
Di kediaman Nugraha, Anila tengah sarapan bersama kedua orang tuanya. Tak ada pembicaraan hanya suara denting alat makan bersahutan. Papa Abbas menyelesaikan sarapannya terlebih dahulu, dan menyuruh Anila menuju ruang kerjanya setelah selesai sarapan.
"Papa tunggu diruang kerja, segera selesaikan sarapanmu,nak." ucap Papa Abbas sebelum meninggalkan meja makan.
Anila mengalihkan pandangannya menuju sang mama, seolah berkata ada apa.
Mama Alya tersenyum menatap putrinya, dengan mengusap lembut punggung tangan Anila, berkata, "Kau akan tahu nanti, nak. Selesaikan makanmu dan temui papa segera."
Tanpa menjawab, Anila hanya menganggukkan kepalanya. Dalam benaknya berfikir, apa yang akan di bicarakan oleh sang papa padanya.
Diketuknya pintu ruangan papa Abbas, setelah mendapat sahutan dari dalam, Anila segera masuk.
"Papa, ada apa memanggil Anila? Ada hal penting yang mendesakkah pa?" Tanya Anila setelah mendudukkan diri di sofa, berhadapan langsung dengan sang papa.
"Nak, kapan rencana pernikahan kalian?" Papa Abbas menatap serius putri tunggalnya ini. Bukan tanpa alasan papa Abbas bertanya demikian, mengingat keduanya sering keluar bersama. Papa Abbas hanya tak ingin ada gunjingan negatif menimpa putrinya, sementara mereka belum resmi menikah.
"Kata Raffa minggu depan pa," Anila mengutarakan hasil pembicaraannya dengan Raffa saat berada di Bali tentang rencana pernikahan mereka. "Sebenarnya Raffa menginginkan 3 hari lagi pa, namun menurut Anila terlalu cepat. Apalagi kita perlu menyebar kartu undangan dan menyiapkan hal lainnya pa." Ujar Anila.
"Itu benar nak, jika demikian segera ambil cuti kuliahmu. Masalah persiapan biarkan papa dan mama yang mengurus segalanya."
"Rencana hari ini Anila akan mengajukan cuti untuk 2 minggu pa,"
__ADS_1
"Bagus, mengingat setelah menikah kalian pasti akan bulan madu dan membuatkan papa cucu." Papa Abbas tergelak sesaat.
"Ih papa," Anila tersipu malu mendengar godaan sang papa.
"Ingat nak, setelah menikah kau bukan lagi tanggung jawab papa. Namun kau tetap putri papa, jika Raffa tidak bisa membahagiakanmu maka pulanglah. Rumah papa terbuka untukmu, dan tangan papa ini yang akan memelukmu erat nak." Ucap papa Abbas dengan mata berkaca-kaca.
"Papa..." Anila menghamburkan ke pelukan sang papa seketika, hanya isak tangis yang terdengar dari keduanya.
Mama Alya tersenyum seraya mengusap air matanya mendengarkan pembicaraan suami dan putrinya dengan penuh kasih. Perlahan di putarnya knop pintu lalu masuk kedalam, bergabung dan bercengkerama bersama.
*
*
*
"Ada apa?" Tanya Fyth datar.
"Lapor Nona, di luar terlihat ada mobil mencurigakan yang mengawasi mansion sedari tadi." Ucap anak buah Raffa.
Kenapa gue ngerasa kayak lagi upacara ya, lihat cara nih orang ngasih laporan, pikir Fyth. Bukannya menjawab, justru Fyth berjalan menuju ruang cctv untuk melihat siapa yang berani mengintai mansion nya.
__ADS_1
Sesampai di ruang cctv, Fyth segera menyuruh membuka camera depan gerbang. "Kamera gerbang," singkat Fyth.
Paham yang diminta sang majikan, segera dibukanya kamera gerbang depan mansion. Fyth memperhatikan dengan seksama, hingga keningnya berkerut saat mengetahui siapa pemilik mobil pengintai itu.
"Om mesum!" gumam Fyth.
Tak lama sebuah mobil Pajero memasuki halaman mansion, sudah bisa di tebak siapa yang datang. Siapa lagi jika bukan Tama, karena hanya dia yang memakai mobil jenis itu. Melihat siapa yang datang, seketika otak cantik Fyth memiliki ide untuk mengerjai manusia mesum yang tak lain adalah Kaka sepupunya sendiri.
Dengan gerakan cepat Fyth keluar ruangan cctv untuk mencegat Tama lalu masuk ke dalam mobilnya. Senyum licik tersungging di bibir sexy-nya, setelah memastikan mobilnya keluar mansion terlebih dahulu, barulah Fyth menyuruh Tama untuk mengikuti mobilnya dari jarak jauh.
Benar saja dugaan Fyth, mobil Leon mengikuti mobilnya yang kini dikendarai oleh anak buah kakaknya. Sedangkan Tama dibuat heran dengan kelakuan si tengil yang menyuruhnya mengikuti mobilnya dari jarak jauh.
"Hei bontot, kau ini kenapa? Masak mengintai mobil sendiri, dan apa itu.. kenapa mobilmu di bawa anak buah kak Raffa? Dan siapa yang mengikuti mobilmu itu?" Tanya Tama beruntun.
"Berisik!" Sentak Fyth yang tetap mengamati mobilnya dari jauh.
"Wah, ngajak gelud kau rupanya. Kau lupa siapa yang menjadi supir dadakanmu saat ini." Kesal Tama.
Melihat Tama kesal, Fyth terkekeh. Benar saja, karena dia telah membuat sepupunya itu menjadi supir dadakannya.
"Aduh Timi, kau perhatikan baik-baik itu mobil yang mengikuti mobilku. Lihat saja, setelah ini mobil itu akan menyalip mobilku dan mencegatnya." Tebak Fyth.
__ADS_1
Tama mengikuti arahan si tengil, diperhatikan mobil itu. Benar saja, apa yang dikatakan sepupunya itu terjadi. Tama menganga melihat sosok yang keluar dari dalam mobil Lamborghini hitam itu.
"Dia...