul meja. Indri mengernyitkan keningnya, lalu bertanya. " Ada apa ? "


" Si tobar minggat kali ya ! " Kata Tama sembari menunjukkan SL tempat Fyth berada. Indri yang melihat ikut membulatkan matanya. " Ngapain itu bocah di sana " ucap Indri dalam hati.


Tama menghela nafasnya, " Aku mau jemput si tobar, kamu mau ikut nggak ? " Tawar Tama pada Indri.


" Aku ikut deh, kasian kalo Fyth sendiri nanti " Kata Indri seraya berdiri dan mengambil tasnya.

__ADS_1


" Aku ? Apa kamu nggak kasian lihat aku tiap malam tidur sendiri " ucap Tama memelas.


" Deritamu itu " timpal Indri acuh seraya keluar restauran. Tama yang mendengar sontak menggerutu menuju kasir untuk membayar makanan.


__ADS_2