Se Anting

Se Anting
Bab 36


__ADS_3

Jika Anila begitu antusias berbelanja, berbeda dengan Fyth yang terlihat ogah-ogahan dalam memilih pakaian. Bagi Fyth, dibanding berbelanja pakaian, ia lebih suka membeli banyak makanan.


Merasa bosan, Fyth berkeliling di dalam toko sendiri. Sedangkan Anila memilih pakaian di depan, sementara Tama duduk di sofa toko.


Banyak berbagai jenis barang branded namun tak satupun yang menarik di mata gadis bar-bar itu. Karena tak ingin menunggu Anila yang lama dalam berbelanja, Fyth melanjutkan kelilingnya dan memilah-milah setiap deretan pakaian tanpa ada niat membelinya. Fyth terus berjalan hingga pandangan matanya terpaku pada jenis pakaian yang begitu tak disukai kaum hawa dan tentu saja idaman bagi kaum adam.


Senyum smirk tersungging dibibir mungil gadis tengil itu, ide gilanya kini muncul untuk mengerjai cakaparnya. Diambilnya pakaian itu dengan model berbeda-beda dan tentu saja dengan berbagai warna. Setelah mendapat semua, segera di panggilnya pelayan toko untuk segera membungkusnya. Hehehe, cakapar lihat hadiah istimewa dari cadiparmu ini, monolog Fyth dalam hati.


Karena terlalu senang, Fyth kembali berkeliling tanpa memperhatikan jalan hingga tubuhnya menabrak sosok tegap di depannya. Fyth yang terjatuh di atas lantai sontak meringis memegang pantatnya sambil mengomel.

__ADS_1


"Hei, kalo jalan itu pakai kaki, mata buat ngelihat. Bukan mata buat jalan, kaki buat nangkring doang." Sungut Fyth sambil berdiri kembali.


"Kau yang salah nona," ucap lelaki itu datar dengan suara beratnya.


Karena tak terima di salahkan, Fyth menatap tajam ke arah lelaki itu. Sesaat pandangan keduanya bertemu, sebelum ucapan Fyth membuat lelaki itu menganga tak percaya.


"Enak aja nyalahin orang, om yang salah. Udah tahu badan segede gaban, ngapain berdiri disini. Mau jadi patung pancoran?, Badan tinggi kayak monas juga. Minggir om, banyak yang mau lewat. Hus," usir Fyth sembari menggeser tubuh lelaki itu ke samping lalu melanjutkan kelilingnya.


Tak lama asistennya datang, mengatakan jika pesanan yang di inginkan telah selesai dan sudah dikirim ke mansion semua.

__ADS_1


"Tuan Leon, semua sudah beres tuan. Barang sudah dikirim ke mansion utama." Ucap sang asisten dengan kepala menunduk.


"Hmm," setelah berkata demikian Leon meninggalkan toko menuju perusahaannya.


Yupz, lelaki bertubuh tegap dan gagah itu tak lain adalan Leonardo Geovan Radiga. Pewaris tunggal keluarga Radiga, sosoknya yang kejam serta dingin membuat siapapun tak berani mengusiknya. Bahkan sudah banyak wanita yang patah hatinya karena di tolak mentah-mentah oleh Leon.


Baginya cinta hanya akan mempersulit hari-harinya, dan Leon tak ingin memikirkan hal yang akan membuat rumit hidupnya.


Leon yang telah sampai di perusahaan, segera menuju ruangannya. Sepanjang jalan karyawan yang melihatnya menunduk hormat tak berani menatap ke arahnya sedikitpun.

__ADS_1


Leon mendudukkan tubuhnya dengan kasar di sofa begitu sampai ruangannya. Ingatan tentang gadis tengil yang berani memanggilnya dengan sebutan "om" kembali melintas dalam benaknya. Dengan sesekali mengumpat, Leon melonggarkan dasinya dengan kasar. Lihat saja gadis tengil, jika kita bertemu kembali akan ku buat kau menyesal karena memanggilku om, monolog Leon dalam hatinya.


Sementara Fyth yang sudah duduk tenang di sebelah Tama sontak bersin seketika. "Hachim, asyem! Siapa yang lagi ngomongin gue nih," dengus Fyth sembari menggosok hidungnya. Tama hanya mengangkat kedua bahunya acuh, lalu melanjutkan aksinya berselancar di sosial media. Apalagi jika bukan stalker terhadap postingan Indri.


__ADS_2