
Satu Minggu berlalu, Fyth sudah kembali pada aktivitas normalnya. Kuliah, jalan-jalan, nongkrong bersama kedua sahabatnya, atau hanya tiduran di ranjang empuknya seharian.
Kini dirinya sedang berdiri di depan cermin untuk melihat penampilannya, kaos oblong warna putih beserta celana jeans selutut ditambah jaket bombernya lalu rambut yang di cepol asal. Sempurna, pikir Fyth.
Fyth berjalan menuju laci di samping ranjang. Diambilnya kunci motor lalu menyambar tas selempang kecilnya diatas ranjang.
Saat akan keluar dari kamarnya, Fyth mengingat kotak pemberian dari Davin. Entah dorongan dari mana, Fyth berjalan menuju walk in closet untuk mengambilnya.
Dipandangnya lekat kotak cincin itu, untuk sesaat dirinya ragu. Apakah harus memakainya? Atau justru dibiarkan begitu saja?
Butuh beberapa menit untuk Fyth menimbang-nimbang. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk memakai cincin pemberian dari Davin.
Sehari sebelum kepulangannya dari rumah sakit, Davin memberikan sebuah cincin sebagai pengikat hubungan mereka. Davin ingin semua tahu bahwa gadis tengilnya ini sudah ada yang punya.
Diperhatikan cincin mungil yang kini tersemat di jari manisnya. Seutas senyum kecil tersungging di bibir mungilnya, calon istri ya, monolognya pada diri sendiri.
Membelah jalanan kota yang ramai dengan segala kemacetan tiada habisnya, membuat Fyth enggan memakai mobilnya. Menurutnya, jika menggunakan mobil kita harus antri sedangkan menggunakan motor kita bisa selip kanan dan kiri.
Dengan kecepatan sedang, Fyth mengendarai motornya perlahan, menikmati setiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
"Inilah nikmat yang sesungguhnya," ungkap Fyth dengan senyum sejuta pesonanya.
Fyth membelokkan motornya memasuki kawasan cafe dan memarkirkan motornya. Belum sempat Fyth turun dari motor, nampak sebuah mobil yang cukup di kenalinya memasuki cafe.
"Mobil si Sam bukan?" Tanya pada dirinya sendiri.
Sang empu mobil memarkirkan kendaraannya tak jauh dari tempat Fyth berada. Tak lama Sammy keluar dari dalam mobil dan memutar membuka pintu sampingnya.
__ADS_1
Saat pintu terbuka, turunlah seorang gadis berparas cantik. Fyth mengerutkan keningnya, ia seperti mengenali sosok gadis itu.
Sammy menutup kembali pintu mobilnya, lalu menggenggam tangan Cieciez memasuki cafe.
"Terima kasih Sam" melihat tangannya di genggam dengan lembut membuat Cieciez merona.
"Tak perlu sungkan Ciez," ujar Sammy dengan senyum ramahnya.
Sammy dan Cieciez memilih meja tak jauh dari tempat Fyth dan dua sahabatnya berada.
"Mau pesan apa?" tanya Sammy sembari memperhatikan Cieciez membolak-balikkan buku menu.
"Saya pesan Risotto dan jus melon ya mbak," Cieciez lalu mengarahkan pandangannya pada Sammy, "Kamu mau pesan apa Sam?"
"Samakan saja denganmu." Jawab Sammy seraya tersenyum manis.
"Jadi? Kali ini tujuan camping kemana?" Tanya Anila mengawali pembicaraan mereka.
"Puncak, sepertinya." Jawab Fyth sambil memasukkan brownies kedalam mulutnya.
"Kalau ke puncak pasti sejuk. Sudah dipersiapkan semua, ya?" timpal Indri.
"Belum" Anila dan Fyth menjawab bersamaan.
"Mager." Singkat Fyth.
"Sama." Timpal Anila.
__ADS_1
Indri yang mendengar jawaban kedua sahabatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tak sengaja Indri menatap jari manis Fyth yang terdapat sebuah cincin.
"Woah, cincin baru ya?" Sembari menarik tangan Fyth ke tengah meja.
"Eh iya nih" heboh Anila.
"Dari?" Tanya Anila dan Indri bersamaan.
"Dolphin" jawab Fyth dengan wajah bersemu merah.
"Dolphin?" Lagi-lagi Anila dan Indri bertanya bersamaan, membuat Fyth tertawa terbahak-bahak.
"Ciee... Serasi nih ye!" Goda Fyth pada kedua sahabatnya.
"Gundul-mu" jawab mereka kompak seraya mendengus kesal. Hal itu justru mengundang gelak tawa Fyth.
Sammy yang letak mejanya bersebrangan dengan Fyth, menolehkan pandangannya saat mendengar suara tawa Fyth.
"Fyth," lirih Sammy.
Cieciez yang mendengar Sammy menyebut nama gadis lain sontak menolehkan wajahnya mengikuti arah pandang Sammy.
Dipertajam pandangannya, tak lama senyum Cieciez merekah. Rupanya kakak sepupu jauhnya ada di sini juga. Baru Cieciez akan menyapa, Sammy mengajaknya untuk meninggalkan cafe segera.
Cieciez merasa heran dengan sikap Sammy, mengapa kini berubah menjadi pendiam setelah bertemu dengan kakak sepupunya itu. Ingin dirinya bertanya, namun takut jika Sammy akan marah karena terlalu mencampuri urusannya. Namum, disisi lain ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi.
Kalut membayang dalam benak Cieciez, di alihkan pandangannya menatap ke luar jendela. Semakin ia memikirkan semakin pula kebingungan melanda dalam dirinya.
__ADS_1
Berbeda dengan apa yang di pikirkan Sammy, justru ia tak mengerti dengan perasaannya. Mengapa saat melihat Fyth tidak ada getaran apapun dalam hatinya. Lain halnya jika bersama Cieciez, saat menggenggam tangannya saat di cafe hatinya berdebar seperti sedang lari maraton. Apakah selama ini hanya perasaan kagum saja yang kurasakan pada Fyth? bukan cinta?, pikirnya.