Se Anting

Se Anting
Bab 68


__ADS_3

Di sudut aula Tama menatap Indri dan Leon yang menikmati jalannya acara, entah mengapa dalam hatinya tak suka melihat kedekatan keduanya. Apa aku cemburu?, Dalam benak Tama bertanya.


Hatinya semakin panas saat melihat Leon menari dengan menggenggam salah satu tangan Indri. Sejak kapan mereka dekat sebenarnya? Tama berkecamuk dengan pemikirannya sendiri.


Di atas panggung Fyth yang telah menyelesaikan lagunya mendapat tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Tak berhenti sampai di situ, kini ia mengkode kembali band pengiring untuk memainkan lagu selanjutnya.


"Terima kasih semua, namun hiburan masih tetap berlanjut. Lagu kali ini aku persembahkan untuk kedua mempelai," Ucap Fyth seraya mengerlingkan satu matanya. "You are ready guys?" Kode Fyth untuk segera memulai musiknya.


"Silahkan gandeng pasangan masing-masing untuk menari." Kata Fyth sembari mendudukkan dirinya di tangga panggung.


Melodi memetik merdu, perlahan nada terurai syahdu. Dengan penuh penghayatan Fyth membawakan lagu BCL "Cinta Sejati".


Manakala hati


Menggeliat mengusik renungan


Mengulang kenangan


Saat cinta menemui cinta


Suara semalam


Dan siang seakan berlagu


Dapat aku dengar


Rindumu memanggil namaku


Saat aku tak lagi di sisimu


Kutunggu kau di keabadian


Tak dipungkiri bahwa semua tamu undangan menuai air mata saat mendengar lagu dibawakan terutama para orang tua. Dengan mata berkaca-kaca Daddy Barack menggandeng Mommy Nathalie untuk berdansa. Tak ingin ketinggalan Papa Abbas dan Mama Alysa, Daddy Evan dan Mommy Zilia pun mengikutinya.


Sedangkan Davin ikut duduk disamping Fyth dengan memeluk pinggangnya dengan satu tangan. Saat reffrend di mainkan semua orang menghetikan dansa mereka begitupun dengan kedua mempelai. Semua pandangan tertuju pada Fyth yang bernyanyi dengan meneteskan air matanya.


Cinta kita melukiskan sejarah

__ADS_1


Menggelarkan cerita penuh sukacita


Sehingga siapa pun insan Tuhan pasti tahu


Cinta kita sejati


Lembah yang berwarna


Membentuk melekuk memeluk kita


Dua jiwa yang melebur jadi satu


Dalam kesucian cinta


Davin mengencangkan pelukannya, entah mengapa ia merasakan perasaan takut dalam hatinya. Ia tak ingin kehilangan gadis paling di cintainya ini.


Di sebuah meja Indri menangis dengan memeluk lengan Leon. Perasaannya bimbang, sejak bertemunya kembali dengan Leon membuat getaran yang lama hilang dalam hatinya kini hadir sekali lagi. Bahkan Leon sering menghubunginya setelah pertemuan tak terduga hari itu.


"Lee, aku sangat merindukanmu." Indri berbisik pelan pada telinga Leon.


"Lee, jangan pernah meninggalkanku lagi."


"Never," Leon menarik Indri kedalam pelukannya dengan sesekali mengecup puncak kepala Indri.


Leon sudah tak lagi cemburu melihat kemesraan Fyth dan Davin, karena ia telah mengetahui jika Fyth adalah adik sepupunya. Mommy Lea telah menceritakan dan mengatakan segalanya tentang siapa keluarga Daddy-nya. Awalnya cukup terkejut, hingga marah kepada sang Mommy saat mendengar apa yang dilakukannya dimasa lalu, namun ia mencoba mengerti. Kini rasanya telah berganti, dimana rasa seorang kakak yang menyayangi adiknya tak lebih.


*


*


*


Lagi-lagi Tama mengumpat kesal melihat kemesraan keduanya, entah apa yang dipikirkannya. Bukankah ia tak memiliki rasa kepada Indri, lalu mengapa hatinya terasa sakit melihat hal itu. Dengan menarik nafas dalam Tama meninggalkan tempat acara menuju kamarnya segera. Ia tak ingin melihat lebih jauh lagi, dalam benaknya meyakini jika ini hanya rasa sesaat saja tak lebih.


Kini semua berkumpul dalam satu meja, tak lupa kedua mempelai namun tidak dengan Tama yang pergi entah kemana. Fyth yang duduk di samping Davin terlihat begitu manja, terbukti saat Davin dengan lembut menyuapinya cake vanila kesukaannya.


"Sayang, kamu makan juga." Ucap Fyth manja.

__ADS_1


"Nanti, aku ingin melayani tuan putriku ini dulu." Kata Davin dengan mencubit gemas hidung Fyth.


Melihat tingkah manja adiknya membuat Raffa memutar bola matanya malas. "Hay bontot, kau ini kenapa manja sekali hah?",


"Aku kan manja dengan calsumku sendiri kak, bukan orang lain. Kakak iri? Kan udah ada kakak ipar itu," tunjuk Fyth dengan muka tengilnya.


"Kenapa aku dibawa-bawa?" Kata Anila tidak terima.


"Kakak ipar, ingat kata Daddy ku ya?"


"Jangan aneh-aneh ya bontot!" Raffa mendelik tajam menatap adiknya yang justru di balas juluran lidah.


"Bro, kira-kira kau nanti kuat tidak? Apa perlu ku pesankan penambah stamina?" Bisik Davin pelan ke telinga Raffa.


"Si****n, kau kira aku lemah," kesal Raffa dengan berbisik pula.


"Aku hanya menawarkan," acuh Davin.


"Menawarkan apa?" tanya Fyth penasaran.


"Tidak ada sayang, aku hanya menawarkan calon kakak ipar kue saja." jawab Davin yang di balas anggukan kepala oleh Fyth. Tak lama Fyth mengajak Anila dan Indri berpindah ke meja lain, karena ia berencana untuk menginterogasi Indri perihal hubungannya dengan Leon.


"Kakak ipar, Ndri, yuk ikut gue. Sekarang! no bantahan ataupun penolakan." tekan Fyth, Tanpa banyak kata keduanya mengikuti Fyth meninggalkan ketiga laki-laki yang asyik dengan obrolan mereka sendiri.


"Kira-kira kau kuat berapa ronde bro?" Sahut Leon ikut menimpali obrolan Raffa dan Davin setelah melihat ketiga wanita pergi meninggalkan meja mereka.


"Ku buat dia tak bisa keluar dari kamar nanti." Seringai Raffa dengan menatap Anila penuh damba.


"Cih! Aku tak yakin." Ledek Davin tak percaya.


"Lihat saja nanti," jawab Raffa santai.


"Paling juga blokade," timpal Leon.


"Palang merah." imbuh Davin.


"Berakhir dengan sabun." ucap Davin dan Leon bersamaan hingga keduanya tergelak. Sementara Raffa mengumpat kesal melihat kelakuan sepupu dan juga sahabatnya itu. S**l kalian! seru Raffa.

__ADS_1


__ADS_2