Se Anting

Se Anting
Bab 49


__ADS_3

Jakarta....


Bandara Soekarno Hatta,


Seluruh keluarga besar berjalan keluar menuju mobil jemputan mereka masing-masing. Sedangkan para anak-anak memilih mengendarai mobil mereka sendiri. Fyth dan Davin berada satu mobil dengan Raffa dan Anila. Disusul dengan mobil Tama dengan Indri di belakangnya.


Berulang kali Fyth menguap tanpa henti, matanya mulai memberat, dengan sigap Davin menarik kepala Fyth untuk disandarkan ke bahunya.


Melihat semua perlakuan Davin ke calon adik iparnya membuat Anila tersenyum. Romantis sekali, pikirnya.


Selama perjalanan Anila sesekali melirik ke arah Raffa, entah mengapa Raffa hari ini diam saja. Kalo pun di ajak bicara, hanya jawaban singkat yang di berikan olehnya.


Dibelakang Fyth mendongakkan kepalanya menatap Davin, saat menyadari ada yang tidak beres antara kakak dan calon kakak iparnya itu. Davin juga membalas tatapan mata tunangannya itu, seolah mereka berbicara menggunakan bahasa mata.


"Mereka kenapa?" Ucap Fyth dengan bahasa matanya.


"Entahlah, aku tidak tahu sayang." Davin hanya mengangkat bahunya.


Dengan menyipitkan matanya curiga, Fyth memajukan tubuhnya diantara Anila dan Raffa. Ditatap keduanya bergantian beberapa kali, hingga membuat Raffa gemas melihat tingkah konyol adiknya.


"Ada apa bontot?" Tak tahan lagi, Raffa pun membuka suara untuk bertanya seraya mengusap gemas wajah adiknya.


"Kenapa dengan kalian berdua? Pada lagi pms ya?" Bukannya menjawab justru Fyth membalas dengan pertanyaan pula.

__ADS_1


"Astaga, kau lupa jika kakakmu ini laki-laki. Mana mungkin ada yang namanya pms tengil." Karena terlalu gemas, Raffa mencubit pipi adiknya dengan sedikit kuat.


"Aduh, aduh, aduh... Sakit kakak!" Kesal Fyth.


"Makanya jangan aneh-aneh kalo bicara," dengus Raffa kembali fokus menyetir, sedangkan Anila dan Davin hanya terkekeh melihat perdebatan kakak beradik itu.


"Aneh apa, lagian kan bisa jadi cakapar yang kedatangan tamu justru kakak dapat sensinya. Makanya sakit gigi diam aja dari tadi." Sungut Fyth seraya mengusap pipinya yang di cubit Raffa.


Mendengar perkataan Fyth yang aneh, sonta Anila terbahak-bahak seketika. Sungguh konyol, menurut keduanya. Bahkan Anila sampai mengusap ujung matanya yang basah karena tertawa. Sementara yang di tertawakan sudah mengerucutkan bibirnya 5 centi.


"Kau ini dasar, mana ada sistem pms seperti itu." Ucap Anila di sela-sela tawanya.


"Hey, itu namanya chamestry tahu," rajuk Fyth dengan memeluk Davin dari samping.


"Chamestry itu, ikatan "Chara menjadi suami istry". Lagipula kalian kan sudah bertunangan, kapan kalian akan menikah? Kak kau akan menikahi Anila tidak menunggu kau bangkotan dulu bukan?" Ledek Fyth.


Pecah sudah tawa Davin mendengar perkataan konyol dari gadis yang berstatus tunangannya itu. Inilah yang di suka dari Fyth, tidak jaim dalam bersikap. Sementara Raffa yang mendengar ucapan adiknya sontak memerah wajahnya menahan kesal. Awas kau tengil, ucap Raffa dalam hati.


*


*


*

__ADS_1


Di sebuah ruangan, terlihat sesosok pria tampan membanting map di tangannya dengan kasar. Di usap wajahnya dengan kesal, melihat hasil laporan dari anak buahnya tentang gadis tengilnya selama di Bali.


Ya, sosok itu adalah Leon. Dengan ekspresi suram, Leon menghubungi Dipa untuk segera masuk ke dalam ruangannya.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Dipa begitu sampai didepan Leon.


"Di, segera atur jadwal dengan tuan Pratama. Bagaimanapun caranya, aku mau hasilnya sore ini." Titah Leon.


"Apa? Bapak waras?" Beo Dipa.


"Adipati!, Kau tak mau bonusmu lagi rupanya." Teriak Leon kesal, beraninya mengatakan dia tidak waras.


"Maaf pak, maaf... Baik saya kerjakan. Jangan hanguskan apalagi hilangkan ataupun dibatalkan ya pak, buat modal kawin pak." Cengir Dipa.


"Cih! Seperti punya calon saja." Cibir Leon


"Bapak jangan meremehkan saya pak, gini-gini saya banyak yang naksir loh pak."


"Saya tidak bertanya,"


"Makanya saya,...


"KELUAR!" murka Leon akhirnya. Menyebalkan, umpatnya.

__ADS_1


__ADS_2