Se Anting

Se Anting
Bab 29


__ADS_3

Dimas keluar dari lift dengan setumpuk berkas di tangannya, dari kejauhan ia melihat sepupu dari bosnya celingukan mencari sesuatu sambil komat kamit. Siapa lagi jika bukan tuan Tama yang paling tampan di antara yang tampan, katanya sih, ingat! "katanya".


Melihat keseriusan wajah dari Tama, sebuah ide jahil muncul dalam benak Dimas. Akhirnya ada juga korban rasa kesalnya akibat amukan singa tadi siang. Hehehe, rasakan kau Tama, salahkan saja sepupumu yang menyebalkan itu. Eh, tapi sohib gue juga sih, ucap Dimas sembari cekikikan.


Dirogohnya saku bajunya untuk mengambil ponsel sembari berjongkok di balik tembok kamar mandi. Diputarnya nada kuntilanak goyang dangdut lalu menaruh ponselnya pada lantai pojok.


Dimas segera berdiri lalu berjalan seperti tak mendengar apapun. Tama yang mendengar suara kuntilanak sontak bergidik ngeri. Perlahan berjalan mundur, semakin mundur tanpa melihat kebelakang.


Dimas yang melihat Tama berjalan mundur segera memelankan langkah kakinya untuk mengejutkan. Semakin lama semakin pelan, semakin dekat semakin berkobar semangat Dimas.


Tiba-tiba...


"Kalian sedang apa?" Suara bariton tuan Pratama sontak mengejutkan Tama dan juga Dimas hingga mereka berteriak.


"Aaa... Setan......" Teriak Tama sembari jongkok dengan meletakkan kepalanya di antara lutut.


"Aaa... Macan, saya hanya iseng." Kejut Dimas dengan membalikkan badannya menuju tembok serta tangan sebagai penutupnya.


Tuan Pratama terbengong melihat aksi keponakan dan juga asisten putranya itu. Sungguh menggelikan, pikirnya.


"Apa kalian bilang, saya hantu dan juga macan?" Pekik tuan Pratama menyadarkan mereka berdua.


Mendengar suara tidak asing seperti omnya membuat Tama perlahan mengangkat kepalanya serta Dimas yang perlahan membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara tuan besar Pratama.


"Tu... Tuan... Se... Selamat siang," gagap Dimas karena masih shock.


"Om!" Tama berlari ke belakang tubuh tuan Pratama untuk sembunyi. (Macam bocah kau, Tim 🙄)

__ADS_1


"Om tadi ada suara kuntil dangdutan, om." adu Tama.


"Kuntil dangdutan?" beo tuan Pratama dan juga Dimas bersamaan.


"Iya om, masak gini om, hihi tak ntung tak ntung. Gitu om." Tama menirukan suara kuntilanak yang di dengarnya tadi.


Dimas yang melihat Tama menirukan suara kuntilanak yang ada di ponselnya sontak terbahak-bahak, membuat tuan Pratama dan Tama segera mengalihkan pandangan kepadanya.


Keduanya mengernyit heran, melihat tingkah Dimas. Ada apa dengannya, pikir mereka.


Tak lama keduanya saling pandang, seolah apa yang ada di dalam pikiran mereka sama. Lalu berkata, "Kesurupan."


Dimas yang mendengar ucapan keduanya sontak menghentikan tawanya lalu menggerutu, tadi sudah terkena amukan sang bos sekarang malah dikatai kesurupan.


Dengan bibir mengerucut Dimas berjalan ke arah dinding pojok kamar mandi, lalu mengambil ponselnya. Setelah mengamankan ponselnya, Dimas berbalik lalu menuju ruangannya tanpa mempersilahkan tuan Pratama dan tuan Tama terlebih dahulu. (Asisten edan emang 😂)


Anila keluar dengan gaun ke empatnya, di mana bagian atas gaun sedikit terbuka. Raffa yang melihat penampilan Anila sontak terpana, cantik sekali kamu sayang, ucap Raffa dalam hati.


Anila berjalan pelan dan anggun, kulitnya yang putih menambah nilai plus tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.


Raffa mendekat ke arah Anila dengan senyum mengembang di bibirnya. Di tariknya Anila perlahan ke dalam pelukannya, direngkuhnya erat pinggang Anila.


"Kau sangat cantik honey," bisik Raffa kemudian mengecup bahu polos Anila.


Anila terkejut dengan apa yang di lakukan Raffa, ia berusaha melepas rengkuhan Raffa namun tidak berhasil. Tante Feni yang melihat aksi dari anak sahabatnya sontak berkacak pinggang dan berjalan mendekat.


"Bagus, modus ya modus. Tante minta kesini supaya kamu bisa ngasih pendapat, malah modusin calon model Tante." Tante Feni menjewer telinga Raffa dengan gemas.

__ADS_1


"Calon model?" Ucap Anila dan Raffa bersamaan, mereka saling pandang sesaat. Sebelum Raffa melempar tatapan tajam kepada Tante Feni. Lantas Tante Feni melepaskan jewerannya.


"Tidak ada yang akan menjadi calon model. Calon nyonya Pratama tidak akan ku biarkan menjadi sorotan orang lain. Karena dia hanya milikku." Tekan Raffa dengan suara beratnya menahan kesal.


Karena terlanjur kesal Raffa menarik tangan Anila menuju mobilnya. Raffa tak menggubris panggilan Tante Feni, dia tak ingin mendengar apapun penjelasan dari Tante Feni. Anila mengikuti langkah Raffa tanpa protes sedikitpun.


"Bocah edan, main bawa pergi aja. Itu gaun belum dilepas, astaga... Nathalie anakmu membuat darahku naik rasanya." keluh Tante Feni.


Raffa berencana akan mengajak Anila bermain ke pantai. Namun sebelum itu Raffa mampir ke sebuah supermarket untuk membeli camilan dan lainnya agar selama di perjalanan tidak bosan.


"Kau membeli apa?" tanya Anila.


"Hanya sedikit camilan untuk mengganjal perut?" jawab Raffa dengan melajukan mobilnya.


"Apa ada susu coklat?" Tanya anila memilah camilan dalam kantong plastik sembari mencari sesuatu.


"Ada cari saja," seraya mengusap puncak kepala Anila.


Karena tak kunjung mendapat barang yang dicarinya sontak mengerucutkan bibirnya kesal. Melihat Anila cemberut, Raffa mengerutkan keningnya.


"Ada apa?" tanya Raffa keheranan melihat Anila.


"Susunya tidak ada," ketus Anila. Mendengar kata susu sontak pandangan Raffa menuju buah dada Anila, menyadari pikirannya yang mulai kacau sontak Raffa menggelengkan kepalanya segera.


Anila mengernyit melihat tingkah Raffa, "Kenapa? Apa kepalanya pusing?", Anila yang khawatir menempelkan telapak tangannya pada kening Raffa. Tidak panas, monolog Anila dalam hati.


Jantung Raffa berdetak kencang saat telapak tangan Anila menyentuh keningnya. Raffa tidak memungkiri jika dirinya sudah jatuh cinta pada Anila bahkan sejatuh-jatuhnya. Diambilnya tangan Anila lalu di ciumnya.

__ADS_1


Raffa menggenggam tangan Anila tanpa mau melepasnya selama perjalanan. Sungguh hatinya sangat berbunga-bunga. Sama halnya dengan Anila yang tersipu malu akan semua perlakuan Raffa padanya.


__ADS_2