Se Anting

Se Anting
Bab 40


__ADS_3

"Duakh...


Tama meringis mengusap kakinya karena di tendang Fyth dengan heelsnya. Dengan berkacak pinggang, Fyth menarik telinga Tama kencang. Sedangkan Davin hanya melihat apa yang di lakukan calon istrinya dari samping sembari memasukkan tangannya ke saku celana.


"Bagus ya, ternyata lue selingkuh sama nenek gombreng. Gue kan udah bilang, itu nenek gombreng gak baik buat Lue." Kesal Fyth dengan mengencangkan tarikan telinganya Tama.


"Aduh, aduh, aduh,... Ampun bontot. Gue khilaf, suer deh," rengek Tama dengan mengangkat jemari telunjuk dan tengah membentuk huruf V.


"Khilaf pala lue, hah! Lepasin Indri. Jangan temuin dia lagi, gue gak rela sohib gue lue mainin. Balik sono sama nenek gombreng, tapi jangan nyesel kalo gue bakal nyuruh kak Raffa buat cabut sahamnya di lue." Murka Fyth lalu melepaskan tangannya dari telinga Tama. Dengan muka kesal Fyth menarik tangan Indri pergi meninggalkan Tama dan Davin.


Menyesal, itulah yang dirasakan Tama saat ini. Davin menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fyth, lalu menepuk pundak Tama seraya berkata, "Ambil hikmahnya bro." Davin melangkahkan kakinya pergi menyusul Fyth.


Mendengar ucapan Davin membuat diri Tama semakin merasa bersalah. Ingin Tama mengejar kepergian sepupunya dan juga Indri, Namun panggilan dari Daddy Barack membuat ia mengurungkannya dan beralih menuju tempat para orang tua.


Dengan langkah gontai Tama menuju meja Daddy Barack, hilang sudah semangatnya. Sungguh bodoh, mengapa dirinya bisa termakan bujuk rayu dari sang mantan. Bodoh kau Tama, monolognya pada diri sendiri.


Setelah keluar dari tempat acara, Indri memeluk Fyth penuh linangan air mata. Indri menumpahkan seluruh rasa sesak yang menghimpit dadanya. Melihat Indri rapuh membuat Fyth tak tega, diusapnya perlahan punggung Indri.


Diam tanpa kata, hanya itu yang dapat Fyth lakukan saat ini. Bahkan setelah melepas pelukannya Indri masih saja menangis sesenggukan membuat Fyth terheran.


"Gue tahu lue terluka, gue juga minta maaf atas nama sepupu gue ya Ndri," ujar Fyth sendu.


"Gue gak papa bontot, tapi..." Indri semakin mengencangkan tangisannya.


"Hey gethuk lindri, Kenapa makin kenceng nangisnya sih." Panik Fyth.

__ADS_1


"Sakit bontot, sakit..." Ucap Indri semakin terisak.


"Iya gue tahu hati lue pasti sakit banget,"


"Bukan itu, bukan," Indri menggelengkan kepalanya.


"Terus apanya yang sakit? Badan lue demam?" Fyth menyentuh kening Indri. "Nggak panas Ndri," lanjut Fyth heran.


"Kaki gue yang sakit bontot, lue nginjak kaki gue pake heels lue." Kesal Indri dengan mencubit lengan Fyth.


"Aduh, eh, sorry gue gak tahu Ndri," kekeh Fyth. Sementara Indri mencebikkan bibirnya sembari memijat jemari kakinya.


Sedangkan di Jakarta, Sammy menjemput Cieciez untuk mengajaknya makan malam. Sammy menunggu di ruang tamu seorang diri karena kedua orang tua Cieciez pergi ke Bali untuk menghadiri acara keluarga Pratama. Cieciez sendiri telah mengenalkan Sammy beserta keluarganya kepada kedua orang tuanya, bahkan kedua orang tua mereka berdua sudah sepakat untuk melangsungkan acara pertunangan satu bulan lagi.


Baik Sammy maupun Cieciez tidak keberatan sama sekali akan keputusan kedua orang tua masing-masing. Bahkan menyambut dengan antusias permintaan kedua orang tua mereka.


