
Area sekitar kampus nampak sepi, mengingat jam sudah berotasi hampir berganti waktu siang. Bahkan terik matahari mulai menyoroti bumi yang penuh kerindangan akan bangunan tingi berjajar. Fyth menatap ke luar jendela saat melihat kilauan cahaya terang benderang memanggang halaman kampus. Bisa dibayangkan bagaimana panasnya, andai di kata menjemur pakaian mungkin tak ada 1 jam sudah kering kerontang. Tentu hal itu membuat Fyth bergidik ngeri, "Andai gue bawa ikan buat di panggang, mateng kali ya." Gumamnya pelan.
"Apanya yang mateng?" Sahut Indri yang baru saja tiba dan duduk di samping Fyth.
"Ikan panggang, tumben kali lue datang terlambat?" Tanya Fyth seraya mengipasi wajahnya yang mulai merasakan kegerahan didalam kelas. Ini AC mati ya, panas kali macam masuk oven kue. Gerutu Fyth yang terdengar Indri.
"Lue nggak mandi kali, makanya gerah."
"Asyem tuh mulut, kok bisa bener sih. Gue bukan nggak mandi cuma tadi mandi bebek gara-gara si dolphin, pagi-pagi dah nangkring di rumah gue. Nyebelin kan?" Omel Fyth dengan mencomot potongan buah yang di bawa Indri dari rumah karena lupa sarapan. Sekali, dua kali, Indri memaklumi, ketiga kali Indri masih sabar diri, ke empat kali masih mencoba atur napas, kelima kali maka "plak!" Dengan kesal Indri memukul tangan Fyth yang tak berhenti mencomot buahnya. Oh ayolah, bahkan ia baru mengambil dua potong sedangkan Fyth.... Argh, rasanya ingin sekali Indri menjitak kepala sahabatnya ini.
"Auww, lue ini jadi cewek ngapa galak dan bar-bar sih." Ucap Fyth cemberut.
"Salah sendiri, gue laper bontot belum makan. Lagian kan lue pasti udah sarapan kan?"
"Kata siapa...
"Kata gue lah!" Sela Indri.
"Gue belum sarapan tepatnya belum sempat, alias tak sarapan. Lue tahu kenapa?" Tanya Fyth dengan mode seriusnya membuat Indri menggelengkan kepalanya tak tahu.
"Karena gue langsung cabut ke kampus, plus gara-gara si dolphin jadi demi calon istri yang baik dan sholehah maka gue harus berbakti. Nah, dan berbakti itu dengan mengalah tak sarapan karena sang imam sudah menunggu. Lalu sang imam itu....
"Stop!" Potong Indri segera dengan memijat keningnya pening, "Pusing pala gue denger lue ngoceh," ucap Indri membuat Fyth tergelak seketika karena berhasil mengerjainya.
Terkadang Fyth sendiri juga merasa heran dengan sikapnya yang sangat suka mengerjai dan membuat orang kesal, entah keturunan siapa yang mengalir dalam darah di tubuhnya. Kalau di ingat sang Mommy hanya cerewet saja, kalau Daddy itu pasti tidak mungkin karena orangnya kalem lalu kalau kak Raffa makin tak mungkin lagi apalagi galaknya minta ampun. Kakek dan neneknya?? Apa iya,
"Menurut lue, sifat tengil gue nurun dari siapa ya??" Sontak pertanyaan konyol meluncur mulus bak jalan tol dari bibir sexy Fyth, membuat Indri menghentikan kunyahan buahnya lalu menatap Fyth dengan kening berkerut. Pertanyaan macam apa ini, kesambet kali ini anak. Pikir Indri.
"Lue waras kan??" Tanya Indri kembali dengan muka polos tanpa dosanya yang mengatakan secara tidak langsung jika si tengil kurang waras, ingat dan garis bawahi KURANG! katanya.
"Asyem, ya iyalah gue waras. Gue cuma tanya doang," ketus Fyth seraya mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Kirain geser otaknya, mana gue tahu sifat tengil lue nurun dari siapa. Lue kira gue nenek moyang lue apa," ucap Indri sekenanya lalu melanjutkan kunyahan buahnya.
