
Semilir angin menerpa menyejukkan diri, suasana bahagia mengubah luasan makna tak bertepi. Saling bercerita, saling bercengkrama, saling memahami arti memiliki.
Di bawah pohon kelapa Fyth mendudukkan tubuhnya di samping Indri. Keduanya menatap deburan ombak saling berlomba untuk mencapai tepi di malam hari.
"Ndri," panggil Fyth akhirnya. Indri memalingkan wajahnya ke arah Fyth dengan alis terangkat satu, seolah berkata "Ada apa?".
"Kok lue gak sedih tahu si Timi sama nenek gombreng?" Heran Fyth, dalam benaknya bertanya, apakah Indri tidak mencintai sepupunya itu?.
Hening, Indri kembali menatap ke depan, belum ada satu katapun yang terucap dari bibirnya. Indri berusaha mengendalikan dirinya sesaat dengan memejamkan matanya sejenak.
Melihat Indri diam, Fyth tidak bertanya lagi. Mungkin sahabatnya ini belum siap untuk menceritakan perasaannya saat ini. Lama dalam keheningan, akhirnya Indri membuka suara.
"Entahlah, jujur hati gue sakit Fyth. Tapi di sisi lain gue juga nggak mau nyalahin siapapun di sini. Lue tahu gimana gue, seperti apa gue. Kalo lue tanya kenapa gue gak sedih? Gue berusaha tegar buat diri gue sendiri Fyth. Gue gak mau nunjukin kekecewaan gue di depan semua orang terutama orang tua gue. Karena gue gak mau lihat mereka sedih," papar Indri dengan mata berkaca-kaca.
Diam tanpa menyela, Fyth berusaha menjadi pendengar yang baik bagi sahabatnya di saat seperti ini. Bahkan tenggorokan yang sudah kehausan ia biarkan begitu saja. Bagaimana tidak, dirinya lupa membawa minum bahkan untuk membeli minuman pun cukup jauh. Walau hanya berjarak 10 langkah dari duduknya.
"Gue sayang sama Tama tapi gue juga gak mau hati gue terluka. Gue gak mau menahan sakitnya, gue gak mau Fyth." Tangis Indri pecah seketika. Melihat kondisi sahabatnya demikian membuat hati Fyth ikut merasakan sakit, di usapnya punggung Indri perlahan untuk menguatkannya.
__ADS_1
"Kalo lue tanya ke gue, tulus nggak gue ke sepupu lue? Gue tulus. Tapi ketulusan gue gak ada artinya sama sekali." Lanjut Indri dengan kepala menelungkup diantara kakinya.
Melihat kerapuhan sahabatnya membuat Fyth sakit, andai dulu dirinya tak mengenalkan mereka berdua. Fyth menghembuskan nafasnya kasar, lalu menatap ke arah depan.
"Sorry Ndri, jika gue tahu akhirnya bakal kayak gini. Gue gak bakalan biarin Timi deket sama lue. Gue kira Timi udah move on dari itu nenek gombreng, nyatanya gue salah. Gue juga gak tahu kenapa itu cewek bisa balik ke Jakarta... " Fyth yang menyadari sesuatu sontak berdiri seketika. "Tunggu, bagaimana mungkin itu nenek gombreng bisa ada di Jakarta?" Merasa ada yang janggal, Fyth segera melangkahkan kakinya pergi untuk menemui kakaknya.
Indri yang ditinggalkan begitu saja segera menghentikan tangisannya dengan mulut menganga lebar. Bahkan tanpa kata ia dibiarkan begitu saja sendiri. Dengan mengerucutkan bibirnya, Indri kembali menuju hotel karena sudah malam.
Jakarta...
Mendapat laporan bahwa misi telah diselesaikan dari anak buahnya tentang informasi gadis tengil incaran tuannya membuat Dipa tanpa banyak kata segera bersiap menuju kediaman Radiga. Belum 24 jam semua informasi yang di inginkan tuannya sudah berada dalam genggamannya. Dengan mengendarai mobilnya diatas rata-rata seperti pembalap profesional Dipa memacu kendaraannya, untung saja keadaan jalanan lengang malam itu.
Satu hal yang dilupakan anak buah Dipa dalam mencari informasi, bahwa si target telah bertunangan. Sehingga Dipa tidak mengetahui jika gadis tengil tuannya sudah ada yang punya.
Sesampainya di mansion Radiga, Dipa segera memarkirkan mobilnya. Dengan membawa map di tangannya, Dipa berjalan tergesa-gesa menuju ruang kerja tuannya. Kini Dipa berdiri tepat didepan pintu ruang kerja tuannya, dengan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Dipa sontak mengetuk pintu ruang kerja tuannya, sementara Leon mengerutkan keningnya saat ada yang mengetuk pintu.
"Masuk," jawab Leon dari dalam.
Mendengar jawaban dari tuannya, Dipa segera masuk ke dalam. "Selamat malam tuan," sapa Dipa sopan.
"Ada apa?" Tanya Leon dengan muka datar.
"Ini informasi yang tuan inginkan mengenai gadis itu. Anak buah saya sudah mendapatkannya tuan." Dipa menyerahkan map-nya kepada Leon. "Walau harus menguras dompet demi membayar mahal detektifnya tuan." Lanjut Dipa dengan suara lirih namun tak terdengar Leon.
Dengan senyum mengembang Leon membuka setiap lembar semua informasi tentang gadis tengil yang sudah berani memanggilnya, om. Leon berencana akan mendekati gadis itu untuk memberinya pelajaran serta menjadikan pacar sewaannya.
"Bagus Di, ini akurat bukan?" Tanya Leon tanpa mengalihkan pandangannya.
"Akurat tuan, saya pastikan itu." Jawab Dipa lemas. "Anak buah kampret, bikin jebol isi dompet. Huhuhu, keluarga Pratama tak tanggung-tanggung dalam menyembunyikan identitas putra putrinya. Uangku," tangis Dipa dalam hatinya.
"Jadi si tengil bernama Aurora Fythania Pratama, putri bungsu dari tuan Barack Pratama. Hm, menarik." gumam Leon lalu menyeringai. "Good, saya transfer bonus kamu sekarang." Ucap Leon membuat mata Dipa berbinar seketika.
__ADS_1
"Terima kasih tuan," antusias Dipa. "Ada lagi yang bisa saya bantu tuan?" tanya Dipa sebelum pamit undur diri.
"Ya, lakukan sesuatu untukku," Leon menyunggingkan senyum smirknya membuat Dipa mengusap tengkuk lehernya.