
Tama memasuki mansion megah keluarga Pratama, dan memarkirkan mobilnya ke dalam garasi. Malam ini ia akan menginap di mansion.
Tanpa mengetuk pintu Tama langsung saja masuk ke dalam mansion dan mendapati Om dan Tantenya berada di ruang keluarga menonton televisi berdua.
"Assalamualaikum om, Tante," Tama menyalami tangan Daddy Barack dan Mommy Nathalie bergantian.
"Waalaikum salam tam," jawab Daddy Barack dan Mommy Nathalie bersamaan. "Tumben kemari tam? Ada apa?" Lanjut Daddy Barack.
"Kangen om, kan Tama jarang kemari," cengirnya.
"Gaya kamu tam, pasti ada hal lain." Tohok Daddy Barack.
"Hehehe tahu aja om, lagi ada perlu sama bontot om, tante." Tama mendudukkan tubuhnya berseberangan dengan Daddy Barack dan Mommy Nathalie.
"Perlu apa? Si bontot belom pulang Tam," ujar Mommy Nathalie.
"Tumben, kemana Tan?" tanya Tama heran.
"Pergi sama Davin. Kamu nginap sini kan?", Mommy Nathalie berlalu menuju dapur untuk mengambilkan Tama minuman sekaligus membawa camilan.
"Nginap kok Tan, om nonton bola dong," ajak Tama beralih duduk di sebelah Daddy Barack.
"Boleh, ada MU vs Barcelona, pilih dukung siapa?" Daddy Barack mengganti chanelnya ke pertandingan sepakbola.
"Barcelona dong, om sendiri?" Tama bertanya sembari memakan kacang yang di atas meja.
"Tentu saja dukung yang akan menang nanti." ucap Daddy Barack yang mendapat protes dari Tama secara langsung.
"Mana bisa gitu om, pilih satu dong om", sungut Tama.
"Ya udah, om pilih tante kamu aja." Daddy Barack berlalu meninggalkan Tama menuju kamarnya menemui Mommy Nathalie.
__ADS_1
Mulut Tama menganga lebar mendengar jawaban nyeleneh Daddy Barack. " Nggak anak nggak bapak sama aja nyebelin," gerutu Tama.
Tak ingin ambil pusing Tama lebih fokus menonton pertandingan sepakbola sambil menunggu kedua sepupunya pulang.
Sementara Fyth dan Davin terpaksa menghentikan laju kendaraannya di rest area saat merasa satu ban mobilnya kempes. Davin segera memeriksa keadaan ban mobilnya yang kempes, lalu beralih ke bagasi untuk melihat apakah ada ban serep di dalamnya. Untunglah ada 2 ban serep yang di taruh mang Udin di bagasi mobilnya.
Karena bosan, Fyth pun ikut turun untuk memeriksa. Melihat Davin mengeluarkan ban serepnya, Fyth berinisiatif membantu dengan mengambil alat-alat untuk mengganti ban mobil.
"Sayang jangan, nanti kamu kelelahan," tegur Davin yang melihat Fyth kesusahan mengeluarkan dongkrak mobilnya.
"Kenapa ini berat sekali sih, yank aku mau bantuin nggak akan kelelahan oke." Bujuk Fyth sembari menyeret dongkrak mobil dengan sisa kekuatannya.
"Biar aku yang angkat yank," Davin mengambil alih dongkrak mobil dari Fyth, lalu segera memasang pada mobilnya.
Diperhatikan Davin lamat-lamat, disaat seperti ini mengapa dirinya terlihat sangat sexy. Tubuh atletis dengan kemeja tergulung sampai batas siku, dua kancing yang terbuka, keringat yang menetes bebas dari pelipis serta rahangnya menambah nilai ketampanannya.
Oh tidak, khayalan nakal mulai membayangi pikiran Fyth. Bagaimana jika tubuh sexy itu berada di atasnya, bagaimana rasanya dihimpit oleh tubuh kekar itu. Astaga, Fyth menggelengkan kepalanya berkali-kali guna mengusir pikiran kotornya.
Sesekali Davin menoleh ke arah Fyth untuk memastikan jika gadisnya tetap berada di tempatnya. Melihat Fyth bermain ponsel seraya menguap sesekali membuat Davin merasa bersalah. Dengan gerakan cepat Davin segera menyelesaikan proses mengganti ban mobilnya. Bahkan Davin tak menyadari jika Fyth sudah berada di sampingnya, memperhatikan setiap gerakannya.
