Se Anting

Se Anting
Bab 46


__ADS_3

Perlahan Fyth menggeliatkan tubuhnya dengan mata terpejam, diraba tempat tidur sampingnya dengan kening berkerut. Sejak kapan gulingnya berubah menjadi keras, pikir Fyth.


Jemari lentik Fyth terus meraba bahkan menekan-nekan perlahan apa yang di sentuhnya. Tanpa Fyth sadari jika perbuatannya membuat seseorang harus menahan hasratnya agar tetap terkendali. ****, umpatnya.


Tak tahan lagi segera digenggamnya tangan Fyth seraya berkata, "Sudah puas menyentuhnya sayang," ucapnya dengan suara serak.


Mendengar suara laki-laki berbicara sontak Fyth membuka matanya, tak lama kemudian terkekeh melihat wajah sang tunangan sudah memerah.


"Sayang, maaf aku tidak sengaja." Fyth memeluk tubuh Davin. "Lagipula mengapa kau bisa tidur di sampingku?" Lanjut Fyth dengan meletakkan kepalanya di dada bidang Davin. Memang Davin sengaja membuka kaosnya yang basah karena menggendong Fyth dari kamar mandi.


"Aku menemanimu sayang," Davin mencium kening Fyth lembut.


"Aku bukan anak kecil lagi,"


"Bagiku kau selalu seperti anak kecil yang menggemaskan baby." Davin mengecup bibir Fyth sekilas. "Cuci muka, ayo kita keluar jalan-jalan sebelum sore nanti kita kembali ke Jakarta."


"Baiklah." Fyth segera beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya sekaligus sikat gigi.


Sementara Davin menerima panggilan dari calon kakak iparnya, Raffa. Kening Davin berkerut mendengar semua ucapan Raffa di ujung telepon.


"Kau yakin Raf?" Davin mengepalkan tangannya kuat, sesaat nafasnya memburu seolah ingin menguliti seseorang hidup-hidup.


"Percayalah, aku juga tak mau terjadi apapun pada adikku." Sahut Raffa di ujung sana.

__ADS_1


"Baiklah, aku pikirkan caranya dan aku akan menguatkan penjagaan calon istriku."


Dengan memijat pelipisnya begitu sambungan telepon terputus, Davin menggenggam telepon ditangannya kuat. Kau cukup menarik untuk para kumbang sayang, ucap Davin lirih.


*


*


*


Seusai menelepon Davin, kini Raffa kembali menatap tajam pada dua orang yang sudah berani mengikuti adiknya bahkan dengan lancangnya mengambil foto semua kegiatan sang adik.


Ditatapnya sinis bergantian dua orang tersebut dengan muka datar, membuat keduanya berkeringat dingin karena ketakutan melihat tatapan mematikan seorang Raffandra.


"Kalian pikir, aku tidak tahu untuk siapa kalian bekerja?" Tanya Raffa dengan suara beratnya.


"Cih!",


Dengan isyarat mata, Raffa memerintahkan anak buahnya untuk menyekap kedua orang tersebut. Raffa menatap jam tangannya sekilas yang menunjukkan pukul sembilan tepat. Hari ini ia akan berencana mengajak Anila pergi jalan-jalan sebelum kembali ke Jakarta nanti. Sebelum itu, ia akan menemui kedua orangtuanya terlebih dahulu.


Didalam kamar Raffa seorang gadis sedang memakan sarapannya dengan lahap, siapa lagi jika bukan Anila. Bukan tanpa sebab Anila bersikap demikian, jika bukan karena ulah Raffa yang terus mencium bibirnya hingga bengkak.


"Dasar mesum, arogan, nyebelin, ngeselin, bibir gue jadi bengkak kan?" Gerutu Anila kesal sembari melahap makanannya.

__ADS_1


"Awas aja kalo balik ke kamar ini, gue tendang itu-nya baru tahu rasa entar," lanjutnya. Tanpa Anila sadari Raffa sudah berdiri disamping Anila dengan melipat tangannya di dada.


Melihat mulut Anila terus berkomat-kamit merutukinya tanpa henti membuat rasa gemas untuk menggigit bibir mungil itu kembali. Namun Raffa tak ingin melakukannya, karena saat ini yang di inginkannya adalah mengajak Anila pergi jalan-jalan. Raffa berdehem membuyarkan gerutuan Anila.


"Ehem...


Seketika Anila mengarahkan pandangannya ke samping dengan cengiran. Kikuk, inilah yang dirasakannya saat ini apalagi Raffa pasti mendengar semua ocehannya.


"Hay Raf," sapa Anila seraya tersenyum manis.


"Cepat selesaikan makan mu, kita akan jalan-jalan." Ucap Raffa datar seraya berjalan menuju samping ranjang mengambil kunci mobilnya.


"Hah? Kemana? Jalan-jalan? Aku tidak mau, aku akan keluar bersama Fyth dan Indri," tolak Anila.


"Kau tak punya pilihan baby, adikku dan juga sahabatmu itu sudah keluar masing-masing untuk berkeliling,"


"Aku tidak percaya,"


"Coba saja kau hubungi mereka." Cuek Raffa dengan merebahkan tubuhnya di ranjang.


Benar saja, kedua sahabatnya sudah pergi duluan. Anila meletakkan ponselnya dengan kesal, bagaimana mungkin ia ditinggal begitu saja. Dasar dua sahabat menyebalkan, sungut Anila pelan.


Raffa hanya menyunggingkan senyum tipisnya melihat kekesalan Anila, karena ini semua rencananya yang membuat adiknya beserta sahabatnya untuk pergi jalan-jalan sendiri. Bahkan Raffa juga memaksa Tama untuk ikut mereka dengan alasan menemani Indri, karena sudah dipastikan adiknya itu akan bersama Davin.

__ADS_1


"Bagaimana?" Raffa mengangkat sebelah alisnya.


"Okey," jawab Anila ogah-ogahan.


__ADS_2