Siang hari setelah makan siang bersama, Cieciez memberanikan diri untuk berbicara kepada kedua orangtuanya. Awalnya ragu bahkan takut jika Ayah dan Bundanya akan menolak, namun dugaan Cieciez salah besar, Ayah dan Bundanya setuju dengan kedatangan Sammy dan keluarganya.


"Ayah, bunda, ada yang ingin Cieciez sampaikan," ucap Cieciez ragu.


"Ada apa sayang, coba katakan." Ujar Bunda Isabel lembut sembari mengusap tangan Cieciez. Sementara Ayah Darwin masih diam memperhatikan apa yang akan disampaikan oleh putrinya itu.


"Em, Cieciez mengenal seseorang Ayah, Bunda. Namanya Sammy, tepatnya Sammy Prayoga Arkhan yah, bun." Jelas Cieciez malu-malu. "Nanti malam, Sammy dan keluarganya akan datang kemari. Apakah Ayah dan Bunda mengijinkannya?" tanya Cieciez sedikit menundukkan kepalanya karena takut.


Sontak Ayah Darwin dan Bunda Isabel saling pandang mendengar penuturan putrinya. Melihat tiada jawaban dari kedua orang tuanya membuat Cieciez bersedih, dalam benaknya berfikir apakah Ayah dan Bundanya tidak menyetujuinya? Cieciez semakin menundukkan kepalanya kecewa.

__ADS_1


Untuk sesaat suasana hening melanda, ketiganya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga Ayah Darwin membuka suara, memecah keheningan.


"Katakan padanya, ayah menunggu kedatangannya." Setelah berkata demikian, Ayah Darwin berlalu meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


Mendengar persetujuan dari Ayahnya membuat Cieciez senang bukan kepalang. Cieciez berdiri menuju Bundanya kemudian memeluknya erat seraya berterima kasih.


"Terima kasih Bunda," ucap Cieciez seraya mencium pipi Bunda Isabel.


Bunda Isabel tersenyum, lalu mengusap tangan putrinya dengan lembut seraya berkata, "Berterima kasihlah kepada Ayah nak,"


"Tentu Bunda." Cieciez semakin mengeratkan pelukannya.


Ayah Darwin begitu sampai di kamarnya sontak mengembuskan napasnya, di pijat keningnya perlahan sembari berjalan menuju sisi ranjang dan mendudukkan tubuhnya.


"Aku harus menghubungi Bryan dan menolak segera semua tawarannya. Melihat kebahagiaan di wajah Cieciez membuatku tak sanggup mengecewakannya, walau bukan putri kandungku biarkan aku ikut membahagiakannya." Tanpa banyak kata Ayah Darwin segera meraih ponselnya di saku celana dan menghubungi Bryan segera untuk membatalkan segalanya. Beruntung Bryan menyetujui tanpa banyak kata, karena Bryan sendiri telah di jodohkan oleh kedua orang tuanya juga.


Flashback off


Dengan langkah perlahan Cieciez menuruni anak tangga menuju ruang tamu. Penampilan Cieciez yang sederhana namun elegan membuatnya terlihat begitu cantik natural. Sammy yang tidak menyadari kedatangan Cieciez masih sibuk dengan ponselnya untuk mengecek tugas kampusnya.


Merasa di abaikan, Cieciez sontak berdehem membuat Sammy mengalihkan pandangannya dari ponsel segera. Terpesona, itulah yang terjadi pada Sammy, tanpa berkelip memandang ke arah Cieciez.


Mendapat tatapan intens seperti itu, Cieciez menjadi salah tingkah bahkan kedua pipinya merona. Cantik, gumam Sammy pelan namun tertangkap oleh telinga Cieciez sehingga semakin merona saja kedua pipinya.


"Apa kita akan berangkat sekarang?" Tanya Cieciez menyadarkan lamunan Sammy.

__ADS_1


"Em, ayo kita berangkat," Sammy menggandeng tangan Cieciez keluar dari mansion menuju mobilnya untuk makan malam romantis berdua.


__ADS_2