
Sammy memutar ponselnya ragu, hati menginginkan untuk menghubungi Cieciez namun logika seolah berkata jangan. Rasa bimbang mulai menghantuinya, bagaimana jika pendekatan yang dilakukan gagal. Apakah kebersamaan singkat yang akan dirasakannya.
Tidak, dibanding itu rasa takut kehilangan lebih menakutkan. Untuk memastikan perasaan yang dirasakan bukankah seseorang harus berani mengambil resiko. Jika berakhir memiliki maka itu baik, begitupun sebaliknya, jika harus kehilangan maka harus merelakan bukan.
Dengan tekad bulat Sammy menekan nomor Cieciez. Lama tersambung namun tak jua terjawab, dua kali, tiga kali, Sammy tak menyerah. Memasuki panggilan ke lima Cieciez baru menjawab. Ada perasaan lega dihati Sammy, ia takut jika Cieciez menghindar darinya.
"Assalamualaikum ciez," sapa Sammy begitu sambungan terhubung.
"Waalaikum salam Sam, ada apa? Maaf baru tahu jika kamu menelfon. Aku dari taman belakang, ponselku tertinggal di kamar." Jelas Cieciez.
"Tak apa ciez, emm... Sore ini apa kau sibuk?" Di ujung sana Sammy kebingungan mau bicara apa pada Cieciez.
"Kurasa tidak, ada apa?"
"Mau jalan-jalan sore bersamaku, em... Kita nonton atau pergi ke makan di cafe? Apapun yang kau inginkan." Ajak Sammy.
"Bisa, aku hubungi kembali nanti. Em, apa kau akan menjemput?", Cieciez ragu, apa Sammy mau menjemputnya ? Atau justru...
"Tentu aku akan menjemputmu, honey." Sontak ucapan Sammy membuat kedua pipi Cieciez merona. Meski tak kelihatan namun Cieciez merasakan hawa hangat mengalir pada hatinya.
"Ba... Baik Sam, aku akan menunggumu." Cieciez segera memutuskan sambungan teleponnya, sungguh hatinya berdegup sangat kencang sekali.
"Oh god, apa ini yang disebut falling in love" senyum tak pudar dibibir mungil Cieciez. Hatinya begitu bahagia, dalam hati berdoa semoga kelak mereka dipersatukan.
Lain Cieciez lain pula pada sammy, mendengar Cieciez menyetujui ajakannya. Sammy mulai mencoba berbagai model pakaian, semua dikeluarkannya.
"Tidak ada yang pas," kesal Sammy.
Tak kehabisan akal, Sammy menghubungi Fyth untuk meminta bantuannya memilih pakaian yang cocok. Sudah lima kali Sammy mencoba menghubunginya namun tak kunjung terjawab pula.
"Kemana anak ini, ya ampun Fyth angkat dong." Sungut Sammy.
__ADS_1
Sementara di ujung sana, Fyth sedang menikmati senja bersama Davin berdua. Berada dalam dekapan hangat Davin membuat Fyth enggan melepasnya.
"Ayo kita kembali," ajak Davin yang ditanggapi Fyth dengan gelengan kepala. Rasanya tak ingin suasana romantis ini berakhir begitu saja.
"Kita bisa kesini kapanpun, hem." Bujuk Davin.
"Kau tahu Dav, untuk pertama kalinya aku merasa sebahagia ini. Rasanya aku tak rela jika ini berakhir begitu cepat," ungkap Fyth.
Fyth tak ingin menutupi apapun tentang perasaan yang di dirasakannya, rasa bahagia, rasa tak rela berpisah, rasa takut kehilangan semua diungkapkannya. Davin tersenyum mendengar celotehan pujaannya, karena apa yang dirasakannya, Davin juga merasakan.
"Baiklah, ayo kita pulang. Aku janji akan membawa kemari lagi lain kali." Davin mengurai dekapannya, lalu menuntun Fyth memasuki mobilnya.
Dalam perjalanan pulang tak henti-hentinya Davin menggenggam tangan Fyth. Sesekali mencium punggung tangan Fyth.
"Dav, fokuslah menyetir. Aku akan memutar music." Davin cemberut saat Fyth melepas genggamannya, namun mendengar Fyth memutar lagu cinta bahkan ikut bernyanyi membuat Davin tersenyum.
"Ayo kita bernyanyi bersama dav," ajak Fyth seraya menggenggam tangan Davin. Tanpa kata Davin mengikuti alunan musiknya.
