Se Anting

Se Anting
Bab 15


__ADS_3

Raffa memasuki mansion utama di mana para pelayan sudah berjajar menyambut kedatangannya. Raffa hanya melirik sekilas sapaan mereka tanpa berniat membalasnya. Raffa segera menaiki tangga menuju kamarnya. Walau di mansion di sediakan lift, namun Raffa lebih memilih menaiki tangga. Jika ditanya alasannya, maka Raffa akan menjawab " Hitung-hitung olahraga otot kaki ".


Raffa yang sudah sampai di kamarnya, segera menghempaskan tubuhnya di ranjang. Pikirannya kembali mengingat foto yang di tunjukkan Dimas kepadanya. Tanpa sadar Raffa mencengkram kuat selimut di ranjangnya. " Zian, akan ku ingat namamu. Sekali lagi kau menyentuh Anila-ku walau se inci pun. Ku pastikan tamat duniamu " monolognya dalam hati.


Hawa panas merasuki relung hati Raffa, rasa amarah menghujam pada diri menimbulkan sesak teramat di dada. Raffa bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi. Mungkin dengan mandi akan membuat pikirannya kembali jernih.


Dilepasnya jas juga kemeja, lalu melemparkannya ke dalam keranjang pakaian kotor dan menyisakan celana panjang di tubuhnya.


Raffa yang sudah bertelanjang dada mengurungkan niatnya untuk mandi. Raffa melakukan push up terlebih dahulu di samping ranjangnya, sebelum mengguyur tubuhnya dalam kamar mandi.


Tak lama Raffa menyudahi olahraganya, ia bangkit melepas celananya dan menyisakan celana pendeknya saja. Raffa yang sudah kegerahan segera berjalan menuju kamar mandinya.


Hanya butuh waktu 20 menit untuk Raffa menyelesaikan mandinya. Raffa sudah tak sabar untuk menjalankan rencananya, begitu keluar dari kamar mandi Raffa segera menuju walk in closet untuk berganti pakaian. Setelah itu menunggu sang adik pulang.


Kita beralih menuju Fyth...


Selama perjalanan menuju mansion- nya, Fyth masih saja mengerucutkan bibirnya. Fyth masih kesal dengan percobaan baju yang dilakukan tante Feni atas perintah sang mommy. Entah untuk apa semua baju itu. Mommy Nathalie yang melihat putri kesayangannya cemberut pun terkekeh. Di usapnya perlahan puncak kepala putri kesayangannya.


" Kau tahu sayang, ini adalah kado terindah selama mom hidup " ucap mommy Nathalie. " Karena putri mom akhirnya mau menuruti permintaan mommy " lanjut mommy Nathalie.


" Mom, buat apa baju sebanyak itu mom. Come on mom, aku gak suka pakai gaun mom " rengek Fyth kepada mommy Nathalie.


" Hay baby, itu baju buat di pakai di acara perjamuan besok malam sayang " kata mommy Nathalie seraya mengelus sayang pipi putrinya.


" But mom, itu kebanyakan " seru Fyth.


" No baby, baju di walk in closet semua sudah di ganti mengerti. Dan semua baju compang camping kamu udah mommy bakar. Saatnya kamu merubah penampilan kamu, mommy gak mau tahu lagi. Suka tidak suka kamu harus suka baby " Ucap mommy Nathalie penuh penekanan. Sudah waktunya bagi putriku untuk berubah, pikir mommy Nathalie.

__ADS_1


Fyth yang mendengar ucapan mommy Nathalie makin mengerucutkan bibirnya. Sungguh hati Fyth menangis mengetahui semua baju bar-bar kesayangannya lenyap sudah.


Sementara Indri yang baru sampai rumah dikejutkan dengan keberadaan Tama di kediamannya. Untuk apa dia disini, pikir Indri.


Indri berjalan menuju kedua orang tuanya untuk menyapa papi dan maminya. Sesekali matanya melirik ke arah Tama. Tentu saja hal itu diketahui oleh Tama. Seolah tak ingin membuang kesempatan, saat tatapan keduanya bertemu Tama justru dengan sengaja mengerlingkan satu matanya. Indri yang mendapatkan godaan dari Tama sontak membulatkan matanya.


" Sore pi, mi " Sapa Indri sembari mencium pipi papi Daniel dan mami Annete.


" Sore sayang " jawab mami Annete sedangkan papi Daniel hanya menganggukkan kepalanya.


" Hai Tam " sapa Indri pada Tama. " Sudah lama ? " Tanya Indri.


" Baru 20 menitan " jawab Tama. Indri hanya menganggukkan kepalanya.


