Se Anting

Se Anting
Bab 44


__ADS_3

Sementara Anila baru menyelesaikan mandinya, dengan melilitkan handuk ke tubuhnya Anila berjalan menuju kopernya untuk mengganti pakaian. Namun sayang, Anila tak menemukan dimana kopernya berada. Anila mengobrak-abrik seluruh kamar tetap saja tak mendapati kopernya berada.


"Jangan bilang penculik amatiran itu membuang koperku," sungut Anila. "Masak hanya tubuhku yang di bawa ke Bali, sementara koperku di lempar entah kemana." Lanjutnya kesal.


Tak lama Anila menelepon pihak hotel untuk di antarkan baju ganti, namun bukan jawaban iya melainkan dirinya harus menghubungi Raffa karena kopernya berada ditempatnya.


Dengan mulut komat kamit Anila menekan nomor Raffa. Panggilan pertama dan kedua tak diangkat oleh Raffa, membuat Anila semakin dongkol saja. Anila kembali menekan nomor Raffa, dengan bibir mengerucut sebal. Lama tersambung, akhirnya Raffa mengangkat panggilannya.


"Halo," sapa Raffa di ujung sana.


"Raffandra Aura Pratama kembalikan koperku, dasar mesum." Teriak Anila seketika.


Raffa yang terkejut segera menjauhkan ponselnya dari Indra pendengarannya seraya terkekeh. Memang pagi tadi saat petugas hotel mengantarkan sarapan, Raffa mencegat lalu menyuruhnya mengeluarkan koper Anila.


"Bisakah kau mengambilkan koper istriku? Dia marah karena semalam kami tak jadi bulan madu hingga memilih kamar sendiri." Pinta Raffa pada petugas hotel tersebut.


"Bisa pak, mohon tunggu sebentar." Setelah menjawab Raffa, petugas hotel tersebut segera melakukan apa yang diminta tamu hotelnya.


Begitu menerima koper yang diminta, Raffa memberikan tips kepada petugas hotel sembari berkata, "Jika istriku menelepon pihak hotel, katakan saja jika kopernya ada bersama suaminya, Raffa. Terima kasih." Raffa segera memasukkan koper Anila ke dalam kamarnya, dimana terletak didepan kamar yang Anila tempati saat ini.


Tak mendengar jawaban dari sang pelaku, Anila semakin kesal. "Raffa kembalikan koperku, aku harus mengganti pakaianku," kesal Anila.


"Buka kamarmu." Raffa segera mengakhiri panggilan Anila seraya menatap pintu kamar adiknya. Raffa mengurungkan niatnya untuk membangunkan sang adik, beralih menuju kamar istrinya. Ups, calon istrinya.

__ADS_1


Anila mendengus begitu panggilannya dimatikan sepihak oleh Raffa, namun tak urung jua Anila membuka pintu kamarnya saat ada yang mengetuk pintu.


Dengan menyembulkan kepalanya, Anila mendelik tajam menatap Raffa. Sementara yang ditatap tajam hanya memasang wajah datar serta melipat tangannya didepan dada.


"Mana koperku Raf?" tanya Anila.


"Dikamar." Singkat Raffa.


"Bawa kemari,"


"Jika aku tidak mau?"


"Jangan menyebalkan Raf," geram Anila. Bukan menjawab justru Raffa menggeser kepala Anila masuk di ikuti dirinya. Melihat Raffa ikut masuk kedalam kamarnya, Anila membulatkan matanya.


"Kau menggodaku baby," Raffa mencium aroma tubuh Anila yang begitu memabukkan dirinya. Anila berusaha menggeser kepala Raffa dari ceruk lehernya, bukannya bergeser justru Raffa memagut lembut bibirnya.


*


*


*


Sedangkan disebuah kamar terlihat sosok gadis cantik yang masih setia dengan alam mimpinya. Bahkan ia tak menyadari jika seseorang telah memasuki kamarnya.

__ADS_1


Dengan senyum tipis, sosok itu mendekati gadis cantik tersebut. Dibelainya dengan lembut rambut sang gadis lalu mencium keningnya.


Sedikit menggoda, di gigitnya rahang sang gadis perlahan. Melihat tak ada gerakan apapun, dengan gemas sosok tersebut menggigit bibir bawah sang gadis hingga membuat sang gadis terlonjak kaget.


"Davin!" Teriaknya kencang. Ya, gadis cantik itu adalah Fyth. Si bontot tengil.


"Bangunlah sayang, ayo kita jalan-jalan ke taman." Ajak Davin seraya menyelipkan anak rambut Fyth kebelakang telinga.


"Ini kan masih pagi," rengek Fyth manja yang mendapat sentilan langsung dari Davin.


"Ini sudah jam 7 pagi, sayang."


"Tapi aku belum mandi," Fyth mengerucutkan bibirnya.


"Mandilah, aku akan menunggumu." Davin berjalan membuka gorden lalu kembali mendudukkan tubuhnya ditepi ranjang.


Tanpa kata Fyth turun dari ranjang menuju kamar mandi dengan menghentakkan kakinya kesal. Sementara Davin yang melihatnya hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


Setengah jam berlalu, Fyth tak kunjung jua keluar dari kamar mandi membuat Davin khawatir. Segera Davin berjalan menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya.


"Sayang, apa belum selesai?" tanya Davin dengan mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


Hening tak mendapati jawaban semakin menambah kekhawatiran Davin. Tanpa banyak kata Davin segera memutar kenop pintu kamar mandi dan masuk ke dalam. Betapa terkejutnya Davin saat melihat keadaan Fyth.

__ADS_1


"Sayang...


__ADS_2