Se Anting

Se Anting
Bab 92


__ADS_3

Nampak dikediaman Aditama ramai sanak saudara yang tengah berkumpul bersama. Semua turut berbahagia karena pada akhirnya Davin akan mengakhiri masa lajangnya. Para sepupu Davin tengah berbincang satu sama lain membicarakan cantiknya calon istri Davin. Bahkan tak khayal mereka pun menggoda Davin yang kini berwajah kusut akibat masa pingitan hingga membuatnya kehilangan semangat.


Bagaimana tidak, jika calon istrinya sedari malam dihubungi justru malah tak merespon semua chat dan juga panggilan Davin. Sungguh membuat hati si dolphin ini kesal setengah mati. Disaat seperti ini lah, pembawaan Davin tak ada kalem-kalemnya sama sekali. Yang ada terlihat uring-uringan sendiri, apalagi saat para sepupunya meledeknya karena tak kuat menahan diri untuk merindukan calon istrinya itu.


"Astaga bang, sabar kenapa. Lusa kalian kan bakal ketemu." Ujar salah satu sepupu Davin.


"Tahu tuh, dasar abg tuwir. Baru juga jalan pingitan sehari udah rusuh." Sahut Helen sebal melihat bibir manyun Davin.


"Kalian tak tahu bagaimana rasanya hatiku, sehari saja tak bertemu bagaikan sewindu. Sedetik saja tak mendengar suaranya membuat akal sehatku tak menentu." Ucap Davin dengan gaya melasnya, membuat yang lainnya hanya memutar bola matanya malas.


"Lebay!" Cibir Helen terang-terangan.


"Bilang aja iri kau El," ledek Davin.


"Cih, ngapain? Nggak tuh. Lagian Abang Ary juga mau terbang kesini besok " Ejek Helen kembali ke arah Davin. Tentu saja hal itu membuat jiwa kesatria dalam dirinya menjerit keras. Dia yang tersiksa rindu malah sepupunya yang akan menyatukan tumpukan rindu besok. Huft,


"Terserah." Ucap Davin mengalah karena terlalu malas meladeni tingkah Helen yang terus mengejeknya. Namun tidak dengan Helen yang nampak tersenyum puas karena berhasil membuat sepupunya kesal.


"Aku ke kamar saja, disini cuacanya membuat hati panas." Davin segera beranjak dari duduknya menuju lift. Melihat Davin akan pergi, Helen mengikutinya dari belakang. Hanya saja, Helen membelokkan langkahnya untuk menaiki tangga dengan cepat sebelum Davin mencapai kamarnya terlebih dahulu.


"Hehehe, lihat saja! aku kerjain kamu habis-habisan." seringai Helen dalam hati yang berniat mengunci pintu kamar Davin dari luar supaya tak dapat masuk ke dalam kamarnya. Sayang, harapan tak sesuai ekspektasi karena nyatanya Davin menuju lantai dua dan mengurungkan niatnya menuju kamar lalu masuk ke dalam ruang musik untuk mencoba menghubungi kembali gadis pujaannya. Siapa lagi jika bukan Fyth yang berjulukan si tengil idaman hati. Semoga saja si tengil mau menerima telepon darinya.


*


*


*

__ADS_1


Hal serupa tengah dirasakan oleh fyth, wajahnya kini nampak merana karena bukan hanya dirinya yang di pingit namun ponselnya pun ikut serta terpingit. Karena mulut omes adik sepupunya yang bernama Cinta tak memiliki rem, akhirnya Mommy Nathalie pun mengurung ponselnya selama masa pingit. Hanya karena Cinta tak sengaja keceplosan mengatakan jika beberapa saat yang lalu sempat menerima video call dari Davin. Ingin sekali dirinya menyumpal mulut adik sepupunya satu itu.


Dengan berjalan gontai, Fyth menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil camilan. Tanpa menatap sekitarnya, ia berjalan begitu saja melewati semua orang yang ada di ruang keluarga. Bahkan tak menyadari jika kakaknya Raffa dan kakak iparnya Anila sudah pulang dari bulan madunya. Dan kini tengah menatap ekspresi si tengil yang murung sambil memakan satu toples keripik kentang di meja makan.


"Astaga, kenapa ada mayat hidup disini?" Gumam Raffa yang terkejut melihat tingkah adiknya saat ini.


"Bukan mayat hidup, tapi vampir hidup. Lihat saja! Tak punya senyum." Sahut Cinta terang-terangan.


"Kaku." Alysa ikut menimpali.


