Se Anting

Se Anting
Bab 86


__ADS_3

Usai acara, Tama segera membawa Vania menuju kamar hotel yang telah dipersiapkan sebagai kamar pengantin untuk mereka. Tama merasa kasihan melihat istrinya yang sedang hamil muda harus berdiri di pelaminan cukup lama untuk menyalami para tamu undangan. Begitupun Vania yang merasa kelelahan pula, sehingga mengiyakan begitu saja ajakan Tama padanya. Tanpa menghiraukan ejekan dari sepupu dan sahabatnya, Tama menggiring Vania untuk segera beristirahat.


Para tamu undangan sudah kembali pulang, begitupun para orang tua yang ikut kembali menuju mansion mereka masing-masing. Kini suasana ballrom nampak sepi, hanya menyisakan para pekerja yang mulai membersihkan ruangan. Genk Kiwil-kiwil sudah berpindah habitat menuju tepi kolam renang untuk melanjutkan game mereka.


"Kali ini game berpasangan, yang jawab kompak dan benar pemenangnya." Ucap Fyth dengan muka menyebalkan. "Dan yang kalah harus dapat hukuman," lanjutnya.


"Coret bedak lagi? Nggak seru bontot." Keluh Anila.


"Bener tuh, huh!" Ketus Raffa yang mendapat coretan bedak paling banyak di mukanya. Tentu saja hal itu tak lain dan tak bukan ulah si bontot yang berniat mengerjai kakaknya.


"Hukuman ganti aja lah," imbuh Indri.


"Setuju tuh." Sahut Leon.


"Sayang,...." Davin membisikkan idenya pada Fyth, tentu saja hal itu disambut baik oleh Fyth bahkan idenya cukup brilian. "Bagaimana?" Tanya Davin.


"Amazing, why not? Hehehe." Ucap Fyth antusias seraya menatap semuanya bergantian.


Merasa ditatap demikian oleh Fyth, membuat tubuh mereka semua merinding seketika. Dalam benak mereka mulai tidak tenang, saat melihat senyuman sejuta tipu muslihat di wajah polos si tengil. Apalagi nampak Davin terkekeh melirik raut wajah teman-temannya satu persatu.


"Perasaan gue nggak enak." Ucap Leon dalam hati.


"Apalagi ini," gerutu Indri pelan.


"Omg, jangan bilang lebih parah dari bedak." Batin Anila gusar.


"Minta gue gibeng ini adik satu." Pikir Raffa dengan melototkan matanya ke arah Fyth.


Dengan sejuta senyuman berkadar madu bernutrisi karbit, Fyth merogoh tas mungilnya guna mengeluarkan benda ajaib stempel bibirnya. Apalagi jika bukan lipstik warna merah menyala yang sengaja ia bawa untuk mencampur warna bibirnya.


Tada!


Sontak semua mengerutkan keningnya saat melihat benda berbentuk kecil panjang berwarna merah menyala milik para wanita di dalam genggaman tangan Fyth. Mereka cukup penasaran, apa yang akan dilakukannya dengan benda itu. Semua nampak terdiam memikirkan kemungkinan masing-masing guna dari benda itu dalam permainan kali ini, kecuali Davin karena dialah pencetus ide hukuman kali ini.

__ADS_1


"Lipstik?" Kata Indri memecah keheningan.


"Yups, lipstik. Hehehe, karena ini game berpasangan, maka yang kalah harus memakai ini." Ucap Fyth seraya memamerkan benda ajaibnya. "Si cewek akan dikasih lipstik tebal pada bibirnya lalu mencium area wajah si cowok." Lanjutnya enteng, tak lupa dengan muka tengilnya.


"What?" Ucap kompak mereka semua. Apa-apaan ini, menggelikan. Pikir mereka.


Sementara Davin membulatkan matanya saat mendengar ide gila sang calon istri, ia tadi hanya menyarankan untuk memakai di bibir bagi para wanita dan rona pipi bagi laki-laki. Kenapa sekarang jadi begini, Davin mengacak rambutnya kasar lalu menelan ludahnya susah payah saat melihat tatapan tajam dari yang lainnya.


"Hehehe, ini diluar ide gue. Sumpah." Ucap Davin tak enak seraya menggaruk kepalanya tidak gatal.


"Gue nggak mau!," Tolak Raffa.


"Gue juga ogah!" Imbuh Leon.


"Apalagi aku, nggak mau lah. Masak di suruh cium sih, malu!" Ucap Indri tak mau kalah.


