
Tama menyeka keringat yang membanjiri keningnya, seolah mimpi yang dialami begitu nyata. Tanpa membasuh wajah, Tama bergegas menuju kamar Fyth untuk memastikan keadaannya baik-baik saja.
Sesampai di depan kamar Fyth, diketuk pintunya dengan sedikit tidak sabaran. Entah apa yang dilakukan sepupunya itu didalam, lama sekali membuka pintu kamarnya.
Didalam kamar mandi, Fyth merendam tubuhnya kedalam tumpukan busa. Dengan aroma sabun strawberry kesukaannya, membuat Fyth terlena menghirup aroma yang menguar dari bathtub.
"Betapa segarnya," gumam Fyth.
Samar-samar Fyth mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya, pikir Fyth itu salah satu maid di mansion. Otomatis Fyth melanjutkan berendamnya, dan merilekskan tubuh.
Tak kunjung terbuka juga pintunya, sontak Tama menggerutu kesal. "Apa yang dilakukannya didalam sana?".
Tak lama Fyth keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk melilit di tubuh rampingnya begitu saja. Tanpa menyadari ada sepasang mata melihatnya tak berkelip sedikitpun. Dengan santainya Fyth berjalan menuju walk in closet untuk memakai bajunya, lalu turun makan malam bersama.
Davin menelan ludahnya susah payah berusaha menahan gejolak gairah ditubuhnya saat melihat punggung mulus Fyth. Di sekanya keringat di kening, kemudian memilih berlalu dari kamar tunangannya itu.
"****!" Diusap kasar wajahnya, guna mengusit bayangan tubuh Fyth yang kini menari-nari dalam pikirannya.
Namun Davin bersyukur, beruntung dirinya mencegah Tama terlebih dahulu agar tidak masuk ke dalam kamar Fyth. Tak bisa Davin bayangkan jika tubuh mulus tunangannya itu di lihat laki-laki lain. Tidak, tidak boleh, hanya ia yang berhak.
Brak!
__ADS_1
Pintu kamar ditutup sedikit kencang hingga membuat Fyth yang berganti pakaian sontak terkejut. Fyth menyembulkan kepalanya dari walk in closet, mengintip apakah ada orang di dalam kamarnya. Disapunya setiap sudut kamar namun tidak menemukan siapapun. Dengan mengangkat kedua bahunya acuh, Fyth kembali melanjutkan aktivitasnya.
Dengan gontai Davin berjalan menuju meja makan, disana sudah ada Daddy Barack, Mommy Nathalie, Raffa, tak lupa juga Tama yang terlihat lebih segar setelah mandi. Daddy Barack melihat Davin turun sendiri mengerutkan keningnya, kemana putri tengilnya? Mengapa tidak ikut turun.
"Dav, mana Fyth?" Tanya Daddy Barack seketika.
"Masih berganti pakaian dad," jawab Davin seraya mendudukkan tubuhnya di samping Tama.
"Baru selesai mandi? Jam segini? Astaga gadis itu," sahut Mommy Nathalie kesal.
"Sudahlah mom, kita mulai saja makan malamnya. Biar nanti Fyth menyusul." Ucap Daddy Barack.
"Tak perlu biar aku saja," ucap Davin.
"Tidak, aku saja. Kau makanlah lebih dahulu." Tama tak mau mengalah.
"Aku calon suaminya, Artama." Tekan Davin akan statusnya. Tama seketika terdiam mendengar ucapan Davin, benar Tama lupa jika Davin adalan calon suami gadis pujaannya.
Sementara gadis yang tengah diributkan dengan santainya duduk dan mengambil makanan. Tanpa menghiraukan pertengkaran keduanya, Fyth segera melahap makanannya.
"Sudah-sudah, untuk apa kalian ribut? Lihat saja, orang yang kalian ributkan malah asyik makan terlebih dahulu." Tunjuk Raffa pada adik tengilnya itu.
__ADS_1
Semua orang tampak mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Raffa, seketika semua orang berteriak bersamaan, "Aurora Fythania Pratama".
Karena terkejut, Fyth akhirnya tersedak makanan. " Uhuk, uhuk, uhuk...."
Diraihnya segelas air didepannya secepat kilat, ditegaknya habis tanpa sisa. Setelah reda, Fyth menatap horor kepada semua orang.
"Mau bikin rumah sakit naik daun ya, karena banyak pasien mati tersedak." Sebal Fyth.
"Maaf sayang, mom tak sengaja hem?" Bujuk Mommy Nathalie. "Maafin mom ya sayang" lanjut Mommy Nathalie sembari menghampiri Fyth dan memeluknya.
"Boleh dengan satu syarat," pinta Fyth.
"Apa sayang? Pasti mom berikan."
"Aku mau dad, karaf, kavin, dan Timi masak di dapur. Bikin omelette."
"What? No," jawab ke empat laki-laki itu secara kompak.
Fyth mencebikkan bibirnya, dengan memasang tampang sendu ia bangkit berlalu dari meja makan. Mommy Nathalie melihat kekecewaan dimata putrinya sontak melotot kepada ke empat pria di depannya kini.
"Dad, jika tak mau maka nanti malam tak ada jatah. Raffa jika kau juga tak mau maka nanti akan mom batalkan pernikahanmu. Davin, kau ini calon suaminya, kalau kau di minta putriku untuk membuat makanan untuknya saja tidak mau, bagaimana jika nanti putriku ngidam anakmu hah?. Dan kau Tama, sebagai sepupu yang baik kau harus bisa mentolerir sikap sepupumu sendiri. Jadi jika kalian berempat masih tidak mau, lihat nanti akibatnya." Ancam Mommy Nathalie sebelum berlalu menuju kamar putrinya.
__ADS_1