"Kalian belum tahu saja bagaimana rasanya jauh dari orang yang kita cintai, bahkan tanpa bisa bertukar kabar seperti ini. Sangat menyiksa sekali tahu." Ucap Anila membela adik ipar tengilnya itu. Sayang, yang dibicarakan lebih fokus pada keripik kentangnya dan tak menghiraukan percakapan semua orang. Letak meja makan yang tak terlalu jauh dari ruang keluarga membuat si tengil dapat mendengar percakapan semuanya, namun ia tak berniat menimpali satu pun.


"Memang dulu kakak Anila di pingit gitu juga?" Tanya Alysa penasaran sebab saat pernikahan Raffa, ia dan keluarganya berada di luar negeri karena Papanya ada urusan bisnis. Otomatis dirinya dan Mamanya harus ikut kemanapun Papanya pergi.


"Enggak sih." Cengir Anila yang dibalas gelak tawa semuanya. Mereka tahu jika dulu Raffa memberi Anila dua minggu untuk mempersiapkan diri saja. Sehingga mereka menikah tanpa acara pingitan mengingat waktunya mepet, karena di pepet oleh Raffa.


"Gimana mau di pingit, nikahnya aja cuma di kasih waktu dua minggu buat semua persiapan." Ucap Cinta dengan mengejek kakak sepupunya itu.


"Dengarkan itu kalian berdua, berpikirlah bijak seperti kakak kalian. Jangan sekali-kali berani kalian pacaran, kalau punya gebetan boleh." Ucap Tante Radis semakin menambah gelak tawa di ruang keluarga itu.


"Hay bontot! Jangan galau-galau, nanti cepat keriput." Ujar Tante Radis sembari berjalan mendekat. Sungguh melihat keponakannya sedih begini membuat jiwa bar-bar untuk mengejek kian menggelora. Namun sang empu hanya berdecih lalu melanjutkan aksi makan camilannya tanpa menghiraukan ucapan Tante kesayangannya itu.


"Ck! Jangan bertingkah menyebalkan. Oh sungguh Tante tak menyangka kau akan kawin juga akhirnya." Ejek Tante Radis dengan senyum menyebalkan tiada terkira.


"Nikah Tante bukan kawin. Kalo kawin pasti main tembak-tembakan ntar." Ujar Fyth sekenanya, membuat Tante Radis melongo seketika. Dan Raffa yang baru mendekat langsung saja memberikan hadiah toyoran di kepala adiknya itu.


"Itu mulut astaga, omes." Kesal Raffa yang tak habis dengan apa yang ada di pikiran si tengil itu.

__ADS_1


"Loh kak Raf kapan pulang? mana main toyor lagi. Lagian kan betul, kalo udah nikah pasti kawin kan. Main tembak-tembakan." Ucap Fyth terbahak tanpa melihat ekspresi Tante Radis dan Raffa yang siap menelannya.


"Astaga bontot, mau kakak sentil." gemas raffa, sementara sang pelaku hanya cengengesan.


"Tadi pagi kakak pulang, pagi banget sebelum bulan berganti matahari yang cerah." lanjut Raffa lalu ikut duduk di samping Tante Radis.


"Kok udahan bulan madunya, nyetak anaknya nggak di lanjutkan?" mendengar ucapan yang lolos dari bibir sexy adiknya itu membuat Raffa mengusap dadanya sabar. Entah virus darimana yang kini menempel pada adiknya. Ingin rasanya Raffa memukul kepala adiknya itu, menyebalkan sekali.


Sedangkan Tante Radis menahan tawanya agar tak meledak mendengar ucapan keponakannya itu. Meskipun wajahnya sedikit merona lantaran sedikit malu mendengar lontaran kalimat tak tersaring itu.


"Dasar tengil." Ucap Raffa lalu beranjak pergi meninggalkan Fyth sendiri, lalu diikuti Tante Radis. Keduanya takut jika stok kesabarannya habis sebelum waktunya.


"Loh kakak sama Tante mau kemana? Pinjam ponsel dulu dong kak, Tan." Pekik Fyth namun diabaikan keduanya.


*


*


*


"Mas Raffa, mana minumnya?" Tanya Anila kepada Raffa begitu masuk kedalam kamar.


"Astaga mas lupa sayang." Raffa menepuk keningnya seketika, niat hati ingin mengambil minum untuk istrinya malah asyik berdebat dengan adik tengilnya.


"Gimana sih mas."


"Namanya lupa, bentar mas ambilkan dulu ke dapur." Hampir Raffa membuka pintu kembali, namun dengan cepat Anila mencegahnya lantaran terlanjur kesal. "Nggak perlu mas, aku udah nggak haus." Ketus Anila lalu menarik selimut sebatas dadanya.

__ADS_1


"Hari ini pabrik susu lagi fermentasi, tak ada jatah. Plus main gobak sodornya libur." Lanjut Anila kemudian memejamkan mata.


"Apa...


__ADS_2