
Malam semakin larut, para tamu undangan mulai sepi sehingga Anila segera mendudukkan tubuhnya dengan memijat kaki yang sedari tadi kesemutan akibat berdiri terlalu lama. Tentu hal itu tak luput dari pandangan Raffa yang ada disebelahnya, perlahan Raffa menekuk kakinya sebelah lalu mengangkat kaki Anila pada tumpuan lututnya. Dengan perlahan Raffa mulai memijat kaki wanita yang sudah sah menjadi istrinya ini, bahkan wanita yang sangat ia cintai. Romantis sekali bukan, hal itu sontak mengundang tatapan kagum dari para tamu undangan yang masih berada di acara tersebut.
"Bukankah mereka sangat menggemaskan" bisik salah satu tamu undangan yang duduk tak jauh dari meja Daddy Barack dan keluarga.
"Iya, mereka sangat serasi dan romantis sekali." Jawab yang lainnya, dan tentu masih banyak lagi bisikan tetangga tentang pengantin baru itu.
Mendapat perlakuan manis dari suaminya membuat wajah Anila bersemu merah, apalagi saat tak sengaja menatap kedepan dan melihat beberapa tamu undangan yang menatap mereka berdua. Sontak hal itu membuatnya malu bahkan kini menundukkan kepalanya guna menyembunyikan pipinya yang merona. Namun hatinya cukup senang dengan perhatian yang Raffa berikan padanya.
Sementara Raffa menyadari hal itu, dirinya tahu jika saat ini sang istri sedang malu. Bahkan dengan jahilnya Raffa menggoda istrinya yang sedang menyembunyikan rona wajahnya saat ini. "Sayang, mengapa menunduk? Coba lihat suamimu yang super tampan ini", dengan isengnya Raffa memegang dagu Anila lalu mengangkat wajahnya untuk menatap dirinya.
Wajah Anila kini berhadapan dengan Raffa, melihat tatapan menggoda dari suaminya semakin menambah rona wajahnya. Anila berusaha menundukkan kepalanya kembali namun dengan cepat Raffa mencegahnya lalu mendekatkan wajahnya seraya berbisik lembut di telinga. "Sayang, tak perlu malu. Kau sangat cantik sekali, kapan pesawatku akan lepas landas ditempatnya?",
Blush,
Bisa dipastikan muka Anila saat ini mirip kepiting rebus, betapa malunya ia mendapat gombalan dari laki-laki yang notabennya adalah suaminya sendiri. Bahkan saat ini tubuhnya meremang saat Raffa mengelus kakinya dengan lembut dengan tatapan nakalnya.
"Omg, mataku ternodai sebelum waktunya." Ucap Fyth dengan menutup kedua mata dengan kedua tangannya dan mengagetkan keduanya. Sontak Anila yang terkejut menarik kakinya begitu saja, hingga tanpa sengaja heels-nya membentur pesawat milik Raffa.
"Argh," teriak Raffa yang merasakan pesawatnya tertusuk benda runcing di kaki istrinya.
__ADS_1
Mendengar teriakan dari kakaknya, Fyth yang semula menutup mata segera menurunkan tangannya lalu menatap sang kakak yang kini terduduk seraya merintih kesakitan di itunya.
Begitupun Anila yang kembali terkejut saat sang suami berteriak kesakitan, "Sayang kau tak apa? Maaf aku tak sengaja." Sesal Anila lalu membantu Raffa berdiri dan mendudukkan di kursi.
"Wow, pesawatmu okey kak?" Tanya Fyth sembari menahan tawanya.
"Ck!, Fythania Aurora Pratama." Geram Raffa menatap adiknya tajam, sementara Anila yang merasa bersalah segera mengajak Raffa masuk ke kamar hotel untuk beristirahat.
"Sayang sudah, ayo kita ke kamar." Ajak Anila seraya membantu Raffa berdiri, lalu memapahnya walau berat tubuh Raffa membuatnya mengeluarkan tenaga extra.
"Ck ck, kakak ipar tak sabar rupanya main lempar lembingnya." Goda Fyth yang melihat Anila dan Raffa menuruni tangga pelaminan.
"Sudahlah sayang, kau kan tahu seperti apa Fyth itu. Dia hanya bercanda, ayo kita ke kamar!" Raffa tak menggubris ucapan Anila karena merasakan ngilu pada pesawatnya. Sungguh si*al dirinya,
Dalam hati Raffa menggerutu, bukannya lepas landas malah keserempet pesawatnya. Ingin rasanya Raffa membuang semua heels didunia ini, kalau perlu menutup produksi sepatu ber-hak tinggi tersebut. "Sayang, demi sayangmu padaku! Jangan lagi kau pakai barang lucknut itu. Atau aku akan membuang lalu membakar mereka semua." Putus Raffa.
"Kau ini, mengapa heels yang kau salahkan. Lagipula si runcing tak sengaja menyentuh sedikit bukan?" Kesal Anila yang tak terima bila semua heels-nya akan dibuang bahkan lebih parahnya dibakar.
"Sedikit katamu?" Raffa membulatkan matanya, ayolah! jika hanya sedikit tak akan ngilu seperti ini bukan. "Sayang, jika hanya sedikit tak akan kesemutan sekarang." Gemasnya. Sementara Anila hanya menggelengkan kepalanya saja, tak menanggapi ucapan Raffa.
__ADS_1
Melihat anaknya dipapah oleh sang menantu, membuat kening Daddy Barack mengernyit. Kenapa jalan anaknya itu seperti orang selesai khitan,
"Ada apa?" Tanya Daddy Barack saat Anila sampai disamping meja tempat mertuanya duduk.
"Iya kenapa dengan suamimu nak? Apakah sedang tidak enak badan?" Imbuh Papa Abbas.
"Anu, itu... Émm....
"Hanya tak sengaja kebentur sedikit tadi." Sela Raffa.
"Kebentur?" Daddy Barack mengangkat sebelah alisnya ragu.
"Iya Dad, kebentur tadi" Anila tersenyum canggung. Namun hanya sesaat saja, karena tukang rusuh kembali datang dan membuatnya harus menahan malu.
"Kesenggol heels pesawatnya Dad," sahut Fyth dengan entengnya lalu berjalan melewati pasangan pengantin baru itu.
Hening,
Hingga suara tawa Davin menggema saat mendengar ucapan calon istrinya yang mengatakan pesawat tempur Raffa tertusuk heels. Bahkan dengan muka sebalnya menatap Raffa dengan pandangan mengejek ke arah sahabatnya itu. Tak hanya itu, yang lain pun sontak mengikuti tawa Davin dan berhasil membuat kedua pengantin baru itu menahan malu.
__ADS_1