
Suasana dalam cafe sangat ramai, banyak anak muda yang datang menghabiskan waktu mereka untuk sekedar nongkrong. Selain tempatnya strategis, dekorasi yang kekinian menambah nilai plus tersendiri sebagai daya tarik cafe tersebut.
Tama yang duduk di samping Indri memulai modusnya untuk menggoda Indri. Mulai dari yang menggenggam tangan Indri, hingga meletakkan tangannya pada bahu Indri. Raffa, Davin dan juga Anila yang melihat tingkah Tama hanya menggeleng kepala mereka, berbeda dengan Fyth. Melihat aksi modus sepupunya, membuat jiwa jahilnya meronta.
Diraih tisu di atas meja lalu melemparnya ke arah Tama seraya berkata, "Lebay lue Timi."
Melihat kejahilan Fyth sontak mengundang tawa yang lainnya. Ada-ada saja, pikir mereka.
Mendapat lemparan tisu dari sepupunya sontak Tama membulatkan matanya, ditambah melihat yang lain tertawa semakin membuatnya sebal.
"Namanya juga usaha bontot" sungut Tama.
"Gaya lue usaha Tim," ejek Fyth.
"Iya, tukang modus." timpal Anila.
"Tukang gombal." Imbuh Davin.
"Playboy." Sambung Raffa.
Skakmat sudah, mendengar ejekan dari semua membuat Tama mengerucutkan bibirnya. Indri hanya tertawa melihat Tama di ejek yang lainnya tanpa berniat membela.
Tama mengarahkan pandangannya ke arah Indri seraya mengadu seolah dirinya di tindas yang lain.
"Sayang, lihatlah mereka sedang mengejekku," rajuk Tama.
__ADS_1
"Ku rasa yang diucapkan mereka benar adanya." bukan membela justru Indri ikut mengejek Tama.
"Hilang sudah tajuk ketampanan harga diriku karena ejekan kalian," sungut Tama seraya mencebikkan bibirnya.
Pecah sudah tawa mereka mendengar ucapan Tama. Terutama si tengil yang terbahak melihat sepupunya di ejek yang lainnya.
Lama mereka mengobrol tak terasa waktu sudah siang. Fyth melihat jam tangannya, lalu berniat pamit terlebih dahulu.
"Guys, gue balik duluan ya. Kak lue gak balik ke kantor?" tanya Fyth sembari memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Ke kantor habis ini." jawab Raffa yang di tanggapi anggukan kepala oleh Fyth.
Fyth mengarahkan pandangannya ke arah Davin, berniat mengajak pulang bersama. "Kamu nggak balik juga, yang? Balik bareng yuk?" ajak Fyth.
Davin tersenyum manis mendengar ajakan dari calon istrinya. Sungguh tak sabar dalam hatinya untuk segera mengikat Fyth disampingnya.
"Bye all" Fyth melambaikan tangannya lalu mengikuti langkah Davin meninggalkan cafe.
Tak lama yang lain juga membubarkan diri mereka masing-masing. Anila harus pergi ke butik, Raffa dan Tama kembali ke kantor, sedangkan Indri harus pulang karena di tunggu maminya di rumah.
Didalam mobil Fyth mengerucutkan bibirnya sebal karena tidak di ijinkan pulang membawa motornya. Davin yang melihat Fyth kesal justru terkekeh, diulurkan tangannya membelai kepala Fyth.
"Masih kesal, hm?" ucap Davin lembut.
"Aku kan mau balik bawa motor, yang," rajuk Fyth.
__ADS_1
"Nggak boleh sayang, ini sudah siang. Cuacanya juga panas, aku nggak mau nanti kamu kepanasan," bujuk Davin.
"Terus motorku gimana? Masak ditinggalin gitu aja sih, yang." Sebal Fyth.
"Nanti diambil anak buahku sayang. Sudah jangan merajuk lagi, ayo ikut aku ke suatu tempat," ajak Davin untuk mengalihkan rasa kesal calon istrinya.
"Kemana?" tanya Fyth antusias. Melihat calon istrinya penuh semangat membuat Davin menyunggingkan senyumnya.
"Nanti juga tahu." jawab Davin penuh misteri.
"CK! Membuat orang penasaran," decak Fyth yang di tanggapi kekehan oleh Davin.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam akhirnya mereka sampai di tempat yang ingin di tunjukkan oleh Davin. Di carinya tempat untuk memarkirkan mobilnya, begitu mendapat tempat parkir segera dimatikan mesin mobilnya lalu membangunkan Fyth yang tertidur selama perjalanan.
"Sayang bangun, kita sudah sampai," bisik mesra Davin di telinga Fyth.
Sayup terdengar suara ditelinganya membuat Fyth mau tak mau membuka matanya. Di regangkan tubuhnya, lalu mengarahkan pandangannya ke depan. Betapa terkejutnya Fyth melihat apa yang ada di depan matanya.
"Ini..
Cieciez berdiri di balkon sembari menatap lurus ke depan, ingatannya tertuju pada kejadian di cafe saat itu. Melihat sikap Sammy yang berubah diam setelah bertemu kakak sepupunya membuat tanda tanya dalam dirinya. Ingin ia bertanya namun takut Sammy akan marah karena terlalu ikut campur urusan pribadinya. Jika dia diam seperti ini justru rasa penasaran membuncah dalam hatinya.
"Apa yang harus ku lakukan?" desah Cieciez dengan menghembuskan kasar nafasnya.
Lama berada di balkon, Cieciez memutuskan masuk dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Mungkin tidur bisa membuat suasana hati jauh lebih baik, pikirnya.
__ADS_1
Sementara di sisi lain, Sammy dilanda keresahan akan hatinya. Benarkah dia jatuh cinta dengan Cieciez? Apakah cinta datang secepat itu. Banyak pertanyaan muncul di benaknya yang membuat kebimbangan melanda dirinya.
"Apa yang harus ku lakukan?" ucap Sammy lirih.