"Bener ahh, yang lain dong bontot." Ucap Anila mencoba menawar.


Nampak semua berpikir beberapa menit, sebelum akhirnya menyetujui ide hukuman kali ini. Permainan kali ini dilakukan bergiliran, bagi siapa yang bisa menebak dengan benar maka akan menjadi raja pelempar tebakan.


"Okey kita mulai, Clue-nya adalah Cap. Kecil, kebiruan, si kenyal, berbekas. Ucap Fyth penuh semangat.


Tik... Tok... Tik... Tok...


Kini semua berpikir mencari jawaban dari tebakan yang sudah dilontarkan Fyth, sedangkan Davin terkekeh saat mendengar tebakan konyol Fyth. Namun dirinya memilih diam, karena ini adalah tebakan berpasangan.


"Aku tahu," seru Indri antusias. Yang lain sontak menatap ke arah Indri, penasaran akan jawabannya.


"Apa?" Tanya Fyth.


"Emm... Bebek kawin." Jawab Indri dengan cengirannya.


"Apanya bebek kawin, Salah! Yang lainnya?" Tanya Fyth yang dijawab gelengan kepala oleh semua.

__ADS_1


"Hehehe, siap-siap menerima hukuman kalian." Ucap Fyth dengan muka tengilnya. "Jawabannya adalah..... Cup*ng" kekehnya.


Hah!


Baik Raffa dan Anila maupun Leon dan Indri dibuat menganga saat mengetahui jawaban si tengil. Ya amsyong, sontak semua menepuk keningnya masing-masing. Lalu melanjutkan permainan kembali setelah benda ajaib tertempel pada wajah pasangan mereka masing-masing .


*


*


*


Didalam kamar hotel nampak Vania tengah terlelap usai membersihkan diri, efek kelelahan akibat menyalami banyak tamu yang tiada henti. Tama yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggangnya, perlahan berjalan mendekat ke arah Vania. Ditatapnya wajah teduh Vania saat tertidur, begitu menenangkan. Dikecupnya kening Vania dengan lembut lalu menarik selimut sebatas lehernya.


"Tidurlah dengan nyenyak, mimpi indah. Kau pasti sangat kelelahan, terima kasih sudah menjaga dia untukku." Bisik Tama lembut seraya mengecup perut Vania pelan walau tengah tertutup selimut. "Aku akan mulai belajar mencintaimu, dan aku akan melindungi mu serta dia disamping ku. Selamanya," Tama beranjak dari tempatnya menuju walk in closet untuk memakai piyama, lalu ikut menyusul sang istri mengarungi alam mimpi.


*


*


*


Dikediaman Pratama, Mama Rania tengah berbicara serius dengan Papa Bima mengenai kejadian yang menimpa putra mereka. Walau Tama hanya putra angkat mereka, tak mengubah segala kasih sayang yang tercurah untuk Tama selama ini. Jika ditanya Mama Rania apakah kecewa, tentu saja cukup kecewa. Namun bukan kepada apa yang menimpa Tama, mereka kecewa pada diri mereka sendiri karena tak sanggup menjaga Tama selama ini hingga kecolongan.


Kali ini Mama Rania meminta sang suami untuk membawa Tama beserta sang istri untuk ikut ke luar negeri. Mama Rania takut dan tak ingin terjadi sesuatu lagi kepada anak dan menantu mereka, terutama cucu mereka yang saat ini didalam kandungan Vania.


"Pa, kita sebaiknya meminta Tama dan Vania untuk ikut bersama kita saja ke luar negeri Pa. Pokoknya Mama nggak mau tahu Pa, ini menyangkut cucu kita juga Pa." ucap Mama Rania dengan segala kekhawatirannya.


"Kita tidak bisa seperti itu Ma, Tama sudah berumah tangga. Biarlah mereka yang memutuskan, nanti kita bicarakan. Apapun pendapat putra kita, sebaiknya kita menghormati pilihan mereka. Asal kita tetap memantau keadaan mereka setiap saat," ujar Papa Bima tenang.


"Tapi Pa, Mama khawatir. Meskipun dalang itu sudah tertangkap, entah mengapa Mama masih merasa takut Pa." keluh Mama Rania.


"Kita bahas nanti lagi ya Ma, sekarang ayo kita istirahat. Sudah malam," ajak Papa Bima yang disetujui oleh Mama Rania.

__ADS_1


__ADS_2