Indri menoleh kedua orang tuanya untuk berpamitan ke kamar, tubuhnya sungguh lelah dan gerah. Indri ingin segera berendam dalam bathtub.


" Ya udah kamu mandi dulu, setelah itu kita makan malam bersama nanti " kata mami Annete. " Tidak apa-apa kan nak Tama jika ikut kita makan malam dahulu " tanya mami Annete beralih pada Tama.


Tama yang mendengar ajakan mami Annete merasa sangat senang sekali. Namun Tama menyembunyikan rasa senangnya di dalam sikap tenangnya. " Tentu, jika itu tidak merepotkan tante " jawab Tama dengan senyum tipisnya. Indri menatap Tama penuh arti.


" Tentu tidak nak " Ujar tante Annete. Papi Daniel yang melihat sikap Tama, tersenyum tipis. Papi Daniel mengerti jika Tama memiliki rasa pada putrinya. Namun, papi Daniel tak ingin ikut campur dalam urusan pasangan putrinya. Menurut papi Daniel, Indri sudah dewasa pasti bisa menjaga dirinya sendiri.


Indri yang sampai di dalam kamar segera merebahkan tubuhnya di ranjang. Tubuhnya terasa sangat lelah, hingga semakin lama matanya semakin memberat dan akhirnya tertidur pulas.


Di ruang tamu papi Daniel dan Tama terlihat berbincang sembari tertawa bersama. Keduanya terlihat seperti kawan lama yang tidak pernah berjumpa. Tama yang humble dapat mengimbangi dan manimpali ucapan papi Daniel dengan santai. Papi Daniel cukup senang berbincang-bincang dengan calon menantunya ini. ( Eh, Caman.... 🤭 )


Dikediaman Nugraha, Anila yang baru memasuki mansionnya merasa aneh. Sepi sekali pada kemana ini, pikirnya.

__ADS_1


Anika berniat menuju kamar kedua orangtuanya, namun mbok Pinem mencegahnya terlebih dahulu untuk tidak mengganggu tuan besar dan nyonya besar.


" Kenapa mbok ? " Tanya Anila curiga.


" Mbok tidak tahu non, cuma tadi sudah pesan sama mbok kalau non Anila pulang disuruh langsung ke kamar. Tuan dan nyonya sedang ada pembahasan penting, gitu non katanya. Besok juga kata nyonya akan ada orang salon yang datang buat make up non Anila " jawab mbok Pinem.


" Aku ? " Tunjuk Anila pada dirinya sendiri, " di make up mbok ? Buat apa ? " Lanjut Anila.


" Mbok mana tahu non, mau di nikahin kali non " ujar mbok Pinem seraya terkekeh.


" Ngawur mbok " kata Anila sembari menggelengkan kepalanya. Anila segera menuju kamarnya, meski banyak pertanyaan menghantui benaknya.


Didalam kamar, papa Abbas tengah bercerita kepada mama Alysa. Sungguh diluar dugaan jika tuan Barack, sahabat sekaligus teman bisnisnya ini akan melamar putri semata wayangnya untuk sang putra yang jelas papa Abbas tidak tahu seperti apa rupanya.


" Jadi pa, maksud papa besok di perjamuan putra tuan Barack akan melamar putri kita pa ? " Tanya mama Alysa yang terkejut mendengar penuturan suaminya.


" Iya ma, putra tuan Barack selama ini bekerja hanya bertemu dengan kolega luar negeri saja ma. Maka dari itu tak banyak yang tahu seperti apa rupanya ma. Rencana tuan Barack, beliau akan mengenalkan putra dan putrinya ke media massa ma " jawab papa Abbas.


" Bontot maksudnya pa ? " Tanya mama Alysa kembali, yang di jawab anggukan kepala oleh papa Abbas.


" Selama ini tidak ada yang tahu identitas asli dari Fyth ma, keluarga Pratama menyembunyikan dengan baik identitas anak-anak mereka ma. Menurut tuan Barack sudah saatnya dunia mengetahui rupa putra dan putri mereka ma " papar papa Abbas.


" Tapi bagaimana dengan Anila pa ? Mama takut dia tidak akan menerima semua ini pa " ucap mama Alysa dengan mata berkaca-kaca.


" Anila harus menerima ma, papa tahu mama pasti sedih. Tapi ini juga demi kebaikan Anila ma, percayalah pada papa " kata papa Abbas mencoba meyakinkan mama Alysa tentang keputusannya dalam menerima lamaran tersebut.


Papa Abbas bukanlah seorang ayah yang egois, entah mengapa, papa Abbas yakin jika putrinya akan bahagia jika bersanding dengan putra sahabatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2