"Iya juga ya, mana mungkin lue tahu. Kalo lue tahu berarti lue udah NINI-NINI dong. Hahaha..." Pecah sudah tawa Fyth tanpa memperdulikan muka merah padam Indri yang menahan kesal pada sahabatnya satu ini.
Boleh nabok ini anak nggak sih, gerutu Indri dalam hati.
Tanpa menggubris ucapan Fyth, langsung saja Indri beranjak menuju toilet dan meninggalkan Fyth sendiri yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
*
*
*
Disebuah pulau nampak kedua pasangan pengantin baru sedang menikmati masa bulan madu mereka, dengan berpegangan tangan erat kedua insan manusia saling jatuh cinta itu menyusuri bibir pantai. Ombak laut menjadi saksi kemesraan mereka berdua ketika saling mengejar menuai cinta. Bahkan angin sebagai peredam terik matahari di saat insan saling terbakar gairah merajut asa. Siapa lagi pengantin baru itu jika bukan Raffa dan Anila.
Nampak wajah sumringah terpancar dari Raffa, bahkan senyum bodohnya tak hilang dari wajahnya dikala mengingat pertempuran mereka semalam. Setelah menunggu beberapa hari akhirnya Raffa buka puasa juga, hampir semalaman penuh Raffa terus menggempur landasan pesawatnya hingga membuat Anila kewalahan.
"Apanya?" Tanya Anila kembali yang bingung dengan maksud Raffa.
"Landasan ku itu," ucap Raffa dengan menunjuk lembah indah lewat dagunya. Anila yang mulai konek dengan maksud sang suami sontak merona wajahnya. "Sedikit," cicit Anila malu-malu dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Raffa.
"Mau ku obati, di jamin sembuh seketika." Ucap Raffa yang memulai lajur modusnya, membuat Raffa dan Anila junior tentunya.
"Benarkah, bagaimana caranya?" Melihat istrinya penasaran, membuat Raffa menyunggingkan senyum manis bahkan termanis semanis madu. Tanpa berlama-lama, Raffa segera menggendong Anila, membuat sang empu memekik karena terkejut.
"Argh," jerit Anila. "Kau ini mau membuatku jantungan ya," Anila memukul bahu Raffa, bukannya kesakitan justru Raffa tergelak dengan wajah menggemaskan sang istri.
Cup!
Raffa mencium pipi Anila sembari berjalan menuju villa kembali.
__ADS_1
*
*
*
Usai melakukan ajuan cutinya dan Fyth, segera Davin menuju kantin untuk menjemput Fyth. Walau Davin cucu dari pemilik kampus, tetap saja Davin akan mematuhi peraturan yang berlaku di dalam kampus.
Langkah tegap Davin serta wajah tampannya membuat banyak para gadis berbisik kagum, namun sayang sudah berpawang bahkan hampir seluruh kampus tahu jika pawangnya si tengil, Fyth.
"Sayang," sapa Davin begitu sampai meja Fyth dan Indri.
"Hay sayang, bagaimana sudah selesai?" Sambut Fyth dengan mesranya menggandeng tangan Davin untuk duduk di sampingnya.
"Sudah, masih ada kelas?" Tanya Davin lembut seraya menyelipkan rambut Fyth ke belakang. Tanpa keduanya sadari Indri menggerutu dalam hati, karena merasa menjadi kambing congek yang diabaikan.
"Tidak, kita jalan sekarang yuk." Ajak Fyth.
"Kemana?" Sela Indri yang tak terima jika di tinggalkan sendiri.
"Kita mau nonton terus nyalon bareng sebelum PINGIT!" Ucap Fyth santai. Sementara Davin sudah menutup mukanya menahan malu ketika mendengar kata salon. Astaga, ingin sekali davin kabur saat ini juga.
Hah!,
Indri menganga tak percaya. Apa tadi katanya, salon! wow wow rupanya kedua calon pengantin mau perawatan. Hehehe, tak bisa di biarkan, dirinya harus ikut bersama Leon juga tentunya.
Segera Indri meraih ponselnya di atas meja lalu menghubungi Leon, "Hallo sayang....
Sontak Fyth dan Davin saling pandang merasakan perasaan tak enak dalam kencan kali ini. Orang ketiga, pikir keduanya.
Astaga, nackhil si Fyth, masak kakak dan sahabatnya dibilang orang ketiga. 😂😂
__ADS_1