Se Anting

Se Anting
Bab 75


__ADS_3

Flashback on


Satu bulan yang lalu,


"Terima kasih atas kerjasamanya tuan," ucap Tama seraya menjabat tangan tuan Handoko.


"Tak perlu sungkan tuan Tama, saya cukup senang melihat kegigihan seorang pemuda seperti anda saat ini." Kata tuan Handoko dengan penuh siasat licik dalam otaknya. "Huh!, Lihat saja Artama! Aku buat kau dalam genggamanku." Ucapnya dalam hati.


"Baik, jika demikian saya permisi terlebih dahulu tuan." Pamit Tama yang langsung dicegah oleh tuan Handoko. "Tunggu sebentar tuan, saya sudah memesan makanan dan kebetulan putri saya akan kemari. Bolehkah jika tuan menemani saya untuk menunggu kedatangannya?"


Untuk sesaat Tama terdiam, ingin rasanya ia menolak ajakan rekan bisnis papanya ini. Namun di sisi lain, mereka baru saja berkerjasama. Dengan terpaksa Tama mengiyakan ajakan tuan Handoko. "Baiklah tuan, jika tuan tidak keberatan dengan kehadiran saya."


"Oh tentu saja tidak,"


Tak lama pesanan makanan datang, tak ada yang aneh bahkan keduanya asyik berbincang. Namun dipertengahan Tama mulai merasakan pusing di kepalanya. Pandangannya pun mulai sedikit kabur, telinganya berdengung tak mendengar ucapan lawan bicaranya lagi. Hingga pada akhirnya Tama tak sadarkan diri, akibat obat bius dalam makanan yang di taruh orang suruhan tuan Handoko.


Bruk!


"Oh putriku, ayah hanya mampu menolongmu sampai disini." Gumam tuan Handoko. "Berikan obat perangsang, obat bius itu tidak akan bertahan lama." Perintah tuan Handoko kembali sebelum membawa Tama menuju hotel.


"Baik tuan," anak buah tuan Handoko segera melaksanakan perintah tuannya.


Setelah menyuntikkan obat perangsang kedalam tubuh Tama, kini bawahan tuan Handoko segera membopong Tama menuju hotel yang telah dipersiapkan.

__ADS_1


Sementara tuan Handoko segera menghubungi putrinya, agar segera menuju hotel untuk melaksanakan rencana mereka. "Kau siap nak, hotel xxx kamar 1609. Ingat! Kau harus berhasil," peringat tuan Handoko kepada putrinya.


"Of course ayah, tenang saja. Akhirnya aku akan bersamanya," ucap seorang gadis di ujung telepon.


Disebuah kamar hotel Tama mulai tersadar, ditatapnya perlahan sekitar. Dimana ini, gumamnya.


****, umpatnya.


Sekujur tubuh Tama terasa panas, ia yakin jika dirinya akan di jebak. Dengan sekuat tenaga Tama berusaha bangkit dari ranjang walau sempat terjatuh. Dirabanya dinding sebagai penopang tubuhnya, perlahan Tama berjalan keluar kamar sedikit susah payah.


Akhirnya Tama berhasil keluar sebelum putri rekan bisnisnya itu sampai. Tama yang merasa tubuhnya semakin panas tak dapat menahan gejolak gairah lagi. Sekilas Tama melihat seorang gadis masuk ke sebuah kamar dengan koper ditangannya. Tanpa menunggu lama Tama segera ikut menerobos masuk dan menarik gadis itu menuju ranjang.


"Aaaaaa.... " Teriak gadis itu karena terkejut saat ada yang masuk dan menarik tangannya. "Siapa kamu?" Pekiknya.


Namun Tama tak menggubrisnya justru membuka semua pakaiannya, sontak hal itu membuat sang gadis ketakutan dan berteriak. Tak ingin membuat kebisingan, Tama segera membungkam bibir gadis itu dengan kasar dan melakukan apa yang seharusnya terjadi.


Kakinya bergetar saat mencoba turun dari ranjang, dengan sisa kekuatan sang gadis meraih seluruh pakaiannya lalu berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi.


Diguyur sejenak tubuhnya dibawah shower seraya menangis, "Tubuhku sudah kotor," ucapnya seraya menggosok kasar seluruh tubuhnya. "Aku harus segera pergi," lanjutnya lalu mematikan shower dan segera memakai pakaiannya.


Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan sedikit melirik ke arah ranjang, dilihatnya lelaki itu masih tertidur. Tanpa menunggu lama, gadis itu meraih kopernya lalu meninggalkan kamar hotel.


"Aku berharap tak lagi bertemu denganmu, b*****an", ucapnya dengan menatap gedung hotel itu penuh kebencian, sebelum berjalan pergi dari sana.

__ADS_1


Siang harinya, Tama terbangun dengan kepala pusingnya. Diraba sampingnya, namun kosong tak ada apapun. Sontak Tama bangkit dari tidurnya lalu mencari gadis yang telah ditidurinya semalam. Tama mengelilingi setiap sudut namun tak menemukan apapun, kecuali ****** ***** gadis itu yang tertinggal di atas nakas sebelah ranjang beserta darah diatas sprei ranjang yang menandakan jika sang gadis masih suci.


Si*l, umpat Tama seraya mengacak kasar rambutnya.


Flashback off


*


*


*


Begitu sampai didepan hotel, Fyth dan rombongan segera di giring anak buah Daddy Barack ke sebuah kamar dimana semua berkumpul. Fyth dan Raffa saling pandang mengirimkan sinyal tanda tanya masing-masing, namun sayang keduanya tak memiliki jawaban dan perkiraan apapun.


Anak buah Daddy Barack segera mendorong sebuah pintu lalu menyuruh semuanya masuk tanpa terkecuali. Setelah semua masuk, pintu segera ditutup kembali.


Dengan penuh tanya Fyth menatap sekeliling, keningnya berkerut. "Ada apa ini?" Tanya Fyth seraya memandang kedua orang tuanya.


"Benar, ada apa ini mom, dad?" Tanya Raffa ulang.


"Kalian semua duduk dulu, Tama kemari." Pinta Mommy Nathalie, tanpa berniat menjelaskan apapun.


Tak ingin membantah, Tama berjalan menuju Mommy Nathalie karena ia sendiri juga penasaran. Ada apa sebenarnya ini,

__ADS_1


Baru saja Tama mendekat, sebuah tamparan mendarat di pipinya. Plakk!!


Kira-kira siapa yang menampar Tama? Kuy simak kelanjutannya.


__ADS_2