
Kini semua tengah berkumpul didalam sebuah kamar hotel. Daddy Barack hanya memasang wajah datar menatap gadis didepannya, dimana masih seusia putrinya. Semua orang hanya terdiam tanpa kata, mereka bingung darimana tiba-tiba gadis ini muncul dan mengaku hamil anak Tama.
Disamping Daddy Barack ada Mommy Nathalie yang ikut memperhatikan gadis didepannya itu. Ia merasa ada yang tidak beres dengan gadis tersebut.
Lama dalam keheningan membuat semua canggung untuk memulai pembicaraan, bahkan sang gadis hanya menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan ketakutannya saat ini.
Jika bukan karena Papa, aku tidak mau seperti ini. Tapi tak mengapa dengan begini aku bisa menjadi Nyonya Sinaga. Oh sahabatku Vania, maafkan aku jika harus menggantikan posisi mu. Salahkan dirimu yang memilih pergi tanpa meminta pertanggung jawaban dari seorang Artama Zaleon Sinaga. gumamnya dalam hati.
Hampir setengah jam berlalu, Daddy Barack akhirnya buka suara."Siapa namamu?" Tanya Daddy Barack tiba-tiba sehingga menyadarkan lamunan gadis itu.
"Sa.. saya Cynthia Arabella tu.. tuan," jawabnya terbata. Sumpah demi apapun, ternyata berhadapan dengan keluarga Pratama sangat menakutkan.
"Bagaimana Tama bisa membuat kamu hamil?" Tanya kembali Daddy Barack.
"Yakin kamu hamil anak keponakan saya?" Sela Mommy Nathalie yang bertanya dengan nada angkuhnya.
Ya tuhan, apa ini persidangan skripsi? Gerutu Cynthia dalam hati. Bagaimana pun caranya, ia harus bisa meyakinkan semua orang tua yang berada dalam ruangan ini. Rencana yang telah disusun matang harus dilakukan, apapun resikonya karena ia sudah berani bertarung melawan kawanan singa.
__ADS_1
"Saya memang hamil anaknya tuan, nyonya." Ucapnya penuh air mata kepalsuan. "Bahkan saya membawa hasil USG dari kandungan saya jika tuan dan nyonya tidak mempercayainya." Lanjutnya seraya mengambil hasil pemeriksaan dalam tas, lalu menyerahkan kepada Mommy Nathalie.
"Usia kandungan saya sudah hampir 1 bulan, saya sendiri baru mengetahuinya 2 hari yang lalu jika... Jika... Sa.. saya... Huhuhu," tangisnya terisak. Sementara Mommy Nathalie hanya memutar bola matanya malas melihat akting gadis bernama Cynthia itu seraya menerima hasil pemeriksaan itu.
Apa benar gadis itu hamil anak Tama?, Tanya Mommy Nathalie dalam hati.
*
*
*
Awalnya Vania takut dan terpuruk, bahkan ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Ia begitu malu menatap tubuh dan dirinya yang sudah kotor. Namun dukungan dari sahabatnya yang bernama Cynthia membuat ia kuat menjalani dan menerima semuanya. Sayang, Vania tak menyadari niat asli dari Cynthia sesungguhnya.
"Sayang, mama akan menjaga kamu segenap jiwa mama. Tak perduli apapun yang terjadi nanti, kamu milik mama dan selamanya akan selalu bersama mama selamanya. Mungkin kamu hadir dari sebuah ketidaksengajaan, namun bagi mama kamu adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan untuk menemani hari-hari mama nak." Ucap Vania seraya mengusap perutnya penuh kasih sayang.
Usai menyelesaikan masakannya, Vania segera membawa semua hasil masakannya menuju meja makan. Entah mengapa ia sangat ingin makan berbagai macam makanan laut.
__ADS_1
"Ya tuhan, hanya melihatnya saja sudah membuatku meneteskan liur." Kata Vania dengan cekikikan. Tanpa menunggu lama, ia segera melahap habis makanannya.
*
*
*
Dengan terpaksa Fyth dan rombongan membatalkan niat untuk melihat sunset, karena Daddy Barack menghubungi Raffa melalui bawahannya untuk segera kembali ke hotel saat ini juga. Tanpa berani membantah, semua membereskan barang bawaan masing-masing.
"Sayang, aku merasa ada yang tidak beres. Perasaanku tidak enak," kata Fyth menyampaikan kegelisahannya kepada Davin.
Melihat kegelisahan di mata calon istrinya itu, Davin mendekat seraya merengkuh Fyth dalam pelukannya. "Hanya perasaanmu saja sayang, yakinlah semua akan baik-baik saja." Hibur Davin.
"Baik-baik bagaimana? Aku mendengar dari anak buah Daddy jika ada gadis yang datang ke hotel dan mengaku hamil." Cemas Fyth. "Awas saja jika dia hamil sama kamu, ku potong habis itu pusakamu." Ancam Fyth. Sementara Davin menelan ludahnya susah payah.
"Tak mungkin sayang, percayalah." Ucap Davin meyakinkan Fyth.
__ADS_1
Hal serupa juga menjadi perdebatan Raffa dan Anila, bahkan Raffa sudah mendapatkan ultimatum sinyal bahaya dari istrinya itu.
"Awas saja jika gadis itu hamil karena kamu mas!, Habis semua pesawat mu saat itu juga dan tak akan pernah ada jatah landasan bagimu selamanya." Begitulah kira-kira ultimatum dari seorang Anila yang menurut Raffa lebih kejam dari sebuah bom waktu.