
Acara hampir selesai, Raffa dan Anila yang cukup kelelahan menyalami banyak tamu undangan segera pamit terlebih dahulu kepada kedua orang tua mereka beserta lainnya.
"Dad, mom, pa, ma, kita izin istirahat terlebih dahulu ya. Anila pasti kelelahan sedari tadi berdiri terus," ucap Raffa yang di angguki oleh para orang tua.
"Ku kira udah nggak sabar anuh," sahut Tama.
"Udah yakin landasan aman kagak ada blokade," timpal Davin.
"Ntar pesawatnya mogok lagi," imbuh Leon.
"Nil, ops! Kakak ipar deh.. hehehe. Aku ada hadiah spesial, udah ada di kamar ya." Sela Fyth seraya mengerlingkan matanya.
Mendengar godaan sepupu Raffa membuat Anila tertunduk malu, apalagi godaan Fyth yang memanggilnya dengan sebutan kakak ipar. Sebenarnya ia cukup penasaran dengan hadiah yang di berikan adik iparnya itu.
"Hadiah apa? Gaun tempur?" Kata Indri semakin membuat pipi Anila merona.
"Ada deh, di jamin bikin kakak gue bakal terpanah dan puyeng pastinya." Fyth cekikikan membayangkan bagaimana muka Raffa nantinya.
"Bikin penasaran," ucap Indri, Leon dan Tama kompak. Sementara Davin hanya tersenyum tipis, ia sudah tahu hadiahnya karena dirinya ikut andil.
"Udah deh, kalian bikin istri gue malu aja. Yuk sayang kita istirahat," Raffa menarik tangan Anila untuk mengikuti langkahnya. Yang lain hanya mencibir kelakuan Raffa. Sedangkan Para orang tua hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan putra putri mereka.
__ADS_1
*
*
*
Ceklek!
Begitu Raffa membuka pintu kamar pengantin, Anila mencium aroma semerbak mawar begitu kental walau keadaan kamar masih gelap. Perlahan Raffa menarik tangan Anila masuk dan menutup pintunya.
Raffa kembali menempelkan kartu aksesnya untuk menyalakan semua lampu. Saat lampu menyala, Anila di buat takjub dengan hiasan kamar pengantinnya. Binar kebahagiaan tercetak jelas di wajah Anila, perlahan ia berkeliling melihat isi kamarnya sekaligus mencari hadiah spesial yang telah di berikan oleh adik iparnya itu. Ia cukup penasaran dengan isinya.
"Kalau begitu... " Raffa tak melanjutkan perkataannya, ia mengecup bahu Anila perlahan.
Sementara Anila merasakan gelenyar aneh pada dirinya, saat benda kenyal itu menciumi bahunya. Ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini, ia cukup menikmati apa yang di lakukan Raffa.
Puas dengan bahu, kini Raffa membalikkan badan Anila untuk menghadapnya. Pandangan keduanya saling mengunci, entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kedua bibir telah beradu saling memagut dan menyesap satu sama lain, bertukar saliva bahkan lidah keduanya saling membelit.
"Emmhh," erang Anila, semakin membuat Raffa terpacu.
Ciuman Raffa turun ke leher, dan meninggalkan beberapa tanda cinta di sana. Untuk sesaat Raffa melepas cumbuannya dan melihat hasil karya cinta pada leher Anila. Ia tersenyum puas, baru saja ia akan memagut kembali bibir yang membuatnya candu, terdengar suara notifikasi pada ponselnya.
__ADS_1
Raffa menggeram, siapa yang berani mengganggu aktivitasnya. Ia merogoh kantung celananya untuk melihat isi pesan pada ponselnya. Sesaat Raffa mengerutkan keningnya membaca pesan dari adiknya.
"Kak, jangan lupa beritahu kakak ipar untuk membuka hadiahku. Penting!, Dan jangan melakukan apa-apa dulu sebelum hadiah dariku ketemu."
Begitulah isi pesan dari adiknya, dengan segera Raffa mencari hadiah dari adiknya. Ia cukup penasaran dengan isi hadiahnya, hingga menganggu acara lepas landas pesawatnya.
Di atas ranjang, Anila dibuat heran dengan tingkah Raffa yang mencari sesuatu. "Sayang, kamu lagi nyari apa?"
"Nah ketemu," kata Raffa senang, "Hadiah dari bontot buat kamu." Raffa mendudukkan dirinya disamping ranjang, Anila bergerak mendekati Raffa karena ia juga cukup penasaran.
Dengan penuh semangat Raffa merobek bungkusan hadiahnya, ternyata ada bungkus lagi. Dirobeknya lagi, masih ada pembungkus lagi. Sudah bungkus kelima, lagi-lagi masih ada pembungkusnya. Raffa menggeram kesal, "Dasar adik laknat, hadiah apa sebenarnya hingga bungkusnya berlapis-lapis seperti ini."
"Sabar sayang, sini biar aku yang buka" tawar Anila yang langsung di tolak oleh Raffa.
"Tidak sayang, ini terakhir aku menyobeknya. Jika masih ada pembungkus lagi, aku buang ini hadiah ke tempat sampah." Raffa sudah sebal setengah mati, mengganggu saja, pikirnya.
Bungkus terakhir tersobek, Raffa beserta Anila membulatkan matanya melihat isi hadiah yang di berikan oleh Fyth. "Ini," Anila menutup kedua mulutnya tak percaya.
Sementara Raffa berteriak kesal, "Bontot.......!"
Hayoo, apa kira-kira hadiahnya ?? ðŸ¤
__ADS_1