
Di tempat yang sama namun berbeda ruang. Davin, Raffa serta Tama sedang berkumpul untuk mendiskusikan kesiapan kejutan yang telah direncanakan atas Fyth.
Sifat Davin memang berbanding terbalik dengan Fyth. Jika Fyth lebih menyukai keramaian maka Davin lebih nyaman dengan keheningan. Seperti saat ini, Davin memilih ruangan VIP untuk mereka bertemu. Raffa hampir seperti Davin yang menyukai ketentraman, tidak dengan Tama yang mulai melontarkan aksi demonya.
" Kenapa kita di tempat tertutup begini sih?" gerutu Tama.
"Kenapa?" tanya Raffa dengan ekspresi datarnya.
"Nggak enak kak! Jadi nggak bisa lihat pemandangan" jawab Tama.
"Pemandangan apa? Jangan ganjen." Timpal Davin.
"Gue mana pernah ganjen sih, gue cuma ngelirik doang," ujar Tama membela diri.
"Alasan." Jawab kompak Davin dan Raffa. Sedangkan Tama sudah mengerucutkan bibirnya sebal.
Obrolan mereka terhenti saat pelayan cafe masuk dan menyajikan pesanan mereka bertiga. Begitu makanan tersaji, segera mereka menikmati hidangan sambil melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti.
"Terus gimana persiapan di pulau Bali, Dav?" tanya Raffa membuka obrolan kembali.
"80% sudah clear, cuma gue butuh bantuan kalian bertiga," ujar Davin.
"Bantuan apa bro? asal tak memberatkan gue bantu." Timpal Tama.
"Gue mau kalian..." Davin membisikkan tugas mereka masing-masing. Ia sengaja melibatkan kedua sahabatnya untuk menjalankan rencananya.
"Gimana?" tanya Davin meminta pendapat mereka.
"Oke, setuju." jawab Tama.
__ADS_1
Davin dan Tama menolehkan pandangan mereka ke arah Raffa untuk meminta jawabannya. Raffa yang mendapat tatapan penasaran dari kedua sahabatnya sontak terkekeh. Sebagai seorang kakak, dia ingin yang terbaik dan berharap sang adik bisa bahagia selamanya.
"Setuju." putus Raffa.
Senyum Davin kian melebar begitu mendapat persetujuan dari sahabat sekaligus calon kakak iparnya itu. Kini tinggal memainkan peran dalam drama.
Sementara Sammy yang mengantarkan Cieciez pulang kini sudah sampai di depan mansion. Tak ada yang memulai pembicaraan, keduanya asyik diam oleh pemikiran masing-masing.
Sammy melirik Cieciez dari ujung mata, rasa gugup melanda dirinya. Ingin sekali ia memeluk Cieciez untuk memastikan isi hatinya. Namun ia sadar jika dirinya bukan siapa-siapa baginya saat ini.
Merasa ada yang memerhatikan, Cieciez menolehkan pandangannya ke arah Sammy. Kening Cieciez berkerut mendapati Sammy menatapnya secara intens.
"Ada apa?" tanya Cieciez membuyarkan lamunan Sammy.
"Tid... Tidak ada, hanya mau bilang jika sudah sampai" jawab Sammy kikuk.
Cieciez mengarahkan pandangannya keluar jendela, benar sudah sampai ternyata. Di alihkan kembali pandangannya menuju Sammy.
"Tak masalah, bolehkah lain kali kita keluar bersama lagi?" pinta Sammy.
Cieciez tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, lalu keluar dari dalam mobil Sammy. Di lambaikan tangannya pada Sammy sebelum memasuki gerbang mansion.
Setelah melihat Cieciez memasuki mansion, Sammy segera melajukan mobilnya pergi.
Masih dalam kehebohan Anila dan juga Indri di dalam cafe. Mereka begitu penasaran dengan yang bernama dolphin. Apakah Pak Davin?, Pikir mereka.
"Jadi siapa dolphin?" desak Anila kembali.
"Lumba-lumba bukan?", Indri yang terlampau gemas segera mencubit pipi Fyth kencang.
__ADS_1
"Aduh, aduh, aduh... Sakit!" keluh Fyth seraya memukul tangan Indri.
"Kebiasaan suka banget cubit pipi orang," gerutu Fyth.
"Makanya jawab yang bener." ucap Anila dan Indri dengan kompak. Sementara Fyth sudah mengerucutkan bibirnya.
Belum sempat Fyth membuka suara, suara Tama mengejutkannya dari arah belakang.
"Wah, kalian ada di sini juga ternyata," sela Tama sembari mengambil kentang goreng di atas meja.
"Eh, kalian ini datang-datang main ambil saja," sungut Anila.
Tama hanya tersenyum lima jari mendengar teguran Anila, lalu memutar tubuhnya untuk duduk di samping Indri. Sedangkan Raffa duduk di sebelah Anila dan Davin mendudukkan dirinya sebelah Fyth.
"Apa yang sedang kalian bahas?" tanya Tama dengan meminum minuman Indri.
Indri yang sebal, memukul lengan Tama. "Plak!"
"Aduh Indri, kejam sekali dirimu padaku" ucap Tama dengan memasang tampang melasnya.
"Lebay!" jawab semua serempak di iringi tawa.
"Menyebalkan sekali kalian." rajuk Tama.
"Kami sedang membahas acara camping minggu depan" ucap Anila mengalihkan pembicaraan.
"Camping apa? dimana? dalam rangka apa? kenapa aku tidak di ajak? dan.." cerocos Tama yang mendapat tatapan tajam dari Davin dan Raffa. Tama yang hampir keceplosan sontak terdiam.
"Maksudnya?" tanya Indri yang bingung.
__ADS_1
"Nggàk ada, sudah makan yank?", Davin mengalihkan pandangannya ke arah jari manis Fyth. Seutas senyum tipis tersungging di bibirnya, ternyata Fyth memilih memakainya, artinya Fyth mau menikah dengannya.