"Indah bukan?" tanya Anila dengan berjalan mendekat ke arah pantai. Jemari kakinya yang menyentuh air, membuat tubuhnya meremang karena dingin.
Raffa mendekat dan memeluk Anila dari belakang, menghirup aroma tubuh gadisnya. Disandarkan kepalanya pada bahu Anila, membuat tubuh Anila kian menegang.
"Rileks baby," bisik Raffa lembut pada telinga Anila. Geli, itulah yang dirasakan Anila, namun tak dapat dipungkiri jika Anila menikmati setiap perlakuan lembut Raffa padanya.
"Raf, apakah kau mencintaiku?" Anila ingin tahu, benarkah Raffa mencintainya? Bukan karena terpaksa atau hal lainnya.
"Mengapa kau bertanya begitu baby, apakah selama ini perhatianku dan juga sikapku tidak membuatmu mengerti akan perasaanku?", Raffa membalikkan tubuh Anila untuk menghadapnya.
"Tatap mataku baby, apa aku terlihat berbohong dengan kesungguhan hatiku?", lanjutnya.
Anila menatap kedua mata Raffa mencoba mencari kebohongan di setiap ucapannya. Namun Anila tak menemukannya, hanya ada sebuah kejujuran dimatanya. Anila menubruk tubuh Raffa dan memeluknya erat, bahagia itulah yang dirasakan hatinya.
__ADS_1
"Terima kasih Raf, telah mencintaiku. Aku juga mencintaimu," ungkap Anila dengan mengeratkan pelukannya.
Mendengar ungkapan Anila membuat Raffa tersenyum lebar, di uraikan pelukan Anila. Lalu mengangkat wajah Anila untuk menatapnya, ia ingin mendengar sekali lagi.
"Katakan sekali lagi baby," pinta Raffa.
"Aku juga mencintaimu Raffandra Aura Pratama." Ungkap Anila sekali lagi.
Tak dipungkiri hati Raffa berbunga-bunga mendengar ungkapan perasaan Anila, Cintanya terbalas. "I love you sweet heart." Raffa menautkan bibirnya pada bibir Anila. Untuk pertama kalinya Raffa mencium Anila, dengan kebahagian yang membuncah dihatinya. Dua hati bersatu di bawah senja yang mengintip mereka malu-malu.
Raffa melepas ciumannya lalu menempelkan kening mereka. Jantung keduanya berdegup kencang, mencoba menyalurkan hasrat cinta pada hati mereka masing-masing.
"Sepertinya aku harus mempercepat pernikahan kita baby," ujar Raffa.
"Papaku takkan setuju Raf, papa ingin aku menyelesaikan kuliahku terlebih dahulu." ucap Anila pada Raffa.
"Serahkan padaku baby, aku tahu apa yang harus kulakukan." Raffa tersenyum miring. Dirinya berfikir, sudah saatnya kartu as ia keluarkan.
"Jangan melakukan hal aneh Raf," curiga Anila.
"No baby, tenang saja okey," Raffa memeluk erat Anila sebelum mengajaknya pulang. Akú harus meminta bantuan bontot dan mengajaknya bekerja sama kembali, ucap Raffa dalam hati.
🐿️🐿️
Tama membanting ponselnya dengan kasar ke ranjang, dirinya sangat kesal pada Indri. Berkali-kali ia menghubungi nomor Indri namun tak juga satupun tersambung. Ragu melanda hatinya, apakah Indri memiliki rasa yang sama sepertinya? atau justru tidak sama sekali.
Memikirkan semua itu membuat Tama frustasi sendiri. Sepertinya ia harus menemui sepupu tengilnya itu untuk meminta petunjuk. Seolah mendapatkan ide brilian, Tama bergegas mandi lalu pergi ke mansion Pratama.
Tama menempati apartemennya sendiri sejak orang tuanya memilih tinggal di luar negeri, sering kali mommy Nathalie membujuknya untuk tinggal di mansion Pratama namun dirinya menolak. Menurutnya hal itu akan membuat ia tidak bisa mandiri.
"Oke udah ganteng," puji Tama pada diri sendiri yang berdiri di depan cermin memperhatikan penampilannya. Diraihnya kunci mobil serta dompet di atas nakas samping ranjang tak lupa ponselnya, Tama bergegas meninggalkan apartemennya.
__ADS_1
"Demi masa depan, aku datang." Semangat Tama.