
Dengan menghentakkan kakinya kesal Fyth masuk ke dalam kamar mandi sambil menggerutu. Fyth memandang dirinya dari pantulan kaca sesaat, sebelum menatap sekelilingnya.
"Mandi ya," gumamnya pelan.
Melihat bathub sudah terisi air beserta busa sabun, muncul ide cemerlang dalam otak cantiknya seketika. Dilepasnya satu persatu pakian yang menempel pada tubuhnya hingga tak tersisa lalu masuk ke dalam bathtub.
"Berendam, berendam, biarkan si dolphin menunggu sendirian." Ucap Fyth cekikikan.
Lama bermain busa membuat Fyth kembali diserang rasa kantuknya. Berkali-kali ia menguap, bahkan tanpa sadar menyandarkan kepalanya kesamping bathtub.
Tak tahan dengan rasa kantuknya, Fyth memejamkan mata begitu saja tanpa memperdulikan seseorang yang menunggunya dalam keadaan cemas.
Davin yang sudah memutar kenop pintu kamar mandi segera melangkahkan kakinya masuk. Mata Davin membulat saat melihat gadis yang membuatnya khawatir setengah mati, tertidur pulas di dalam bathub. Dengan perlahan Davin mendekati tunangannya itu sembari membawa handuk yang sebelumnya ia raih di samping closet.
"Sayang, kau membuatku khawatir setengah mati. Ku kira terjadi sesuatu." Kata Davin dengan mengangkat perlahan tubuh Fyth, bahkan Davin memejamkan kedua matanya takut tak dapat menahan diri melihat tubuh polos tunangannya itu.
Setelah melilitkan handuk ke tubuh Fyth, segera Davin menggendongnya keluar kamar mandi. Sementara Fyth bukannya terbangun justru merebahkan kepalanya di dada Davin.
"Mengapa kau sangat menggemaskan sayang," Davin menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fyth dalam gendongannya.
Davin meraih telepon hotel untuk meminta salah satu OG menggantikan baju tunangannya. Tak mungkin ia melakukanya, karena mereka belum sah menjadi suami istri.
__ADS_1
Dua puluh menit berlalu, setelah menyelesaikan tugasnya, OG segera memanggil Davin untuk masuk ke dalam kamar seraya berpamitan.
"Tuan, silahkan masuk. Saya sudah memakaikan nona baju. Jika tidak ada hal lain lagi saya permisi terlebih dahulu tuan." Kata OG hotel. Davin menjawab dengan anggukan seraya memberikan tips kepada OG itu.
*
*
*
*
Kita beralih ke Jakarta....
Leon menggebrak mejanya seketika, saat melihat semua foto pertunangan gadis tengilnya. Dengan nafas memburu dan tangan terkepal, Leon meminta Dipa untuk menyiapkan pesawat pribadinya. Hari ini juga ia akan terbang ke Bali menjemput calon istrinya. Eh, calon istrinya.
Mendengar ucapan tuannya sontak Dipa menggelengkan kepalanya, berusaha menghentikan kemauan gila tuannya itu. Dasar bucin, umpat Dipa.
"Tuan tenang, coba tuan pikirkan, jika tuan terbang kesana dan membawa nona Fyth kemari dengan paksa yang ada tuan Barack tidak akan menyukai anda. Bukankah anda bilang akan mengambil hati tuan Barack?" Bujuk Dipa.
"Kau benar Di, lalu aku harus bagaimana? Lelaki itu menyentuh gadis tengil-ku seenaknya." Kesal Leon ketika mengingat foto dimana tangan Davin memeluk pinggang Fyth posesif.
__ADS_1
"Wajar tuan, kan mereka bertunangan." Lirih Dipa namun terdengar telinga Leon.
"Apa katamu?"
"Tidak tuan, saya tidak berkata apapun." Dipa menggelengkan kepalanya seketika. Denger aja ini boss, ucap Dipa dalam hati.
Dengan kasar Leon menghempaskan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Dipijat pelipisnya penuh kesal, sungguh amarah memenuhi dadanya.
Tidak, Fyth hanya milikku dan akan menjadi milikku, tekad Leon dalam hatinya. Diarahkan pandangannya menuju Dipa, dengan gerakan mata menyuruh Dipa mendekat kepadanya.
"Terus awasi kegiatan gadis tengil-ku disana dan laporkan setiap jamnya. Ah, cari tahu juga kapan keluarga Pratama akan kembali ke Jakarta." Perintah Leon.
"Baik tuan, ada lagi tuan?"
"Tidak, pergilah."
"Baik, saya permisi tuan." Pamit Dipa sedikit membungkukkan badannya. Iyain ajalah biar cepat kelar, pikir Dipa.
Begitu Dipa keluar dari ruangan, Leon beranjak menuju kamar pribadinya untuk beristirahat sembari membawa foto Fyth yang tersenyum manis dengan gaun pertunangannya.
Direbahkan tubuhnya perlahan ke ranjang seraya memandang foto Fyth. Senyum tersungging pada bibirnya, didekatkan foto itu lalu menciumnya.
__ADS_1
"Kau milikku sweety,"