Fyth merogoh sakunya mengambil tisu, dengan perlahan di usapnya keringat yang membasahi kening Davin. "Apa kau membutuhkan bantuan yank?" tanya Fyth.
Terkejut, itulah yang Davin rasakan saat ada yang mengelap keringatnya tiba-tiba. Melihat jika sang pujaan yang melakukannya, Davin tersenyum. "No sayang, cukup duduk di situ oke. Aku akan segera menyelesaikannya, tinggal satu kunci lagi." tolak Davin seraya memasang kunci terakhir pada ban mobilnya.
"Baiklah," alih-alih mendengar ucapan calon suaminya, justru Fyth memilih membereskan sisa-sisa alat yang berserakan.
Di regangkan ototnya, Davin menoleh ke arah Fyth yang sedang membereskan alat-alat yang telah ia gunakan tadi. Dalam hati Davin mengagumi sikap Fyth, tanpa di suruh pun berinisiatif melakukannya.
"Sayang, masuklah ke dalam mobil biar sisanya aku bereskan," pinta Davin yang mendapat penolakan dari Fyth.
"No, kita bereskan bersama yank. Setelah itu kita pergi dari sini." Fyth memasukkan perkakas yang dikumpulkannya ke dalam bagasi mobil. Lalu di susul Davin yang meletakkan ban mobilnya yang kempes tadi.
__ADS_1
"Minum dulu yank," Fyth menyodorkan satu botol air mineral kepada Davin. "Sisanya buat cuci tangan kamu yank." lanjutnya.
Davin mengangguk mengikuti perkataan Fyth, di tegaknya sebagian untuk menghilangkan dahaganya. Lalu beralih mencuci tangannya dengan sisa air yang diminum.
"Sudah, ayo kita jalan lagi," ajak Davin yang di tanggapi anggukan oleh Fyth.
Berbeda dengan Raffa dan Anila yang telah sampai di mansion Nugraha. Baik Anila maupun Raffa merasa enggan untuk berpisah. Jemari keduanya saling bertautan, mata saling mengunci satu sama lain.
"Aku akan masuk ke dalam dulu Raf," ucap Anila begitu tersadar.
"Masuklah, ingat langsung beristirahat." peringat Raffa yang di tanggapi anggukan Anila. Baru akan membuka pintu, Raffa menarik Anila ke dalam pelukannya.
"Ingat baby, persiapkan dirimu untuk nanti." Ucap Raffa penuh dengan misteri.
"Persiapan?", Anila mengurai pelukan Raffa. Namun Raffa bukan menjawab justru mencium kening Anila, seraya mengucapkan selamat malam.
" Selamat malam baby, jangan lupa mimpikan diriku," ucap Raffa seraya mengerlingkan satu matanya.
Mendengar godaan Raffa membuat kedua pipi Anila merona, " Emm... selamat malam Raf." Anila keluar dari dalam mobil Raffa lalu berlari memasuki mansion. Raffa begitu gemas melihat Anila yang malu-malu.
Raffa melajukan mobilnya menuju mansion Daddy Barack, hari ini ia akan menginap di mansion dan tidak pulang ke apartemennya. Dirinya harus segera menemui sang adik untuk meminta bantuan sekali lagi. Entah kali ini apalagi yang akan di minta si bontot padanya, namun apapun itu asal semua rencana berjalan lancar tak masalah baginya.
Setelah memasukkan mobilnya ke dalam garasi, Raffa segera memasuki mansion. Kening Raffa berkerut saat melihat lampu ruang keluarga masih menyala. Apa Daddy dan Mommy belum tidur, monolog Raffa dalam hati.
Raffa berjalan menuju ruang keluarga untuk menyapa kedua orangtuanya. Namun sayang, bukan mendapati kedua orang tuanya justru menemukan Tama yang tertidur pulas di sofa.
" Ngapain ini anak disini?" gumam Raffa.
Didekatinya Tama lalu tepuk pelan pipinya supaya bangun, "Tam, Tam, bangun lue," ucap Raffa.
Tama meregangkan badannya seraya menatap Raffa, lalu beranjak berdiri menuju kamar yang biasa di tempatnya. Raffa yang ditinggalkan Tama begitu saja sontak menggelengkan kepalanya. "Dasar sepupu kurang ajar," gumam Raffa seraya menaiki tangga menuju kamarnya.
__ADS_1